Sabtu, 23 Maret 2013

MAKALAH AGAMA KRISTEN PROTESTAN (MENJADI ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH DAN FIRMAN-NYA)




MENJADI ORANG YANG TAAT KEPADA ALLAH DAN FIRMAN-NYA

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur, penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus, atas beerkat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah dengan judul ”MENJADI ORANG KRISTEN YANG TAAT KEPADA ALLAH DAN FIRMANNYA”.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kulia Pendidikan Agam Kristen Protestan dan mengajak orang kristen yang belum mengenal kasih Allah dan taat kepada firmanNya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak S. Siregar selaku Dosen mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan yang telah membibing penulis dalam menyelesaikan makalah ini, serta rekan-rekan yang turut serta membantu dan bekerja sama dalam menyusun buku ini.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penulis makalah ini masih terbatas dan jauh dari sempurna, hal ini disebabkan keterbatsan pengetahuan, pengalaman, dan waktu yang dimiliki. Namun demikian penulis telah berusaha dan bekerja keras supaya buku ini bermanfaat bagi penulis, dan bagi pembaca sekalian untuk menjadi orang kristen yang taat kepada Allah dan FirmanNya Tuhan
                                                                                                                         

BAB I
PENDAHULUAN
1.1                Latar Belakang Masalah
Seiring perkembangan peradaban dan banyaknya kejadian besar yang terjadi pada bangsa ini, maka akan semakin banyak pula tantangan yang muncul seiring dengan perkembangan zaman dan kemunculan kejadian besar tersebut.
Demonstrasi, konflik antara masyarakat, suku maupun etnis, dan kerusuhan senantiasa mewarnai zaman yang terus berkembang ini. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika dalam kehidupan masing-masing pribadi terjadi cobaan-cobaan yang tidak tersadari dan sebagai generasi muda, pengikut Kristus dituntut untuk “Menjadi Orang Kristen yang Taat Kepada Allah dan Firman-Nya” dan mengandalkan Tuhan dalam segala aktivitas atau setiap kegiatan. Karena, seberat apapun masalah atau sebesar apapun ganjalan dalam hati, jika manusia mengajak serta Tuhan Allah, percayalah, Dia akan hadir dan senantiasa membantu serta memberikan berkat dan rahmatNya.
Dalam karya tulis ini, pengikut Kristus dipanggil untuk taat kepada Allah yang telah menciptakan dirinya sehingga menjadi hamba layak di mataNya. Dan dalam segala problema dan rencana yang ada dalam kehidupan orang Kristen, Tuhan Allah akan selalu menyertai. Oleh karena itu sebagai orang Kristen yang taat harus selalu mengandalkan dan menjadikan Tuhan Yesus sebagai penuntun jalan hidupnya.

1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dibahas dalam karya tulis “Menjadi Orang Kristen yang Taat Kepada Allah dan FirmanNya” adalah :
1. Bagaimana hakekat manusia?
2. Sudah sejauh mana manusia mengerti Allah?
3. Bagaimana memiliki iman yang kuat dan tangguh?
4. Apa pentingnya lahir baru dan hidup baru?
5. Bagaimana cara memperoleh pertobatan dan pengubahan?
6. Apa yang dimaksud dengan hidup dipenuhi Roh Kudus?
7. Pengertian hidup di dalam kekudusan
8. Bagaimana menjadi orang Kristen yang taat kepada Allah dan firmanNya

1.3 Metode Penulisan
Penulisan karya tulis ini menggunakan metode penulisan kualitatif. Metode penulisan kualitatif adalah metode penulisan karya tulis dengan cara mengumpulkan data dari sumber-sumber yang ada seperti sumber dari internet.

1.4    Tujuan Penulisan

Karya tulis ini disusun dengan sistematika yang telah ada dengan tujuan sebagai berikut:
1. Untuk memenuhi tugas mayor Pendidikan Agama Kristen Protestan yang telah diberikan oleh dosen pembimbing dan pengajar mata kuliah Pendidikan Agama Kristen Protestan Bapak Drs. Sohuturon Siregar, M.A, M.T.
2. Sebagai bahan pembelajaran dan pedoman bagi mahasiswa-mahasiswi Kristen di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) agar dapat menjadi orang Kristen yang taat kepada Allah dan firmanNya.
3. Sebagai ilmu pengetahuan bagi seluruh masyarakat dalam kehidupan mereka agar mendapat hidup yang layak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus

1.5        Sistematika Penulisan
1.5.1        Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, metode penulisan, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.

1.5.2        Bab II Hakikat Manusia
Bab ini menjelaskan tentang penciptaan manusia, tujuan penciptaan manusia, hakikat manusia pada umumnya, hakikat manusia di dalam Alkitab, macam-macam manusia dalam Alkitab, asal dosa, dan akibat dosa.

1.5.3        Bab III Pengenalan akan Allah
Bab ini menjelaskan tentang siapakah Allah, sifat-sifat Allah, Allah Tritunggal, ajaran Alkitab mengenai Tritunggal, bukti Allah yang tritunggal, doktrin Allah Tritunggal, mengenal Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, dan nama-nama Allah dalam Alkitab

1.5.3        Bab IV Memiliki Iman yang Teguh dan Kokoh
Bab ini menjelaskan tentang pengertian Iman, bagaimana Iman dapat bertumbuh, ciri-ciri orang yang beriman, berani menghadapi tantangan hidup, bagaimana cara memiliki iman yang kokoh dan tangguh, tokoh Alkitab yang memiliki iman yang kokoh dan tangguh

1.5.4        Bab V Lahir Baru dan Hidup Baru
Bab ini menjelaskan tentang pengertian lahir baru, ciri-ciri manusia yang sudah lahir baru,  akibat/manfaat lahir baru, bukti-bukti lahir baru, pengertian hidup baru, tujuan hidup baru, kenikmatan hidup baru, cara menjalani hidup baru yang dilakoni orang yang sudah lahir baru, hasil lahir baru dan hidup baru.

1.5.5        Bab VI Pertobatan dan Pengubahan
Bab ini menjelaskan tentang pengertian dosa, akibat dari dosa, pengertian pertobatan, perwujudan pertobatan, ciri-ciri manusia yang telah bertobat, pertobatan yang menyelamatkan, manfaat pertobatan, pengertian pengubahan, ciri-ciri manusia yang sudah diubahkan.

1.5.6        Bab VII Hidup Didalam Kekudusan
Bab ini menjelaskan tentang kekudusan, pengertian hidup didalam kekudusan, manfaat hidup dalam kekudusan, tujuan hidup didalam kekudusan, ciri-ciri manusia yang hidup dalam kekudusan, hidup kudus didalam Tuhan

1.5.7        Bab VIII Hidup Dipenuhi Roh Kudus
Bab ini menjelaskan tentang pengertian Roh Kudus, pekerjaan Roh Kudus, peran Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, Roh Kudus dan doa, karunia Roh Kudus, alasan untuk hidup dipenuhi Roh Kudus, kondisi bila hidup tidak dipehuhi Roh Kudus, hasil dipenuhi Roh Kudus

1.5.8        Bab IX Menjadi Orang Kristen yang Taat Pada Allah dan FirmanNya
Bab ini menjelaskan tentang bagaimana cara mengetahui kehendak Allah, mengangkat hati dengan Firman Tuhan, wujud di dalam Yesus, bagaimana menjalani hidup Kristiani, dan tiga langkah dasar menjadi orang Kristen



BAB II
HAKIKAT MANUSIA
2.1        Penciptaan Manusia
Pada hari pertama sampai hari kelima Allah menciptakan bumi dan segala isinya (Kej. 1:1-25) lalu pada hari keenam (hari terakhir) Allah menciptakan manusia pertama (Kej. 1:25-26; Kej. 2:7) yaitu Adam. Dalam Kej. 2: 7 dituliskan bagaimana Allah menciptakan Adam “ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidupnya; demikianlah manusia itu hidup”. Allah menciptakan sebuah taman di Eden lalu menempatkan Adam di taman itu. Di taman itu Allah menciptakan pendampin Adam, yaitu Hawa. Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam yang diambil saat Adam tidur. Mereka menjadi sepasang suami-isteri.

2.2        Tujuan Penciptaan Manusia
Allah menciptakan bumi dan segala isinya pasti memiliki tujuan. Berikut ini beberapa tujuan diciptakannya manusia:
1. Supaya ada yang berkuasa atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara,ternak, seluruh bumi, dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi (Kej. 1:26)
2. Agar beranak cucu dan bertambah banyak untuk memenuhi bumi dan menaklukkan bumi (Kej. 1:28)

2.3        Karakteristik Manusia
Pada umumnya karakteristik manusia, yaitu:
1. Manusia memeliki tenaga dalam yang dapat menggerakan hidupnya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya;
2. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial;
3. Yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya;
4. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak pernah selesai (tuntas) selama hidupnya;
5. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati;
6. Suatu proses keberadaan yang berpotensi yang perwujudannya merupakan ketakterdugaan dengan potensi yang tak terbatas;
7. Makhkluk Tuhan yang berarti, manusia adalah makhkluk yang mengandung kemungkinan baik dan jahat;
8. Individu yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Terutama lingkungan sosial, bahkan ia tidak bisa berkembang sesuai dengan martabat kemanusiaannya tanpa hidup di dalam lingkungan sosial.


2.4       Macam-macam  Manusia Menurut Alkitab

1. Manusia Duniawi (orang yang tidak/belum menerima Mesias)
                         "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani." (I Korintus 2:14)

Orang yang dikuasai oleh diri sendiri
Si Aku bertahta dalam hidup
Mesias di luar kehidupan
Semua keinginan dikuasai oleh diri sendiri, berakhir dengan kekacauan dan kekecewaan.

2. Orang Kristen Rohani (Orang yang telah menerima Mesias dan yang mau
 dipimpin oleh Roh Kudus).
"Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain."  (I Korintus 2:15)
Orang yang dikuasai oleh Mesias
Mesias bertahta dalam hidup
Si Aku turun tahta
Semua keinginan dipimpin oleh Tuhan dan menghasilkan keserasian sesuai dengan rencana Tuhan.
3. Orang Kristen Yang Hidup Didalam Tabiab Duniawi (Orang yang telah menerima Mesias, tetapi tidak membiarkan Mesias menguasai hidupnya.)
"Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi yang belum dewasa dalam Mesias. Susulah yang kuberikan kepadamu bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Karena kamu masih manusia duniwi. Sebab jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (I Korintus 3:1-3)
Orang yang dikuasai oleh diri sendiri
Si Aku bertahta dalam hidup
Kristus turun tahta
Semua keinginan dikuasai oleh diri sendiri, berakhir dengan kekacauan.
Yang manakah di antara ketiga macam manusia itu, yang menggambarkan kehidupan saudara? Apakah saudara ingin menjadi seorang Kristen rohani, yang dipenuhi dan dikuasai oleh Roh Kudus sekarang ini juga?

2.5 Asal Dosa
Sayang beribu sayang, manusia pertama jatuh ke dalam dosa karena telah melanggar larangan Allah, yaitu untuk tidak memakan buah dari Pohon Pengetahuan. Perihal kejatuhan manusia ini dan konsekuensinya dapat dibaca di: “Kita Harus Menderita Karena Kutukan Allah.” Apa yang terjadi setelah manusia jatuh ke dalam dosa dan diusir dari Taman Eden oleh Allah?
Manusia kehilangan kemuliaannya dan tidak dapat bertatap muka lagi dengan Allah. Ini disimbolkan dengan pengusiran manusia dari Taman Eden (Kej 3:23). Hubungan Allah dengan manusia tidak dapat lagi dilakukan secara langsung. Manusia juga tidak dapat lagi secara langsung mencari dan berjumpa dengan Allah. Ya, itu karena manusia telah kehilangan kemuliaannya. Sudah ada penjaga dengan pedang menyala-nyala menjaga hadirat Allah dari manusia (3:24). Manusia sama sekali tidak dapat melewati gerbang ini.
Manusia memiliki ilmu pengetahuan dan memiliki kemampuan berkembang yang luar biasa karena buah dari Pohon Pengetahuan ini. Berbekal pengetahuan ini pulalah yang menyebabkan manusia ingin menyamai Allah dan bahkan tidak mengakui Allah dan penciptaan-Nya (Kej 3:22). Ingat teori Darwin yang menolak proses penciptaan Allah dalam 6 hari? Kalau tidak ingat, silakan baca teori Evolusi Darwin atau di “Benarkah Adam Manusia Pertama?
Manusia akan dilahirkan. Dan proses ini akan memberikan rasa sakit yang luar biasa bagi ibunya (Kej 3:16). Tidak ada lagi proses penciptaan manusia oleh Allah, semuanya harus melalui perkembangbiakan.
Manusia akan mengalami kesulitan dan harus bersusah payah dalam mencari kehidupan di dunia ini. Kesulitan ini karena Allah telah mengutuk dunia dengan semak duri dan rumput duri. Banyak sekali penggoda dan penjahat. Dengan itu pula manusia tidak akan merasakan enaknya hasil yang dia peroleh.
Manusia akan mati dan kembali menjadi debu (Kej 3:19). Manusia adalah debu dan akan kembali menjadi debu.
Iblis akan selalu menyesatkan manusia sehingga iblis dapat mengambil roh manusia (Kej 3:14). Manusia yang berhasil disesatkan akan menjadi pengikut iblis.
Adanya permusuhan abadi antara iblis dengan keturunan perempuan pertama. Permusuhan ini membuat keturunan perempuan (Yesus Kristus) sangat menderita dan wafat di dunia ini, tetapi sebenarnya iblislah yang dihancurkan kuasanya atas dunia ini (Kej 3:15). Dan iblis dan segala kekuatannya akan dihancurkan oleh Yesus Kristus pada akhir jaman (baca Kitab Wahyu).
Manusia telah kehilangan kemuliaannya dan telah terlepas dari Allah sehingga manusia harus hidup sendiri tanpa bimbingan langsung dari Allah. Syukurlah bahwa Allah tetap memberikan kasih-Nya bagi manusia. Allah telah membekali manusia dengan perlengkapan untuk hidup di dunia ini (Kej 3:21). Sepasang manusia pertama itu, yaitu Adam dan Hawa, termasuk sukses dalam kehidupannya di dunia ini. Mereka dapat hidup dan mencari makan dengan baik. Mereka dapat memiliki anak yang cukup banyak sehingga dapat membuat suatu bangsa yang cukup besar.
Sayangnya manusia selalu cenderung berbuat dosa (Kej 6:5). Bahkan keturunan pertama Adam telah melakukan pembunuhan (Kej 4:8). Banyak sekali kejahatan yang dilakukan oleh manusia generasi awal ini. Bahkan kejahatan yang mereka perbuat semakin jahat di Mata Allah yang mengakibatkan Allah sangat murka. Sampai akhirnya Allah harus menghapuskan generasi pertama manusia ini dengan air bah dan menyelamatkan Nuh dan menjadikannya bangsa baru (Kej 7-8). Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sejamannya dan dia bergaul dengan Allah (Kej 6:9). Sebelum Nuh ada seorang yang juga hidup bergaul dengan Allah, yaitu Henokh. Pada umurnya yang ke 365 tahun Henok diangkat Allah.
Walau pun demikian ternyata manusia tetap saja berdosa sehingga Allah menetapkan umur manusia maksimal 120 tahun saja (Kej 6:3). Sebagai catatan, Adam mati pada umur ke 930 tahun. Sedangkan Set, anak Adam yang lain mati saat berumur 912 tahun. Henokh diangkat Allah pada umur 365 tahun. Nuh mati saat berumur 950 tahun. Kebayangkan mengapa dari 1 orang bisa tercipta suatu bangsa yang besar? Dahulu setiap anak dari manusia generasi pertama akan menjadi suatu bangsa yang besar dan tersebar. Sayangnya bangsa yang besar ini selalu berbuat dosa.
2.6 Kasih Allah Kepada Manusia
Walau pun Allah telah mengusir manusia, tetapi Allah tetap menunjukkan kasih-Nya bagi orang-orang yang benar. Perjanjian-Nya pada manusia selalu dibuat atas dasar kasih. Syaratnya adalah setia kepada Allah dan berbuat kasih. Allah sejak dulu telah mengutus para nabi untuk mengembalikan manusia kepada jalan yang benar, yaitu jalan Allah. Tetapi sayangnya para nabipun tidak digubris, bahkan banyak yang dibunuh. Hingga akhirnya hadirlah Yesus Kristus ke dunia ini. Yesus Kristus telah merombak perjanjian Allah dengan suatu Perjanjian Baru yang kekal. Dan kasih Allah dituliskan langsung ke dalam sanubari manusia (Maz 37:31; Rom 2:15; Rom 5:5).
“Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka, maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” (Ibrani 8:10b; bdk Ibrani 10:16-15)

BAB III
MENGENAL ALLAH

3.1 MENGENAL dan BERGAUL DENGAN ALLAH
Kesenjangan antara iman dengan apa yang dialami, dirasakan, dan dihayati melalui simbol-simbol iman, barangkali merupakan salah satu masalah yang paling krusial dalam kehidupan umat kristiani. Banyak orang berasumsi bahwa apa yang dialami, dirasakan, dan dihayati melalui simbol-simbol iman adalah sesuatu yang secara implisit sudah merupakan pengalaman dan penghayatan iman itu sendiri.
Namun, asumsi ini adalah asumsi yang salah. Mengenal dan bergaul dengan Allah yang sejati tidak sama dengan pengalaman dan pengenalan akan “tradisi” agama (simbol-simbol iman) maupun pengalaman yang mengesankan dengan hal-hal yang supranatural. Pengalaman supranatural hanyalah sarana, bukan dasar. Dasar iman yang sejati adalah hakikat (noumena) Allah sendiri dan firmanNya. Jadi, orang Kristen yang sejati adalah orang Kristen yang mengenal dan bergaul dengan Allah yang sejati (hakikat/noumena-Nya) dan firmanNya. 
          Buku Mengenal dan Bergaul Dengan Allah mengungkapkan kepada kita apakah sesungguhnya iman Kristen dan bagaimana kehidupan dan penghayatan iman dapat menghasilkan perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan individu yang bersangkutan. Secara khusus, buku ini membahas iman Kristen dalam hubungannya dengan pengenalan pribadi dan pergaulan dengan Allah   hidup. Melalui buku ini, pembaca dihantar untuk memasuki proses kehidupan iman yang sesungguhnya, iman kepada Allah yang hidup.
          Hal itulah yang memungkinkan manusia mengenal Allah. Manusia hanya bisa mengenal Allah sejauh apa yang Dia nyatakan. Pengenalan yang sejati akan Allah adalah pengenalan akan hakikatNya, bukan yang lain. Dalam uraiannya, Yakub mengaitkan pengenalan akan Allah dengan menifestasi iman, sehingga hal yang theologis ini juga memiliki nilai praktis. Buku ini mendalam dalam teologi dan praktika. Mengenal dan bergaul dengan Allah seseorang akan :

1. Mengalami Kepuasaan
          Ketika seseorang mengenal dan bergaul dengan Allah, Ia telah mengenal kepekaan, cara pandang dan bertindak dengan benar, maka ia akan mengalami kepuasaan dari pengenalannya akan Allah. Ketika kita mengen akan Allah denagan sungguh-sungguh akan mendatangkan kepuasaan sejati, yang ditambah dengan lepuasaan lain yang Tuhan telah janjikan. Pada umumnya manusia membutuhkan berkat, namun, hal itu akan memuaskan setelah kita mengenal. Manusia juga membutuhkan kasih, pengakuan, pencapaian, keluarga, lingkungan sosial, dan lain-lain. Namun, jika hal tersebut diperoleh tanpa melalui pengenalan akan Allah, manusia tidak akan puas, dan mengejar apa yang memuaskan dirinya. Kepuasaan hidup yang sejati dimulai dari pengenalan yang benar akan Allah dengan sungguh-sungguh.

2. Bertindak Dengan Percaya
              Orang yang menenal dan bergaul dengan Allah selalu bereaksi dengan cara yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ia akan melakukan hal-hal yang ia ketahui bahwa Tuhan kehendaki, walaupun tampaknya berat untuk dilakukan. Mengapa? Kerena ia tahu bahwa ia punya Allah yang selalu memampukan dalam aktivitas yang sesuai dengan jalan Tuhan.Penyerahan yang penuh kepada Allah kepada Allah tidak membuat orang bersikap apatis tetapi selalu aktif. Karena ia tahu apa yang benar menurut Allah, itulah yang akan ia lakukan dengan penuh semangat.

3. Sensitif Terhadap Tuhan
              Orang yang mengenal dan bergaul dengan Allah selalu menjadikan kehendak Tuhan sebagai barometer dalam kehidupannya. Oleh karena itu, ia akan menjadi peka dalam melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya.Orang yang mengenal dan bergaul dengan Allah akan memiliki kepekaan untuk mengetahui yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, hal-hal apa yang harus dilakukan, dan hal-hal apa yang tidak boleh dilakukan. Dan dalam semuanya itu, yang menjadi acuan adalah kemuliaan Allah, yang harus dinyatakan dalam kehidupannya.
M          Melihat Dunia, Kehidupan dan Segala Aspeknya Dari Lensa Tuhan, Selain peka terhadap kehendak Allah, orang yang mengenal Allah pun akan mencoba melihat segala hal yang terjadi dalam kehidupan lewat cara pandang Allah sendiri. Ketika melihat orang-orang  disekitarnya, ia akan mencoba melihat mereka seperti Allah memandang. Ketika ada persoalan yang timbul dalam hidupnya, ia akan segra belajar untuk mencoba melihat persoalan tersebut dari perspektif Allah. Ia akan berserah kepada Allah karena ia tahu siapa yang mengendalikan hidupnya.

3.2 POLITEISME DALAM AJARAN KRISTEN (TRINITAS VERSUS ALKITAB)
          Kaum misionaris Kristen senantiasa mengajarkan bahwa Tuhan itu terdiri atas tiga pribadi dalam satu substansi atau yang lebih dikenal dengan istilah Trinitas atau Tritunggal (Bapa, Anak/Yesus, dan Roh Kudus). Dari manakah dasar ajaran dan keyakinan ini? Adakah tertulis dalam Alkitab/Bibel?
Pada bagian ini kita akan mencermati apa yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan dengan mengkonfrontasikannya dengan ajaran/doktrin Trinitas. Tentu saja dalam pembahasan ini kita harus memisahkan antara ajaran dan keyakinan tentang Trinitas dengan apa saja yang dikatakan Alkitab tentang konsep ketuhanan.

1. Bapa/Allah
          Perjanjian Lama secara tegas menyatakan bahwa tidak ada tuhan-tuhan lain bagi umat Israel kecuali Allah.
Akulah Tuhanmu, yang telah membebaskanmu dari negeri Mesir, keluar dari tempat perbudakan; engkau tidak ada memiliki tuhan-tuhan lain selain Aku. (Keluaran 20:2-3 – al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M)
Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia. (Ulangan 4:35)
Bahkan, dalam Perjanjian Baru,  Yesus sendiri menyatakan secara tegas bahwa Tuhan itu hanyalah Allah saja.
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12:29)
Jawab Yesus: “Mengapa engkau memanggilku Guru yang baik?  Hanya Satu yang baik, yaitu Allah. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah-Nya. (Matius 19:17 – al. Douay-Rheims Bible 1582 M & King James Version 1611 M)
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yohanes 17:3),Konsep ketuhanan dan keesaan Allah ini sangat jelas dikatakan oleh Alkitab.

2. Anak Allah
          Frasa “anak Allah” banyak ditemukan dalam Alkitab. Namun demikian, Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa “anak Allah”, siapa pun dia, memiliki kesetaraan dengan Allah. Tampaknya, Alkitab hanya ingin menggambarkan bahwa siapa saja yang memiliki hubungan kedekatan secara spiritual dengan Allah dianugerahi gelar sebagai “anak Allah”. Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka bumi, dan bagi mereka lahir anak-anak perempuan, maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka. (Kejadian 6:1-2)
          Menurut ayat di atas, disiratkan bahwa sebelum Allah menciptakan manusia, anak-anak Allah telah terlebih dahulu diciptakan, hingga ketika jumlah manusia bertambah banyak, konon anak-anak Allah tersebut tertarik kepada anak-anak perempuan manusia lalu mengambil istri dari antara perempuan-perempuan itu dan melahirkan keturunan bagi mereka (Kejadian 6:4).

3. Roh Kudus
          Tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah. Dalam hal ini perlu ditegaskan bahwa Roh Allah (Perjanjian Lama) tidak sama dengan Roh Kudus (Perjanjian Baru), karena umat Israel hanya memiliki satu Tuhan yaitu Allah (Elohim/Jahweh). Simak ayat berikut:
Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. (Kejadian 1:2)
Roh Allah sebagaimana tersebut dalam ayat di atas (Perjanjian Lama) bermakna Allah sendiri dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan Roh Kudus dalam Perjanjian Baru. Demikian juga dengan roh Allah sebagaimana tersebut dalam pesan Yesaya berikut ini:
Lihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. (Yesaya 42:1)
          Roh Allah dalam pesan Yesaya di atas bermakna roh ciptaan Allah. Allah telah menentukan “orang pilihan”-Nya dengan memberikan roh kepadanya sejak masih dalam kandungan. Makhluk hidup seperti malaikat, jin, manusia, dan binatang semuanya memiliki roh yang diciptakan oleh Allah. Namun demikian, hanya tertentu saja dari mereka yang menjadi “orang pilihan”-Nya.
          Berkenaan dengan pesan Yesaya di atas, Perjanjian Baru secara khusus menyebut istilah roh Allah berikut ini:
Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan ia melihat roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengarlah suara dari langit yang mengatakan: “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanyalah Aku berkenan.” (Matius 3:16-17) . Ayat Matius tersebut sebenarnya merupakan distorsi dari pesan Yesaya di atas. Dalam hal ini, bukanlah maksud pengarang Matius untuk menyatakan kesetaraan Yesus dengan Allah, tetapi bahwa pengarang Matius berupaya keras untuk menggenapi seluruh nubuat Perjanjian Lama dengan menyuguhkan sosok Yesus. Bagaimanapun juga, roh Allah dalam kasus Matius ini tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Roh Kudus. Lebih jauh, tidak ada konfirmasi sama sekali dalam seluruh Perjanjian Baru yang menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki derajat kesetaraan dengan Allah.

3.3 Pribadi Allah
            Sebagai seorang kristen, Allah hanya dapat dikenal jika kita sungguh-sungguh hidup didalamnya, karena kita tidak bisa mengandalkan pemikiran kita sendiri yang penuh keterbatasan.
 Keberadaan diri Allah
Allah ada dari dirinya sendiri artinya, Allah memiliki dasar bagi eksistensinya dalam dirinya sendiri. Allah tidak terikat sehingga Allah dapat memberi jaminan bahwa ia tetap akan tetap ada dalam hubungannya dengan umatnya selama-lamanya.
 Ketiadaan Perubahan Allah
Ketiadaan perubahan Allah adalah sebuah iringan yang penting bagi keberadaan dirinya sendiri dan ia tidak mengalami perubahan baik dalam keberadaannya maupun kesempurnaannya dan dalam tujuan serta janji-janjinya.
 Ketidakterbatasan Allah
Ketidakterbatasan Allah adalah kesempurnaannya yang tidak terikat oleh berbagai macam pembatas. Kesempurnaan mutlak adlah ketidakterbatasan dari keberadaan ilahi yang dikenali dalam dirinya sendiri, dan kekelannya didefenisikan sebagai kesempurnaan yang ditinggikan diatas semua batas-batas temporal dan semua suksesi masa serta memiliki keseluruhan eksistensinya dalam masa sekarang yang tidak terbagi.
3.4  Sifat Allah
a. Pencipta dari tiada
          Allah adalah pencipta segala sesuatu, Dia menciptakan dari tiada menjadi ada seperti yang dijelaskan dalam kitab kejadian “Allah Menciptakan langit dan bumi serta segala isinya  ( Kej 1 : 2-26 ). Allah menciptakan cakrawala dan air, tumbuh tumbuhan, benda-benda penerang, binatang melata dan binatangn air, tetapi Allah menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup dalam melalaui hidungnya, demikianlah manusia menjadi mahluk hidup(kej 1: 7)
          Hal ini membubuhkan bahwa Allah sebagai pencipta manusia serupa Gambaran dengan Allah ( Kej 1 :26 ) agar menguasai ikan- ikan  dilaut dan burung –burung diudara.

b.  Allah adalah alpa dan Omega
          Kita tahu bahwa Allah itu kekal dan Hidup untuk selamanya  dari dia sumber segala sesuatu dan yang mengawali dan tidak berakhir dan Allah itu Alpa dan Omega yang awal dan yang Terkemudian (Wahyu 1: 17 dan pasal  22:12-13)



BAB IV
MEMILIKI IMAN YANG KOKOH DAN TANGGUH


4.1 Iman seperti Anak Kecil
Berusaha menulis tentang iman adalah sebuah tugas yang menggetarkan. Iman adalah topik yang sangat besar, namun sekaligus sangat pokok dan mendasar. Iman adalah blok-blok bangunan dasar kehidupan kekristenan. Iman merupakan keseluruhan perjalanan hidup kita bersama dengan Allah. Keseluruhan kehidupan kekristenan kita adalah tentang iman yang bekerja oleh kasih.
Namun, iman ini bukan iman kepada iman kita atau iman kepada kemampuan kita. Iman ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan kita untuk percaya. Iman pada dasarnya berarti menjadi seperti anak kecil di hadapan Allah, memercayakan diri kepada-Nya dan berserah sepenuhnya. Kita menantikan Dia melakukan segala sesuatu sesuai dengan apa yang telah Dia janjikan dan kita hidup di dalam pengharapan karena itulah panggilan Allah bagi kita. 1Yohanes 5:4-5 mengatakan,”...sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain daripada yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”
Rasul Paulus mengatakan bahwa iman kita kepada Yesusu Kristus memampukan kita untuk ”mengalahkan” artinya ”telah mengalahkan” dunia. Saat ini Anda dapat memandang ke cermin dan berkata ”Imanku telah mengalahkan dunia, karena imanku ada di dalam Anak Allah, Tuhan Yesus”.
Iman bukan sesuatu yang daptat kita ”usahakan”. Iman adlah karunia yang diberikan kepada kita oleh Allah sewaktu kita percaya kepada Anak-Nya, Yesus. Suatu karunia yang dinerikan karena anugrah-Nya yang besar terhadap kita. Memahami anugrah Allah ini sangat penting bagi kita agar kita dapat memahami cara kerja iman.
Anugrah Allah adalah konsep yang kerap kali sulit dipahami, khususnya bagi orang-orang yang baru mulai hidup Kristen. Tabiat manusiawi kita cenderung mengarahkan kita untuk berpikir bahwa kekristenan itu hanyalah sesuatu agama dan bukan suatu hubungan denagn Allah yang hidup. Pandangan semacam ini membuat kekristenan hanya dipatuhi dan dijalankan guna memuaskan Allah yang perfeksionis dan tidak pribadi nun jauh di langit sana.
Hasil dari menganut agama yang berorientasi kepada ”peraturan dan kewajiban” selalu usaha sendiri. Artinya, kita terus-menerus berusaha menggapai estándar yang mustahil dan secara tak terelakan terus-menerus gagal pula. Sungguh ironis, padahal yang kita perlukan hanyalah iman yang diberikan secara Cuma-Cuma oleh Allah melalui Anak-Nya Yesua Kristus, kepada setiap orang yang menyerahkan kehidupanya kepada Dia.
Karena itu, Allah mempersiapkan statu anugerah. Anugrah itu adalah Allah sendiri, datang sebagai manusia untuk melunasi utang kita dengan mati di kayu salib, mencurahkan darah-Nya bagi anda dan saya.
Yesus membayar harga atas dosa-dosa kita untuk menawarkan kepada kita anugrah keselamatan secara Cuma-Cuma, aslkan kita mau mempercayai Dia. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menerima anugrah yang Cuma-Cuma ini dari Allah.

4.2 Iman Berarti Percaya
Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan “iman” sebenarnya berarti “percaya”. Beriman berarti memercayakan diri Anda kepada Allah. Sayangnya, kada ”iman” termasuk kata yang telah banyak disimpangkan sehingga kehilangan sebagian besar makna yang sesungguhnya. Ketika orang bertanya, ”Apa kepercayaan Anda?”, misalnya, yang mereka maksudkan adalah agama atau aliran kepercayaan yang kita anut. Pemikiran semacam ini mengaburkan pengertian ”iman” yang mengandung dinamika hubungan yang dilandasi oleh kepercayaan. Pemikiran semacam itulah yang mengurangi hubungan dengan Sang Pencipta yang Mahakuasa menjadi sekedar serangkaian peraturan dan parameter.
Pada saat Jemaat Kristen mula-mula terbentuk, sewaktu Roh Kudus pertama kali dicurahkan, orang-orang percaya mengidentifikasikan diri mereka sebagai orang-orang yang mengandalkan kemampuan Allah tidak mengandalkan usaha pribadi mereka. Anda mengerti maksudnya? Kita perlu diingatkan secara terus menerus akan ketergantungan kita kepada Allah karena kita cenderung untuk mengandalkan kemampuan kita sendiri. Kita perlu mengulanginya berkali-kali karena kita cenderung tergelincir kembali ke dalam kehidupan Kristen yang mengandalkan kekuatan diri – menetapkan peraturan bagi diri sendiri, berusaha untuk berperilaku baik, dan mengira bahwa hal-hal ini diamini oleh Allah.
Pada waktu-waktu kelemahan itu, ketika anda mengatakan, ”Ya Tuhan, biarlah Engkau yang bekerja malam ini karena aku tidak memiliki apa-apa untuk diberikan,” Tuhan mengatakan, ”Baik. Kita akan punya kebaktian yang luar biasa.” sekalipun kita telah melakukan persiapan dengan baik dan merasa siap untuk menyampaikan sesuatu, kita harus belajar untuk berserah kepada-Nya dan membiarkan Dia bertindak dengan kehendak-Nya. Perlahan-lahan saya mulai memahami fakta bahwa betapapun baiknya persiapan kita, hal itu sama sekali tidak berkaitan dengan kemurahan yang Allah berikan kepada kita. Semakin kita berserah kepada-Nya, semakin banyak berkat yang kita alami.

4.3 Iman bergantung pada kuasa Allah
Saya ingin memastikan bahwa saya tidak berbicara tentang iman yang buta, atau sikap naif yang terlepas dari realitas. Kita dapat memercayai Allah, bukan karena kekuatan tertentu yang kita miliki, melainkan semata-mata karena kuasa hebat dan menakjubkan yang Dia miliki. Hadirat dan kuasa Allah itu nyata dan pasti. Pengertian akan kemahacukupan dan kuasa Allah ini akan meyakinkan kita dan menolong kita untuk menjangkau dan berpegang pada-Nya dalam iman.
Dalam 1 Korintus 2: 4-5, Paulus mengatakan,
”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan roh, supaya iman kamu jangan tergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”
Sewaktu orang menyaksikan kuasa Allah dinyatakan, ada suatu keyakinan supernatural yang melanda mereka. Mereka bukan ”diyakinkan” oleh khotbah yang cerdas atau argumentasi yang meyakinkan. Mereka terpesona oleh kuasa Roh Kudus, yang sungguh-sungguh meyakinkan mereka akan kuasa Allah. Setiap kali terjadi mukjizat di tengah-tengah kebaktian kami, orang selalu menanggapi tantangan mimbar. Mereka menyaksikan sesuatu yang benar-benar menempelak mereka dan berkata ”Wah ! Allah benar-benar ada ditempat ini!” Orang-orang yang sebelumnya bersikap skeptis dan tidak yakin, tiba-tiba diyakinkan ketika mereka melihat demonstrasi kuasa Roh Kudus.

4.4 Berjalan Dalam Iman Dalam Musim Yang Baru dan Tetap Berpegang Teguh

  [Ibrani 11:6] 
Kita berjalan di musim baru.   Tantangan besar ada di depan kita, memang. Namun ketika kita mengenal apa yang Allah  rencanakan dan sediakan di musim baru, semua tantangan  itu ternyata merupakan  sarana bagi kemenangan” yang lebih besar untuk kita alami. Ada rancangan Allah yang besar yang sedang turun bagi kita di tahun yang baru ini.    Hal itu akan terwujud di dalam kita ketika kita mau berjalan dalam iman senantiasa.
Ada kesaksian seorang anak Tuhan, yang  pada saat menghadapi tantangan yang berat, dia sungguh-sungguh bersandar dalam iman kepada Tuhan. Melalui masalah itu  justru dia melihat pertolongan Tuhan yang nyata. Tuhan membalikkan keadaan, masalah berubah jadi berkat yang besar.
 Saat itu dia baru diangkat menjadi seorang presiden direktur di perusahaan yang selama ini dia bekerja.  Tidak lama kemudian,  dia berhadapan dengan masalah yang sulit baginya. Era kepemimpinan yang lalu membuat keadaan perusahaan yang sudah lima puluh tahunan ini menukik di tiga tahun terakhir, sehingga semula sebetulnya perusahaan itu sudah diputuskan  untuk dijual. Sekarang dia mengalami kesulitan dana cair. Penyebabnya adalah uang yang harusnya sudah tertagih karena  beberapa proyek yang dikerjakan  sudah selesai, ternyata jadi tunggakkan, dengan nilai  sekitar Rp 3 miliar. Dia mengalami kesulitan   uang cair   untuk operasional perusahaan. Hal ini  membuatnya sulit bergerak. Teman saya ini berbagi beban masalahnya, lalu saya tawarkan untuk bersama-sama mencari Tuhan secara khusus,   agar  mengalami pertolongaNya. Saat kami bertiga menyembah dan mencari wajahNya, Tuhan taruh di hati saya firman Mazmur 66: 3-4 dan Mazmur 65: 6.
 Mazmur 66 : 3 - 4: Katakanlah kepada Allah: "Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu.  Seluruh bumi sujud menyembah kepada-Mu, dan bermazmur bagi-Mu, memazmurkan nama-Mu." Sela
Mazmur 65 - 6: Dengan perbuatan-perbuatan yang dahsyat dan dengan keadilan Engkau menjawab kami, ya Allah yang menyelamatkan kami, Engkau, yang menjadi kepercayaan segala ujung bumi dan pulau-pulau yang jauh-jauh;
Firman ini mengajar kita, saat menghadapi keadaan yang sulit, datanglah kepada Allah dengan sikap yang benar. Kita datang kepadaNya dalam pengenalan yang pasti.  Kita harus kenal siapa Allah bagi kita atas masalah, dan apa yang Dia sanggup buat atas masalah kita. Perkatakanlah hal itu kepadaNya sebagai penghormatan dan ungkapan kepercayaan kita kepadaNya. Itu adalah ungkapan  iman yang sesungguhnya kepadaNya. Dia adalah jawaban yang tidak akan mengecewakan atas masalah yang kita hadapi. Dia akan  menjawab dengan perbuatanNya yang dahsyat. Sebab itu percaiyalah, bahwa Dia itu adalah  Allah yang demikian, lalu  katakanlah kepadaNya sebagai pengakuan iman. Walaupun bagi mata jasmani belum kelihatan, namun mata iman telah duluan melihat jalan keluar yang Tuhan akan buat. Karena itu katakan dengan iman kepadaNya: “Bertapa dahsyatnya segala pekerjaanMu Tuhan! KekuatanMu yang besar membuat masalahku bertekuk lutut di hadapaMu! Saya percaya inilah yang akan terjadi dengan masalah yang saya hadapi.” Inilah iman yang menaklukkan. Karena Allah melihat iman kita, maka Dia bertindak untuk kita sesuai dengan iman kita. Ketika datang dengan iman, maka Dia berkenan akan iman kita. Allah yang berperang bagi kita. Di atas iman dan perkataan pengakuan kita akan Dia, Allah berpijak dan  bertindak  menaklukkan masalah kita.
Ketika kami mulai memperkatakan kepada Allah seperti yang firman itu ajarkan, sesuatu terjadi. Tuhan memberikan penglihatan kepadanya. Ada hembusan angin yang cukup kencang, lalu terlihat kertas beterbangan karenanya, dan menempel ke tubuhnya, ternyata saat dilihat, itu semuanya uang. Tuhan sudah menjawab doa kami. Dalam lima hari kemudian, jawaban Tuhan yang di luar dugaan terjadi. Dari tiga sumber yang berbeda, yang sama sekali tidak tahu menahu keadaan yang dihadapi, tanpa meminjam,  masuk dana cair jauh  melebihi jumlah dari tagihan tadi. Hanya Tuhan   yang bisa melakukan hal itu. Bukan hanya operasional perusahaan bisa berjalan baik, dua  bulan berikutnya karyawan naik gajih, setelah sekian waktu tidak pernah ada kenaikan, dan bulan berikutnya lagi dilakukan  pembagian bonus bagi karyawan. Mengakhiri tutup buku tahun 2010, perusahaan mencetak rekor keuntungan yang belum pernah dicapai sepanjang 50 tahun. Tuhan membuat kejutan bagi orang yang berjalan dalam iman yang aktif. Masalah dibalikkan jadi berkat yang besar. Itulah yang ingin Tuhan buat atas kita. Karena itu mari berjalanlah dalam iman yang aktif di musim baru ini.
Tuhan memberikan   kekuatan  baru bagi kita yang berjalan dalam iman. Imanlah yang membuat kita jadi kuat dan berkemenangan. Sebaliknya, tanpa iman, kita tidak dapat meraih kekuatan yang Allah sediakan.   Dengan iman yang aktif, kita berjalan dari kemenangan kepada kemenangan yang semakin besar. Kita menaklukkan wilayah yang semakin luas. Ketika masalah kita taklukkan, iman kita makin teguh, dan makin berkembang.  Kita mengembangkan potensi yang semakin besar dan semakin berdaya guna   bagi Kerajaan Allah.  Iman timbul karena percaya PribadiNya. Apa yang Dia katakan kita percayai. Karena kita memegang  firmanNya di hati, maka  Allah menyukai hati kita. Penting sekali untuk selalu percaya Pribadi Allah, dan percaya setiap perkataan firmanNya. Ketika kita suka dan bergemar akan firmanNya, firman yang di hati kita disukai Tuhan. Doa dari hati  yang didasari firman ini diperhatikan Tuhan.
Karena itu bangunlah gaya hidup yang senantiasa mencari wajah Tuhan. Mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Membangun pergaulan yang bersahabat dengan Allah membuat iman kita tumbuh dan kuat. Dengan merawat hati yang haus akan Tuhan dan murni, kita akan semakin mendalam dan  jadi semakin peka mengalami hadiratNya. Di dalam hadiratNya, iman kita kuat (Mazmur 63: 2, 9).
Dapatkan firman Tuhan setiap hari untuk makanan rohani kita. Iman timbul dari pendengaran akan firman Kristus (Roma 10:  17).
Izinkan  Tuhan merombak dan memperbaharui pola pikir kita. Diubahkan dari pikiran   menjadi selaras dengan pikiran Kristus. Sehingga apa yang mustahil bagi pikiran manusia, tidak bagi kita yang mengenakan pikiran Kristus (Roma 12: 2). Putuskan untuk hidup bagi tujuan Ilahi, yaitu panggilan sorgawi (Filipi 3: 13-14). Perjalanan dalam iman  akan membawa kita  masuk ke dalam target Tuhan bagi hidup kita. Iman yang benar membawa kepada tujuan Illahi, mencapai garis finish sebagai pemenang pertandingan iman. Menjadi orang yang mencapai sasaran Tuhan membuat kita seorang yang terhormat dalam pandangan mata Tuhan.
        Segala sesuatu yang Anda miliki Anda peroleh karena memegangnya dengan iman. Allah menjatuhkan sebutir kecil benih dari sebuah ide ke dalam hati Anda dan Anda berkata, ”Tuhan, mungkinkah ini terjadi?” Ia menjawab, ’Ya itu mungkin,” dan Andapun mulai percaya dan mulai bertindak. Iman Yang Sejati.
Iman itu benar-benar supranatural, Iman hanya berasal dari Allah yang bertujuan untuk menggenapi maksud-Nya dan agar Ia dipermuliakan. Perkataan didalam Markus 11 : 22 diterjemahkan sebgagai berikut “ Percayalah Kepada Allah “. Namun arti sesungguhnya  adalah “ Milikilah Iman Allah “. Kita harus memiliki iman Allah karena kita Hidup Oleh ImanNya ( Galatia 2 : 20 ; Hab 2 : 4 ).
Iman itu nyata, kita bisa berharap dan berdoa minta sesuatu dari Tuhan, tetapi bagaimana kita dapat merasa yakin bahwa kita akan menerima. Kita dapat memiliki jaminan bahwa kita akan menerima hal-hal yang kita minta jika kita memiliki iman Allah, karena iman adalah bukti dari hal-hal yang tidak terlihat dan dasar yang kita harapkan.
Iman tidak datang dari Logika atau pikiran, atau dari intelek kita atau perasaan kita. Kita tidakdapat menghasilkan iman, sebab iman ditaruhkan Allah dalam hati kita, jika kita menggunakan logika, kita tidak akan memperoleh” iman Allah “. Bahkan Tuhan Yesus yang datang dari Naseret sebagai Jurusalamat Atau Mesias, kerena orang Farisi menggunakan Logika tentang Keberadaan Tuhan Yesus anak dari seorang Tukang Kayu, Yusuf Dan datang dari Nasaret. Oleh karena itu iman tidak mengalir dalam hati Orang Farisi Itu Karena menggunakan Logika. Karena itu “ Iman sejati adalah sebuah pemberian dari Allah sendiri Bukan berasal dari Manusia “
Iman tidak datang kepada orang passif. Kita tahu jelas segala sesuatu yang kita cari dan kita butuhkan harus diaplikasikan dengan bekerja. Demikian juga dengan memperoleh iman. Hanya orang-orang rajin mencari iman yang menerima iman dan jawaban-jawaban yang mereka perlukan  ( Lukas 11 :9-10 ). Untuk memahami segala sesuatu harus dilakukan Misalnya, Jika kita ingi lulus ujian  kita harus berdoa untuk meminta petunjuk Tuhan tentang hal-hal yang akan kita pelajari. Selesai berdoa barulah kita belajar. Tidak mungkin hanya dengan berdoa kita memperoleh nilai yang bagus.
Iman merupakan bagian dari roh.  Merupakan sebuah kualitas dari roh yang bergantung dan berseru kepada Allah. Agar kita memiliki kebergantungan yang kudus kepada Allah, kita harus memiliki hati yang rendah hati yang merupakan salah satu dari buah-buah dari Roh Kudus ( Galatia  5 :22-23 ). Kerendahan hati mengakui bahwa kita tidak dapat melakukannya sendiri, melainkan membutuhkkan pertolongan orang lain  ( iman yang sejati kepada Tuhan dengan pengharapan ). Sebaliknya kesombongan memiliki kepercayaan kepada diri sendiri. Karena itu kerendahanhatian adalah sebuah kunci penting untuk memiliki Iman.
Janganlah bergantung pada perasaan saudara. Melainkan bersandarlah pada janji Tuhan. Orang Kristen hidup karena imannya kepada Tuhan dan Fiman-Nya. Bagan kereta api di bawah ini menggambarkan hubungan antara KENYATAAN (Tuhan dan Fiman-Nya), IMAN (kepercayaan kita kepada Tuhan dan Fiman-Nya) dan PERASAAN (akibat dari iman dan ketaatan kita kepada Tuhan) (Yohanes 14:21).




Kereta api dapat terus berjalan dengan atau tanpa gerbong penumpang, asal saja batubara dimasukkan ke dalam lokomotif. Sebaliknya, adalah mustahil untuk menjalankan kereta api dengan bergantung pada gerbong penumpang, karena gerbong penumpang ini sama sekali tidak mempunyai tenaga penggerak. Demikian pula sebagai seorang Kristen, janganlah kita bergantung pada perasaan, melainkan hendaklah sebagai orang Kristen, janganlah kita bergantung pada perasaan, melainkan hendaklah iman kita didasarkan pada kesetiaan Tuhan dan janji-janji di dalam Fiman-Nya.

4.5Cara Memgembangkan Iman
Iman dapat dikembangkan dengan langkah yang tepat. Kita harus berhubungan dangan Allah terus menerus dalam setiap perkara hidup ini. Dibawah terdapat beberapa langkah sederhana untuk mengembanagkan Iman yang sejati.
Memiliki hati yang percaya. Ini merupakan sikap hati yang sepenuhnya percaya, dalam kitab Yakobus 5 : 16 Doa orang benar bila dengan yakin sangat besar kuasan-Nya.
Ketaatan - Ketaatan kita pada suatu Iman yang percaya ( kita harus taat sekalipun kita tidak mengerti dan tidak melihat.
Rendah hati-Rendah hati merupakan suatu kunci untuh mengarah pada iman yang sejati. Iman sejati merupakan pemberian dari Allah.


4.6 Penerapan Iman dalam Kehidupan sehari-hari
Kehidupan kristen adalah kehidupan yang menggambarkan kepemimpinan Kristus yang bersifat melayani dan bukan untuk dilayani (Mat 20 :28 ). Demikian juga kita sebagai anak-anak-Nya harus serupa dengan Kristus yang menjadi pelayan bagi orang lain yang belum mengenal kasih karunia Allah yang berupa penyelamatan manusia dari maut dan dosa oleh Yesus Kristus. Kita harus mempraktekkan citra Allah dalam kehidupan kita, baik dalam lingkungan keluarga, dikampus  dan di lingkungan masyarakat yang belum mengenal Kristus Yesus. Disamping itu kita harus menjadi terang dan garam dunia (Mat 5: 13-16  sama seperti Kristus yang datang sebagai  terang dunia.
Kita seharusnya menjadi jawaban  bagi mereka yang membutuhkan dari setiap permasalahan permasalahan hidup  yang terlebih sekarang ini saudara-saudara kita yang mencari kebeneran dan air hidup yang bersumber dari Allah , maka dimulai dari kita harus menjadi contoh  dan menggambarkan citra Alllah yang dicerminkan Yesus Kristus yang penuh kasih dan anugerah. Dengan demikian merekah bisa melihat bahwa allah yang kita sembah adalah Allah yang  hidup dan Yang Tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Kita menaruh Iman kita harus dikembangkan dan digunakan. Iman harus perlu pembuktian yang cukup dan signifikan. Dalam kitab Yakobus dijelaskan “ Seperti tubuh tanpa Roh adalah mati” demikian juga Iman tanpa Perbuatan pada hakekatnya adalah mati. Iman harus dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya disaat “ badai “ datang kita tidak menjadi takut dan gentar dalam menghadapinya, tetapi bersandar penuh kepada Allah ( Lukas 8: 25; Mark 4 : 40 ). Oleh karena itu imam harus digunakan dalam setiap waktu.
Setelah Yesus masuk kedalam hidup seseorang, maka orang itu menjadi anggota keluaraga Allah. Namun karena orang itu mai tinggal dalam dunia ini, kemungkinan untuk berbuat dosa masih ada. Oleh sebab itu, Fiman Allah tetap diperlukan, untuk memelihara Imannya. Seperti tertulis, “ Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, upaya aku jatuh kedalam doa terhadap Engkau ( Mzr 119 : 11 ).Menyimpan Fiman Allah dalam hati , menjaga seorang untuk tidak berbuat dosa. Sebab dari hatilah terpancar kehidupan ( Amsal 4 : 23 ).
Lalu bagaiman cara seseorang untuk menyimpan Fiman itu dalam hatinya? Caranya tak sulit.
Pertama, membaca Alkitab seperti membaca buku kesayangan Kita karena, Firman itu merupakan pelita dan terang bagi jalan kita. Seseorang yang membaca buku kesayanganya pasti akan segera mencari kesempatan untuk membaca buku itu. Dalam membaca buku itu, ia akan berusaha menyelesaikan dari awal sampai akhir. Bahkan ia akan mencari kesempatan lagi untuk membaca ulang buku itu supaya lebih menikmati keindahan isinya.
Membaca Alkitab dengan cara seperti ini sangat penting. Sebab Alkitab adalah buku indah yang tak mudah untuk dimengerti. Maka perlu dibaca berulang-ulang dan lengkap dari Awal sampai Akhir.
Bacaan menyeluruh ini sangat penting, upaya dalam hati tersimpan Fiman Tuhan yang lengkap dan tidak terpotong-potong. Apalagi sebagaian besar tertulis dalam Alkitab adalah berbentuk cerita. Jadi kesan di hati terus-menerus dan berulang- ulang.
Bila seseorang ingin menyelesaiakan membaca dari kejadian sampai Wahyu, selama satu tahun maka ia harus membaca tiga pasal sehari dan lima pasal pada hari ketujuh atau atau hari dalam seminggu.
Kedua, membaca dan menyelidiki maksudnya, dengan pertolongan Roh Kudus.
Membaca Alkitab seperti membaca buku kesayangan yang lain, itu perlu. Tetapi Alkitab adalah Fiman Allah sendiri, yang tak begitu saja ditangkap oleh otak manusia yang kecil dan berdosa Ini. Maka untuk mengerti maksudnya yang dalam, serta  mohon pimpinan Roh Kudus untuk menjelaskan bagi kita.
Di Bandung misalnya, ada seorang siswa SMP yang bukan kristen, membaca Kitab Perjanjian Baru, dalam tempo dua minggu. Ia menggunakan waktu kosong terus menbaca buku yang menarik dalam hatinya itu. Namun meskipun dengan demikian, ia hanya bisa mengerti  sebagian kecil ajaran Kristen serta sejarah Agama Kristen dan sejarah dalam kehidupan pelayanan Yesus saja. Sedangkan Maksud penulis Alkitab sendiri yaitu supaya pembacanya beroleh hidup dalam Yesus, belum ia miliki.
Baru setelah pendeta menemuinya, baru ia dibimbing untuk menerima Tuhan Yesus sebagai penebus doanya. Penerimaan ini mungkin setelah pendeta itu berdoa supaya Roh supaya membimbing untuk mengerti Alkitab. Lalu terbukalah akalnya untuk mengerti berita Alkitab yang disampaikan oleh pendeta itu. Padahal berita itu pernah ia baca sendiri sebelunya.
Memang dalam penyelidikan Alkitab sangat diperlukan bimbingan Roh Kudus. Tanpa bimbingan itu, Alkitab hanya akan menjadi buku sejarah saja. Selain itu, dalam penyelidikan pertama, juga diperlukan orang Kristen yang dewasa, untuk membimbingnya. Dan dalam perenungan Fiman Tuhan setiap hari, sangat baik bila bertobat menggunakan buku penolong harian, seperti: Saat Teduh; Santapan Harian; Renungan Harian; Wasiat dan lain-lain, yang bisa di dapatkan di toko-toko buku Kristen, di persekutuan penyelidikan Alkitab, maupun di Gereja. Lalu dalam penyelidikan selanjutnya diperlukan buku-buku penolong lain, seperti: Konkordansi; Ensiklopedia; Menggali Isi Alkitab; Tafsiran Alkitab Masa Kini dan lain-lain.
Ketiga, menghafalkan ayat-ayat yang khusus. Setiap ayat dalam Alkitab, memiliki arti yang dalam luas, jika diselidiki dengan cermat. Namun ayat-ayat itu tak boleh diselidiki terpisah dari konteksnya. Sebab bisa menimbulkan salah tafsir. Seperti  yang pernah saya lihat terjadi pada seorang mahasiswi, dalam memahami 2 Korintus 12:9b. “ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus datang menaungi aku.”
Berdasarkan ayat itu, ia berkata kepadaku, “Kak, aku gagal terus dalam ujian. Tapi kuterima semua ini sebagai salib Kristus, bagiku. Biarlah aku belajar mengikuti jejak Paulus, yang senang mencari kesengsaraan dalam beriman.” “Paulus mencari kesengsaraan dalam beriman? Di mana itu tertulis?” tanyaku membalas pertanyaannya.
Mahasiswi itu tidak bisa menjawab, karena ia memetik Fiman Tuhan hanya untuk menutupi kemalasannya dalam belajar. Dan jika cara ini terus dilakukan, jelas Fiman Allah akan diselewengkan. Karena cara ini biasanya di gunakan iblis untuk menggoda orang beriman. Contohnya dalam Kejadiaan 3:1-5. Iblis memutar balikkan Fiman Allah, untuk menggoda Hawa, yang sampai detik itu masih percaya dan taat kepada-Nya. Juga dengan menggoda Tuhan Yesus, iblis menggunakan ayat Fiman Tuhan ( Mat 4:6 ).
Jadi kutipan ayat Alkitab yang serampangan, jutru akan menyelewengkan Fiman Allah sendiri. Namun kutipan itu tetap perlu, bila:
Ada hubungan yang erat, dengan bagian lain dalam Alkitab,
Penafsiran ayat itu sendiri tidak menyeleweng dari konteksnya,
Bisa diterapkan dalam kehidupan kita dengan Allah, diri sendiri dan sesama kita.
Dengan penghafalan ayat-ayat ini, seseorang akan diperkaya oleh Fiman Tuhan. Sebab ayat-atat lebih mudah dihafalkan daripada menghafalkan cerita
Namun juga penghafalan ayat ini, tidak bisa dipakai sebagai pengganti pembacaan Alkitab secara lengkap. Pembacaan setiap hari harus tetap dilakukan, supaya hidupnya dipenuhi dengan Fiman Tuhan. Sehingga dalam menghadapi segala keadaan, bisa tetap setia kepada Tuhan. Contoh sederhana, misalnya dalam menghadapi studi di sekolah.
Seorang siswa/mahasiswa, yang mempelajari Alkitab secara lengkap, akan tahu bahwa tugas seorang siswa yang utama adalah belajar. Dan melalui ayat hafalan Efesus 5:16, ia akan menggunakan waktu yang ada dengan sebaik mungkin. Sebab hari-hari ini adalah jahat. Maka ia tidak boleh bodoh, mengingat ayat lain lagi berkata, “ Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan ayat perbuatan, lakukanlah semua itu dalam nama Tuhan Yesus,……” ( Kol 3:17 ). Melakukan sesuatu di dalam nama Tuhan Yesus, tentu harus di kerjakan dengan sungguh-sungguh atau dengan sekuat tenaga. Sebab Ia menghendaki kita mengasihi-Nya, dengan segenap hati jiwa, akal budi dan kekuatan kita ( Mrk 12:30 ).
Mengapa seorang siswa beriman, tak pernah menjadi lebih bodoh daripada sebelum beriman. Sebab ia akan lebih giat dalam belajar dan “ PerintahMu membuat aku lebih bijaksana daripada musuh-musuhku, sebab semuanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi daripada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan,” demikian ungkap pemazmur dalam Mazmur 119:98-99. Ayat-ayat hafalan di atas bisa di hubungkan dengan kisah-kisah nyata dalam Alkitab, misalnya: kisah Daniel dan teman-temannya, dalam pasal satu.
Daniel, Hananya, Misael, Azarya adalah cendekiawan-cendekiawan muda dari Yudea, yang diangkut ke pembuangan di Babel, karena negara mereka telah ditaklukkan oleh kerajaan Babel itu. Dalam pembuangan, mereka berempat terpilih untuk mengikuti pendidikan selama 3 tahun. Pendidikan itu mempersiapkan para cendekiawan muda untuk menjadi pengawal Raja.
Selama pendidikan itu, di tetapkan bagi mereka untuk menerima ransum setiap hari dari santapan Raja dan anggur yang bisa diminum Raja. Dan karena makanan dan minuman ini najis bagi orang beriman, Daniel bertekad untuk tidak menikmatinya. Dengan berani ia minta kepada pemimpin pegawai istana untuk tidak memberinya ransum yang ditetapkan raja itu, dan minta sayur saja untuk dimakan dan air minum untuk diminum. Pemimpin pegawai istana mengabulkan permintaannya. Sehingga Daniel Hananya, Misael dan Azarya menerima menu yang berbeda dengan menu teman-temam sependidikan yang lain. Kita tidak tahu perbandingan kualitas gizi dari menu mereka ini. Yang jelas setelah lewat 10 hari, perawakan Daniel dan teman-temannya kelihatan lebih gemuk dari perawakan mereka yang makan dari menu raja. Lalu dalam ujian Negara, empat orang ini lebih pintar dari teman-temannya yang lain.  Bahkan setelah bekerja, mereka didapati memiliki kepintaran 10 kali lipat, dari kecerdasan semua ilmuwan di seluruh kerajaan Babel.
Percaya dan setia kepada Allah yang hidup, tak membuat Daniel dan teman-temannya menjadi bodoh dalam berpikir. Karena memang orang beriman akan memiliki perasaan, pikiran dan keinginan yang lebih cerah dan terang daripada sebelum beriman. Lalu mungkin timbul pertanyaan: mengapa ada orang Kristen yang gagal dalam studi dan pekerjaannya? Di bawa ini Kukemukakan jawaban,
Pertama, mungkin kurang beriman. Contoh untuk orang kurang beriman, antara lain:
Malas belajar atau tidak sungguh-sungguh dalam belajar.
Orang Kristen yang demikian, harus bertobat dan melangkah untuk setia dalam belajar. Sebab ada tertulis, “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: …..” ( Ams 6:6 ). 
Menunjukkan kekuatannya sendiri serta ada kesombongan di hati.
Allah tak pernah bekerja menolong orang yang mengandalkan kekuatannya sendiri dan Ia benci terhadap kesombongan. Maka jika orang Kristen gagal dalam studinya atau pekerjaanya karena sombong, ia harus bersyukur. Sebab kalau selalu berhasil, bisa jadi ia takkan pernah mau melepaskan kesombongannya, atau mungkin juga, ia sendiri tidak menyadari bahwa kesombongan sudah mengisi hatinya. Akibatnya hubungan Tuhan goyah. Tapi jika kesombonganya segera disesali dan di akui di hadapan-Nya, maka hubungannya dengan Allah akan segera akrab kembali. Dan bila tidak mengkitarkan kepada kekuatan sendiri lagi, tapi berkitar penuh kepada-Nya, ia akan menikmati kembali kesukaan dalam beriman kepada-Nya.
Kedua, mungkin IQ( Inteligent Quality)nya lemah, atau yang di hadapinya bukan bidangnya. Pertobatan seseorang tidak selalu mengubah IQ 80 menjadi 120. Namun kita percaya bahwa pikirannya akan dipimpin dan dikuasai oleah Roh Kudus. Oleh sebab itu, jika gagal dalam studi kerena IQ lemah, tak perlu berkecil hati. Ia pasti memiliki kekuatan lain, yang diperkembangkan bisa menjadi berkat bagi dirinya dan orang lain. Atau juga IQnya normal, namun pelajaran atau tugas yang dihadapi, memang tak sesuai dengan bakatnya, sehingga memang ia tak harus di tempat itu.
Ketiga, mungkin Allah sedang menguji imannya. Sering kali Allah menguji iman orang-orang yang mengasihi-Nya, untuk melihat apakah mereka mengasihi-Nya, lebih daripada yang lain. Jika seorang mengasihi Allah lebih daripada yang lain, imannya takkan tergoyahkan kendati studi atau tugasnya gagal. Dan ia pun akan mengetahi bahwa Allah menyediakan yang jauh lebih baik, daripada sekedar keberhasilannya dalam studi atau pekerjaan. Seperti ada yang tertulis: “ Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” ( Yoh 10:10 ). Menyimpan Fiman Allah di hati, memungkinkan seseorang sanggup mempertahankan imannya.  


BAB V
HIDUP BARU
5.1 Manusia Baru
Yesus menginginkan kita menjadi manusia baru, manusia yang hidup di dalam Dia dan manusia yang dibaharui di dalam roh dan pikirannya seperti pada Injil Efesus 4 : 17 – 18 ”Sebab itu kukatakan dan dan kutegaskan: jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikiranya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
Yesus menginginkan membuang kehidupan kita yang dahulu, menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaanNya oleh nafsunya yang menyesatkan, Yesus juga menginginkan agar kita mengenkan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, kita diharapkan membuang dosa dan berkata benar diantara sesama kita. Jika kita membenci atau marah kepada sesama kita hendaknya kemarahan itu hilan sebelum matahari terbenam dan jangan sekali-kali memberikan kesempatan pada iblis untuk merebut hatimu. Hendaklah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah dibuang jauh-jauh dari diri kita dan biarkanlah Roh Kudus Allah ada pada kita yang telah mematerai kita untuk beroleh hidup yang kekal menjelang hari penyelamatan. Tuhan juga menghendaki agar kita ramah terhadap sesama, penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita.

5.2 Arti Hidup Baru
Lahir baru berarti memulai kehidupan yang berarti dalam Kristus. Yesus yaitu masuk dalam kehidupan yang baru. Hidup baru berarti suatu keadaan dimana kehidupannya sudah berubah tidak sama seperti sebelumnya. Kelahuran baru bukanlah sesuatu yang bisa kita ciptakan. Kelahuran baru bukanlah menerima vusu yang trasenden atau memulai hidup yang baru, ataupun memperoleh perasaan religius yang aneh. Kelahiran baru bukanlah suatu langkah maju dalam reinkarnasi. Kelahuran baru bukan sekedar kesadaran diri. Bukan sejenus renungn mistik atau perjalanan roh karena pengaruh obat bius. Sebaliknya, kelahuran baru adalah karya Allah yang nyata dan menetap, yang darinya kita meneima sifat yang batu dan kudis. Itulah yang tercakup dalam hidup baru, suatu kelahuran yang adikodrati dan rohani, dari atas yang terjadi setiap saat takkala seorang menaruh pengharapannya pada Kristus.

5.3 Sumber Hidup Baru
Sebagai umatNya, kita mempercayai bahwa Yesus Kristus adalah utusan Allah. Injil yang berarti kabar baik telah menyatakan bahwa Yesus Kristus, anak Allah, meninggalkan surga dan datang ke dunia. Dia dilahirkan oleh seorang perawan: ”.....anak yang akan kau lahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Lukas 4 : 35), hidup tanpa dosa. Dia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa (Ibrani; 4 :15). Ia disalibkan dan dibuat ”menjadi dosa karena kita supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (Z Korintus 5 : 21). Akhirnya Allah ”membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukan Dia disebelah kanan-Nya di sorga....” Efesus 1 : 20).
Mempercayai kebenaran-kebenaran inilah yang membuahkan keselamatan. Inti dari sumber hidup baru ini adalah pengakuan kita bahwa Yesuslah sumber keselamatan.

5.4 Permulaan Hidup Baru
1. Kesadaran akan Dosa
Ada tiga langkah yang tidak dapat dipisahkan dalam kaitannya dengan penyelamatan manusia. Langkah pertama ialah, menyadari bahwa manusia telah tercemar dosa. Seseorang perlu mengaku bahwa ia telah berdosa. Alkitab mengatakan bahwa semua orang ”telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. (Roma 3 : 23). Dosa dalam 1 Youannes 3 : 4b, ialah pelanggaran hukuman Allah. Dosa bukan hanya perbuatan yang salah, tetapi juga berupa kegagalan dalam melakukan perbuatan baik, ”jadi seseorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi tidak melakukannya, ia berdosa (Yakobus 4 : 7). Jadi tidak ada yang tidak berdosa. Setiap orang telah berdosa terhadap Allah dan perlu diselamatkan kebenaran ini harus disadari dan disukai, baik terhadap diri sendiri, maupun terhadap Allah.
2. Pertobatan
Langkah kedua adalah: bertobat. Jika seseorang bertobat, pandangan dan sikap hatinya terhadap dosa berubah. Pertobatan sumpama perubahan Allah. Tuhan Yesus menghimbau supaya semua orang bertaubat dan ”percaya kepada Injil” (Marcus 1: 15) ia memperingatkan,”tetapi jikalau kamu tidak bertaubat, kamu semua akan binasa....” (Lucas 13 : 3). 2 Samuel dikisahkan tentang dosa Raja Daud. Ia berzinah dan membunuh. Allah mengutus Nabi Natan untuk menunjukan kesalahannya. Setelah sadar akan perbuatan jahatnya Daud benar bertobat. Ketulusan pertobatannya tertulis dalam Nazmur 51 yang dalam doanya ia meminta dengan kerendahan hati.
3. Iman
Langkah ketiga ialah beriman kepada Yesus Kristus. Beriman kepada Kristus erat kaitannya dengan pertobatan. Beriman kepada Kristus berarti menyerahkan segalanya kepada Yesus Kristus...dirinya, dosanya, hidupnya, masa depannya, dan yang ada pada dirinya. Tidak ada satu orangpun yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Hanya Tuhan Yesuslah yang berkuasa menyelamatkannya: Kita orang berdosa, hanya dapat diselamatkan kalau kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus.

5.5 Sifat dan Tujuan Hidup Baru
a. Sifat Hidup Baru
Yohannes 3 : 16 menyatakan : ”Setiap orang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang ketat.” Hidup yang kekal berarti hidup yang abadi, berlangsung terus menerus tidak henti-hentinya. Memang setiap orang yang akan meninggal mati secara jasmani. Itu adalah akibat dosa Roma : 6 : 2 ”Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”Tetapi secara rohani, seorang Kristiani tidak akan mati. Artinya rohnya akan memperoleh kehidupan kekal dihadapan Allah.
Pada saat orang percaya kepada Kristus dan menerima Dia menjadi juru selamat pribadi. Ia terlepas dari keadaan mati rohani. Ia memasuki kehidupan rohani (Efesus 2 : 3), kehidupan inilah yang bersifat kekal.

b.Tujuan Hidup Baru
Kehidupan baru seorang percaya berbeda dari sebelumnya. Firman Allah mengatakan kehidupan orang yang belum mengenal Allah, dalam Yesaya 57 : 20 menyatakan, ”seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tenang dan arusnya menimbulkan sampah dan lumpur.” Sesudah ia mempercayakan dirinya kepada Kristus. Ia memperoleh damai Allah dan menjadi ciptaan baru: jadi siapa yang ada di dalam Kristus, Ia adalah ciptaan baru: ”yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus, 5 : 17). Sebagai ciptaan baru, kita seumpama bayi yang baru lahir. Tentu kita memerlukan susu rohani yaitu firman Tuhan.” Dan jadilah sama seperti bayi, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani...” (1 Petrus 2 : 2).
Kita harus secara teratur membaca dan merenungkan firman Tuhan supaya kita dapat bertumbuh menjadi orang yang dewasa rohaninya. Sesudah seseorang  memasuki hidup baru di dalam Kristus, wajarlah bila ia rindu agar orang lain juga diselamatkan atas kesadarannya sendiri dan berdasarkan pengalaman keselamatannya. Ia dapat bersaksi supaya orang lain juga diselamatkan. Itulah salah satu tujuan baru ”sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang aku mengutus kamu.” (Yohannes 20 : 21). Dalam 2 Karintus 5 : 20a, menyatakan, ”Jadi kamu ini adalah utusan-utusan Kristus.... Dalam 2 Korintus 5 : 19 b menyatakan, ”Allah mempercayakan berita kedamaian itu kepada kami.”


BAB VI
PERTOBATAN
6.1 Pengertian Pertobatan
          Banyak orang memahami istilah “pertobatan” berarti “berbalik dari dosa.” Ini bukanlah definisi Alkitab mengenai pertobatan. Dalam Alkitab, kata “bertobat” berarti “berubah pikiran.” Alkitab juga memberitahu kita bahwa pertobatan yang sejati akan menghasilkan perubahan tindakan (Lukas 3:8-14, Kisah Rasul 3:19). Kisah 26:20 menyatakan, “Tetapi mula-mula aku memberitakan bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.” Definisi pertobatan yang sepenuhnya secara Alkitabiah adalah perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan tingkah laku.
          Kalau demikian, apa hubungan antara pertobatan dan keselamatan? Kitab Kisah Rasul nampaknya secara khusus memusatkan perhatian pada pertobatan dalam hubungannya dengan keselamatan (Kisah 2:38, 3:19; 11:18; 17:30; 20:21; 26:20). Bertobat, dalam kaitannya dengan keselamatan, adalah merubah pikiran Anda dalam hubungannya dengan Yesus Kristus. Dalam khotbah Petrus pada hari Pentakosta (Kisah 2) dia mengakhirinya dengan panggilan agar orang-orang bertobat (Kisah 2:38). Bertobat dari apa? Petrus memanggil orang-orang yang menolak Yesus Kristus (Kisah 2:36) untuk mengubah pikiran mereka mengenai Dia, untuk mengakui bahwa Dia sungguh-sungguh adalah “Tuhan dan Kristus” (Kisah 2:36). Petrus memanggil orang-orang untuk mengubah pikiran mereka dari menolak Kristus sebagai Mesias menjadi beriman kepadaNya sebagai Mesias dan Juruselamat.
           Pertobatan dan iman dapat dipahami sebagai “dua sisi dari koin yang sama.” Tidaklah mungkin beriman kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat tanpa terlebih dahulu mengubah pikiran Anda mengenai siapa Dia dan apa yang telah Dia lakukan. Apakah ini adalah pertobatan dari penolakan secara sengaja, atau pertobatan dari ketidakacuhan atau ketidaktertarikan – itu adalah perubahan pikiran. Pertobatan Alkitabiah, dalam hubungannya dengan keselamatan, adalah merubah pikiran Anda dari menolak Kristus menjadi beriman kepada Kristus adalah penting untuk memahami bahwa pertobatan bukanlah hasil karya kita demi untuk mendapatkan keselamatan. Tidak ada seorangpun dapat bertobat dan datang kepada Allah kecuali kalau Allah menarik orang tsb. kepadaNya (Yohanes 6:44). Kisah 5:31 dan 11:18 mengindikasikan bahwa pertobatan adalah pemberian Allah – yang dimungkinkan semata-mata karena anugrahNya. Tidak ada seorangpun yang dapat bertobat kecuali kalau Allah menganugrahkan pertobatan. Segala yang bersangkutan dengan keselamatan, termasuk pertobatan dan iman, adalah hasil dari Allah menarik kita, membuka mata kita, dan mengubah hati kita. Panjang sabar Allah menuntun kita kepada pertobatan (2 Petrus 3:9), demikian pula kebaikanNya (Roma 2:4).
           Sekalipun pertobatan bukanlah pekerjaan yang menghasilkan keselamatan, pertobatan yang menuntun pada keselamatan pasti menghasilkan suatu karya. Adalah tidak mungkin untuk benar-benar dan secara keseluruhan mengubah pikiran Anda tanpa hal itu menyebabkan perubahan dalam perilaku. Dalam Alkitab pertobatan menghasilkan perubahan tingkah laku. Itu sebabnya Yohanes Pembaptis berseru agar orang-orang “menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan” (Matius 3:8). Seseorang yang benar-benar telah bertobat dari penolakan akan Kristus kepada iman akan Kristus akan nyata melalui hidup yang berubah (2 Korintus 5:17, Galatia 5:19-23, Yakobus 2:14-26). Pertobatan, didefinisikan secara tepat, adalah perlu untuk keselamatan. Pertobatan yang Alkitabiah adalah mengubah pikiran Anda mengenai Yesus Kristus dan berbalik kepada Allah dalam iman untuk keselamatan (Kisah 3:19). Berbalik dari dosa bukanlah definisi dari pertobatan, melainkan adalah salah satu hasil dari pertobatan yang sejati, yang berlandaskan iman yang menuntun kepada Tuhan Yesus Kristus.

6.2 Pertobatan yang Sejati dan yang Palsu
Charles G Finney
"Sesungguhnya, kamu semua yang menyalakan api dan yang memasang panah-panah api, masuklah ke dalam nyala apimu, dan ke tengah-tengah panah-panah api yang telah kamu pasang! Oleh tangan-Kulah hal itu akan terjadi atasmu; kamu akan berbaring di tempat siksaan." Yesaya 50:11
           Kita bisa melihat dari ayat ini bahwa sang nabi sedang berbicara kepada mereka yang mengaku sebagai orang-orang religius, dan membanggakan diri dengan ide bahwa mereka berada dalam keselamatan. Namun kenyataannya, harapan mereka hanyalah api yang mereka sulut ke obor yang mereka ciptakan sendiri.
           Sebelum saya membahas lebih jauh pokok tentang pertobatan yang sejati dan yang palsu, saya ingin sampaikan bahwa pembahasan ini hanya bermanfaat bagi mereka yang mau dengan jujur menerapkannya kepada diri mereka sendiri. Jika Anda berharap untuk bisa mendapat sesuatu manfaat dari apa yang akan saya sampaikan, Anda harus tetapkan untuk membuat penerapan yang tulus secara pribadi. Bersikap jujurlah seperti jika Anda akan menghadap Tuhan. Jika Anda bersedia melakukannya, saya harap Anda akan bisa dapati seperti apa sesungguhnya hubungan Anda dengan Tuhan.
          Jika saat ini Anda sedang disesatkan, saya berharap untuk bisa membawa Anda pada jalur keselamatan yang benar. Namun jika Anda tidak bersikap jujur, maka khotbah saya ini akan menjadi sia-sia saja, dan Anda juga sia-sia mendengarkannya.
Saya berencana untuk menunjukkan perbedaan antara pertobatan yang sejati dan yang palsu mengikuti urutan pembahasan seperti ini:
I. Menunjukkan bahwa keadaan alami manusia adalah keadaan yang murni egois
II. Menunjukkan bahwa karakter orang Kristen itu berisi kebajikan. Artinya, [seorang Kristen itu] memilih untuk membahagiakan orang lain.
III. Menunjukkan bahwa kelahiran kembali di dalam Kristus Yesus merupakan suatu perubahan dari keegoisan menuju kebajikan.
IV. Menunjukkan beberapa bidang di mana orang-orang Kudus dan orang-orang berdosa, atau orang yang bertobat secara sejati dengan yang palsu, memiliki kesamaan dan juga perbedaan dalam hal-hal tertentu.
V. Menjawab beberapa persoalan
VI. Menyimpulkan dengan menyajikan beberapa penekanan.

I. Keadaan alami seorang manusia, atau cara hidup manusia sebelum betobat adalah keegoisan yang murni dan tidak ada campuran [kebaikan apapun] di dalamnya.
Keegoisan itu berarti menempatkan kebahagiaan pribadi Anda sebagai yang paling utama, dan juga mengejar keuntungan pribadi Anda. Orang yang egois menempatkan kebahagiaan pribadinya di atas segala yang lain, misalnya diatas kemuliaan Allah dan kebaikan seisi alam. Sangatlah jelas bahwa semua orang berada dalam keadaan ini sebelum bertobat. Hampir semua orang tahu bahwa orang-orang berurusan antara satu dengan yang lain berdasarkan prinsip keegoisan. Kalau ada orang yang menafikan hal ini, lalu coba berurusan dengan orang lain dengan cara yang tidak egois, maka dia akan dianggap bodoh.

II. Karakter seorang Kristen itu berisi kebajikan
Watak yang berisi kebajikan itu berarti suka membahagiakan orang lain, atau, lebih memilih untuk membahagiakan orang lain. Ini adalah pola pikir Allah. Kita diberitahu bahwa Allah itu kasih; artinya, Dia itu penuh kebajikan. Kebajikan memenuhi segenap kepribadian-Nya. Semua kualitas kepribadian-Nya yang lain hanya merupakan ungkapan berbeda dari kebajikan-Nya.
Setiap orang yang bertobat memiliki kecenderungan untuk menyerupai kepribadian Allah. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa tak seorang pun yang bisa disebut bertobat jika dia tidak benar-benar memiliki kebajikan seperti Allah secara murni dan sempurna - melainkan bahwa kecenderungan pilihannya adalah pilihan berdasarkan kebajikan. Dia dengan tulus mengupayakan kebahagiaan orang lain, bukan karena hal itu akan membuatnya berbahagia nantinya.
Allah memiliki kebajikan yang murni dan tidak egois. Dia tidak membahagiakan orang-orang demi kesenangan pribadi-Nya, melainkan karena Dia memang mencintai kebahagiaan orang lain itu. Dia bukannya tidak berbahagia di dalam memberkati mereka, tapi kebahagiaan pribadi-Nya bukanlah tujuan yang Dia kejar. Orang yang tidak egois menemukan kebahagiaan saat mengerjakan perbuatan baik. Jika dia tidak gemar berbuat baik, tentunya perbuatan baik itu tidak menjadi hal yang dia utamakan.
Kebajikan adalah kekudusan. Itulah hal yang dituntut oleh hukum Allah, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu" dan, "Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." ," (Mat. 22.37, 39) Sama seperti orang yang sudah bertobat itu menaati hukum Allah, dia juga penuh kebajikan seperti Allah.

III. Pertobatan sejati adalah perubahan dari keegoisan puncak menuju kasih kepada kebahagiaan orang lain
Pertobatan yang sejati adalah perubahan atas tujuan yang Anda kejar, dan bukan sekadar perubahan dalam cara Anda mengejar cita-cita Anda.  Tidak benar jika dikatakan bahwa orang yang bertobat dengan yang tidak bertobat itu memiliki cita-cita yang sama, dan perbedaannya hanya terletak pada cara mengejarnya. Ini sama saja dengan mengatakan bahwa malaikat Gabriel dan Iblis sama-sama berjuang mengejar kebahagiaan pribadi mereka, hanya saja cara mereka mengejarnya berbeda. Gabriel mentaati Allah bukan dalam rangka mengejar kebahagiaan pribadinya.
Seseorang bisa saja mengubah cara dia bertindak, namun tetap mengejar kebahagiaan pribadinya. Dia bisa saja orang yang tidak percaya kepada Yesus, atau pada kekekalan, akan tetapi dia bisa melihat bahwa berbuat baik itu bisa menguntungkannya di dunia ini dan memberi dia banyak keuntungan pribadi (yang bersifat sementara). Anggaplah orang ini akhirnya bisa melihat realitas dari kekekalan dan memeluk agama dalam rangka mendapati kebahagiaan di dalam kekekalan itu. Nah, setiap orang tahu bahwa tidak ada hal yang berharga yang bisa didapati di sini. Bukan pelayanannya kepada Tuhan yang memberkati Tuhan, melainkan alasan mengapa dia melayani Allah itulah yang terpenting.
Petobat sejati menjadikan kemuliaan Allah dan kemajuan Kerajaan-Nya sebagai cita-citanya. Dia memilih hal tersebut sebagai tujuan hidupnya, karena dia melihat hal ini sebagai kebajikan yang lebih utama dibandingkan kebahagiaan pribadinya. Bukan karena dia tidak peduli dengan kebahagiaan pribadinya, melainkan karena dia lebih mengutamakan kemuliaan Allah, karena kemuliaan Allah adalah kebajikan yang lebih utama. Dia mengejar kebahagiaan orang-orang lain sesuai dengan makna penting yang bisa dia lihat di sana (sejauh dia mampu menilai hal tersebut), dan dia memilih kebajikan tertinggi itu sebagai cita-cita utamanya.

IV. Beberapa bidang di mana orang kudus sejati dan orang yang disesatkan memiliki kesamaan - dan bidang-bidang di mana mereka berbeda

1. Mereka bisa sepakat dalam hal kehidupan yang dikendalikan oleh moralitas yang tinggi.
Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati menjalani kehidupan yang bermoral karena mereka mengasihi kekuusan - orang yang disesatkan memiliki motivasi yang egois. Dia akan memanfaatkan moralitas sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, demi kebahagiaan pribadi mereka.

2. Mereka bisa saja sama-sama giat berdoa, sejauh yang bisa dilihat secara langsung.
Perbedaannya terletak pada motivasi mereka. Orang kudus sejati memang mengasihi doa - orang yang disesatkan berdoa karena mereka berharap untuk bisa memperoleh keuntungan dengan doa mereka. Orang kudus sejati memang mengharapkan suatu hasil dari doa mereka, akan tetapi hal ini bukanlah motivasi utama mereka. Petobat palsu berdoa murni dengan motivasi yang egois.

3. Mereka bisa terlihat sama-sama bersemangat dalam hal keagamaan.      
Orang bisa saja memiliki semangat yang tinggi mengikuti pengetahuan mereka, dan dia memang secara tulus berhasrat untuk melayani Tuhan. Petobat palsu bisa juga menunjukkan semangat yang tinggi, namun dengan tujuan menjamin keselamatan pribadinya, dan juga karena dia takut masuk neraka kalau dia tidak bekerja buat Tuhan. Mungkin dia juga melayani Allah demi meredam desakan hati nuraninya, bukan karena dia mengasihi Tuhan.

4. Mereka bisa terlihat sama-sama mengasihi hukum Allah.
Orang kudus sejati mengasihi hukum Allah karena kesempurnaan, kekudusan,keadilan dan kebaikan dari hukum tersebut; orang yang egois mengira bahwa jika menjalankan hukum tersebut dia bisa menikmati kebahagiaan pribadi.


5. Mereka bisa terlihat sama-sama mendukung sanksi-sanksi yang terkandung dalam hukum Allah.
Orang kudus sejati mengaitkan hukum Allah dengan diri pribadi mereka dalam pengertian bahwa sangatlah adil jika Allah memasukkan mereka ke dalam neraka. Orang yang disesatkan bisa saja menghormati hukum tersebut, karena dia tahu bahwa aturan yang ditegakkan di sana memang benar, akan tetapi dia merasa bahwa dirinya tidak berada dalam cakupan hukum tersebut.

6. Mereka bisa saja menolak beberapa hal yang sama.
Menyangkal diri bukan hal yang dilakukan oleh kalangan orang kudus saja. Coba lihat pengorbanan dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh kaum muslim, yang menjalankan ibadah haji ke Mekah. Lihatlah disiplin dan penyangkalan diri yang dilakukan oleh orang-orang yang tersesat di dalam berbagai macam aliran kepercayaan timur itu. Orang kudus sejati menyangkal dirinya untuk bisa lebih banyak berbuat baik kepada orang lain. Pengorbanan dirinya tidak dilakukan demi meninggikan diri ataupun kepentingannya. Orang yang tersesat bisa saja melakukan hal yang sebanding dengan hal tersebut, akan tetapi murni dari niat yang egois.

7. Mereka bisa saja sama-sama memiliki kerelaan untuk mengorbankan nyawa.
Bacalah kisah kehidupan para martir dan Anda bisa lihat betapa mereka memiliki kerelaan untuk berkorban bahkan demi ide yang salah mengenai imbalan yang akan diterima dengan pengorbanan mereka. Banyak orang yang berani menerjang maut karena keyakinan bahwa cara yang sedang mereka jalani adalah jalan yang paling benar yang menuju kekekalan.

8. Keduanya bisa saja memiliki kerelaan untuk berkorban sangat besar untuk menjalankan kebenaran.
Petobat yang sejati melakukan hal itu karena dia mengasihi kebenaran, sedangkan petobat yang palsu melakukannya karena dia tahu bahwa dia tidak bisa diselamatkan jika tidak menjalankan kebenaran. Dia bisa saja bersikap jujur dalam transaksi bisnisnya, namun tanpa motivasi yang lebih mulia, maka tindakannya itu tidak akan dihargai oleh Allah.


9. Mereka bisa saja menghasratkan hal yang sama di dalam beberapa bidang
Mereka bisa sama-sama berhasrat untuk menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Petobat yang sejati berhasrat menjadi orang yang berguna karena memang sangat menghargai nilai orang yang berguna bagi masyarakat, sedangkan petobat yang palsu menghasratkan hal itu karena dia memandang bahwa itu adalah jalan untuk menjadi berkenan kepada Allah.
Mereka bisa sama-sama mengharapkan orang lain bertobat. Bagi orang kudus sejati, karena hal itu akan memuliakan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, hal itu dalam rangka mendapatkan perkenan dari Allah. Dia akan dimotivasi oleh niatan tersebut, misalnya di saat dia sedang memberikan uang. Setiap orang tahu bahwa seseorang bisa memiliki kerelaan untuk menyumbang ke sebuah organisasi, ataupun Perhimpunan Misionaris, berlandaskan motivasi yang egois untuk mendapatkan kebahagiaan dari pujian dari manusia, atau mengejar perkenan dari Allah. Dengan demikian, dia juga bisa saja mengharapkan pertobatan dari orang-orang, dan berusaha keras untuk mewujudkannya, namun dengan berlandaskan motivasi yang egois.
Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk memuliakan Allah. Orang kudus yang sejati menghasratkan itu karena dia ingin melihat Allah dimuliakan, sedangkan orang yang tersesat melakukannya karena dia memandang hal itu sebagai satu-satunya jalan untuk diselamatkan. Petobat yang sejati mengarahkan hatinya mengejar kemuliaan bagi Allah. Sedangkan pihak yang tersesat menghasratkan hal itu demi keuntungan pribadinya.
Mereka bisa saja sama-sama berhasrat untuk bertobat. Petobat yang sejati membenci dosa karena dosa itu menyakitkan dan mempermalukan Allah, oleh karenanya, dia ingin bertobat dari dosanya. Petobat yang palsu juga ingin bertobat karena dia menganggap bahwa kalau tidak bertobat, maka dia akan dihukum.
Mereka bisa sama-sama ingin mentaati Allah. Orang kudus yang sejati taat supaya dia bisa meningkatkan kekudusannya. Petobat yang palsu mentaati Allah karena dia mengharapkan imbalan dari ketaatannya.

10. Mereka bisa mengasihi hal yang sama
Mereka bisa saja sama-sama mengasihi Alkitab. Bagi petobat sejati hal  ini karena Alkitab itu adalah kebenaran dari Allah. Dia bergemar di dalam kasihnya pada Alkitab. Orang yang tersesat mengasihi Alkitab karena mengira bahwa isi Alkitab mendukungnya, dan memandang isi Alkitab sebagai suatu rencana yang akan menggenapi harapannya.
Mereka bisa sama-sama mengasihi Allah - yang satu karena melihat bahwa karakter Allah itu begitu indah dan menyenangkan, dan dia mengasihi Allah demi menyenangkan hati Allah. Yang satunya lagi, karena dia mengira bahwa Allah adalah sahabat khusus yang akan membuatnya bahagia selamanya, lalu dia mengaitkan pemahaman tentang keberadaan Allah itu dengan kepentingan egoisnya.
Mereka bisa sama-sama mengasihi Kristus. Petobat sejati mengasihi karakter Kristus. Orang yang tersesat mengira bahwa Kristus akan menyelamatkannya dari neraka, dan memberi dia hidup yang kekal...jadi, dia merasa tidak punya alasan untuk tidak mengasihi Kristus.
Mereka bisa sama-sama mengasihi orang Kristen. Petobat yang sejati melakukannya karena dia melihat gambaran Kristus di dalam diri orang-orang Kristus, dan bisa menikmati kebersamaan rohani dengan orang-orang Kristen tersebut. Orang yang tersesat mengasihi orang-orang Kristen karena kesamaan denominasi, atau mungkin juga mereka berada di pihak yang sama. Dia juga gemar membicarakan tentang minatnya pada kekristenan dan harapannya untuk bisa masuk ke surga.
Mereka bisa sama-sama gemar menghadiri ibadah-ibadah keagamaan. Bagi orang kudus, hal ini karena hatinya memang gemar akan penyembahan, doa, memanjatkan pujian dan berbagi Firman Allah - sedangkan bagi orang yang tersesat, hal ini karena acara-acara kebaktian itu merupakan tempat yang bagus untuk menaikkan harapannya.
Keduanya bisa sama-sama menikmati saat-saat berdoa secara pribadi. Bagi orang kudus sejati, hal ini karena dia dekat dengan Allah dan bergemar dalam persekutuan dengan-Nya. Bagi orang yang tersesat, hal ini karena dia memperoleh kepuasan karena merasa dirinya adalah orang benar, merasa bahwa sudah merupakan tugasnya untuk berdoa secara pribadi.
Mereka bisa sama-sama mengasihi doktrin kasih karunia - bagi orang kudus sejati, hal ini karena hal tersebut sangat memuliakan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal ini karena mengira bahwa ajaran tersebut menjamin keselamatan pribadi mereka.

11. Mereka bisa sama-sama membenci sesuatu hal
Mereka bisa sama-sama membenci kebejatan seksual serta menentangnya dengan sangat keras - orang kudus sejati membencinya karena hal itu bersifat merusak dan bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi yang tersesat hal itu bisa saja karena bertentangan dengan pandangan pribadinya.
Mereka bisa sama-sama membenci dosa - bagi petobat sejati, hal itu karena dosa bertentangan dengan Allah, sedangkan bagi orang yang tersesat, karena dosa telah menyakitinya. Seringkali orang membenci dosa-dosa mereka sendiri, akan tetapi mereka tidak meninggalkan dosa-dosa itu.
Mereka bisa sama-sama menentang orang berdosa. Penentangan yang dilakukan oleh orang kudus sejati dilandasi oleh kasih. Mereka melihat bahwa karakter dan perilaku si orang berdosa itu akan merusak Kerajaan Allah. Bagi orang yang tersesat, mereka menentang orang berdosa karena agama yang berbeda atau karena berada di pihak yang berbeda.

6.3 Babtisan
a.  Babtisan Air
1. Mengapa Orang Kristen Harus dibabtis
Babtisan bukan sekedar upacara peresmian untuk menjadi orang kristen. Tetapi babtisan air dan babtisan Roh Kudus merupakan pernyataan Iman yang tidak bisa dipisahkan dari langka “ pertobatan “. Yesus sendiri berkata “ siapa percaya dan Dibabtis akan diselamatkan “ ( Mark 16 : 16 ). Jadi langkah-langkah yang Tuhan ajarkan kepada adalah percaya dulu, kemudian baru dibabtis. Percaya kepada Allah akan menimbulkan suara perubahan dalam hati, sedangkan tindakan memberi diri dibabtis merupakan suatu tindakan lahiriah untuk menunjukkan ketaatan kita pada perintah-Nya.
2. Babtisan Dan  Syaratnya
Semua orang percaya harus dibabtis, karena itu kebenaran Tuhan harus digenapi dalam kehidupan kita. Namun ada dua persyaratan yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum dibabtis, yaitu:
Percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruslamat umat manusia
Bertobat dari dosa-dosanya
3. Makna pembabtisan
Babtisan berarti :
1.      Proklamasi kepada dunia bahwa kita tidak ada hubungannya lagi dengannya ( Roma 6 : 3-4 )
2.      Pengakuan kepada gereja bahwa tubuh Kristus bahwa kita adalah bagian darinnya.
3.      pengakuan kepada sorga bahwa kita percaya akan kematian dan kebangkitan Yesus ( 1 Kor 15 : 3-4 )
4. pengakuan kepada Neraka / Iblis kita telah selesai dengannya dan berpindah kepada pihak Allah.
b.  Baptisan Roh Kudus
Baptisan Roh Kudus dapat didefinisikan sebagai karya Roh Allah yang mempersatukan orang percaya dengan Kristus dan dengan orang-orang percaya lainnya dalam Tubuh Kristus pada saat orang itu diselamatkan. 1 Korintus 12:12-13 dan Roma 6:1-4 adalah ayat-ayat utama dalam Alkitab yang mengajarkan doktrin ini. 1 Korintus 12:13 mengatakan, “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.” Roma 6:1-4 mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Meskipun Roma 6 tidak secara khusus menyebut Roh Allah, bagian Alkitab ini menggambarkan kedudukan orang percaya di hadapan Allah dan 1 Korintus 12 memberitahu kita bagaimana hal itu terjadi.
 Fakta yang perlu diperhatikan untuk menguatkan pengertian kita akan baptisan Roh. Pertama, 1 Korintus 12:13 dengan jelas menyatakan bahwa semua telah dibaptis sama seperti semua telah diberi minum (berdiamnya Roh Kudus). Kedua, Alkitab tidak pernah menasehati orang-orang percaya untuk dibaptiskan dengan/dalam/oleh Roh. Ini menunjukkan bahwa semua orang percaya telah mengalami pelayanan ini. Akhirnya, Efesus 4:5 nampaknya menunjuk pada baptisan Roh. Jikalau ini memang demikian, baptisan Roh adalah kenyataan hidup dari setiap orang percaya, sama seperti, ”satu iman” dan ”satu Bapa.”
Sebagai kesimpulan, baptisan Roh Kudus menggenapi dua hal, (1) menyatukan kita dengan Tubuh Kristus, dan (2) mengaktualisasikan penyaliban kita bersama dengan Kristus. Berada dalam tubuh Kristus berarti kita bangkit bersama dengan Dia dalam hidup yang baru (Roma 6:4). Kita perlu menggunakan karunia rohani kita untuk memastikan bahwa tubuh itu berfungsi sebagaimana mestinya seperti yang dijelaskan dalam 1 Korintus 12:13. Mengalami baptisan dari Roh yang sama menjadi dasar untuk memelihara kesatuan gereja seperti yang dikatakan dalam Efesus 4:5. Menjadi sama dengan Kristus dalam kematian, penguburan dan kebangkitanNya melalui baptisan Roh menjadi dasar untuk mewujudkan pemisahan kita dari kuasa dosa dan untuk kita berjalan dalam hidup yang baru (Roma 6:1-10; Kolose 2:12).


BAB VII
HIDUP DALAM KEKUDUSAN
7.1  Pengrtian Kekudusan
Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. – 1 Petrus 1:13-16
Salah satu definisi kekudusan adalah berada dalam keadaan murni. Dalam bahasa Ibrani, kudus adalah ” kadosh” artinya naik lebih tinggi. Dalam bahasa Inggris, definsi kudus adalah “ cut above” artinya di atas rata-rata. Tuhan memanggil kita untuk naik ke standar-Nya, untuk hidup sebagaimana Dia hidup dan berpikir sebagaimana Dia berpikir. Inilah panggilan Tuhan gereja-Nya: “ Kuduslah kamu, sebab Aku kudus”.
Orang yang sombong berpikir bahwa ia dapat mencapai kekudusan dengan mengandalkan kekuatannya untuk mentaati berbagai peraturan. Sebaliknya, orang yang rendah hati tahu bahwa ia tidak dapat mencapainya. Ia bergantung pada anugerah dan kekuatan Allah; dan Allah memberikan anugerah kepada orang yang rendah hati. Kekudusan adalah pekerjaan anugerah Allah, bukan hasil kekuatan daging. Sebab tanpa kasih karunia Tuhan, tidak ada orang yang mampu hidup dalam kekudusan. “ Karena itu, saudara-saudara demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)
Dalam alkitab versi NKJ, “ibadahmu yang sejati“ dikatakan sebagai ’’ your reasonable service“. Reasonable artinya dapat dijangkau, berada dalam jangkauan kemampuan. Dengan kata lain, hidup dalam kekudusan adalah kehidupan yang dapat dijangkau, dan merupakan kehidupan Kristen rata-rata, bukan sesuatu yang mustahil. Nah, bagaimana kita dapat hidup dalam kekudusan?

1. Hidup dalam takut dan hormat kepada Allah
Ibrani 12:28 berkata “ Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”


2. Belajar firman Tuhan, sebab firman adalah ilham Allah
(2 Timotius 3:16 – Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran). Dalam bahasa Gerika, ilham adalah “ Teos neuma” artinya nafas Allah.

3. Memperbarui pikiran dengan firman.
            “ Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.“ – Roma 12:2. Dalam bahasa Inggrisnya “ be transformed” artinya menyeberang dari dunia, naik ke tempat yang lebih tinggi. Sekalipun kita hidup di dunia, tetapi berjuang untuk bersikap sama seperti Tuhan.

4. Fokus pada karakter Tuhan dan bukan pada peraturan
Karena peraturan mematikan, tetapi karakter dan kasih karunia-Nya memampukan kita hidup kudus. Law gives you the picture of holiness, but grace gives you the power to live holy. Ketika Tuhan beri perintah, maka Dia juga akan memberikan kasih karunia-Nya agar kita mampu melakukan perintah-Nya.

7.2  Tujuan Kekudusan.
Sebagai umat yang diselamatkan dari belenggu dosa, dan telah menjadi anak-anak Allah harus menjaga kekudusan. Kita harus berusaha hidup kudus dan damai dengan sesama Orang dan kejarlah kekudusan itu, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan. Bacaan: 1 Petrus 1:13-19 “...tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,...” (1 Petrus 1:15). Bacaan ini dengan jelas menghendaki agar manusia hidup dalam kekudusan. Karena Tuhan adalah kasih dan sayang seadanya, sehingga Dia tidak ingin melihat umatNya hidup dalam kuasa Iblis yang akhirnya menyeret dalam kebinasaan. Mengapa kita harus hidup kudus? Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa Tuhan memerintahkan umatNya untuk hidup kudus:
1.      Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang kudus. Kita harus berdoa kepada Tuhan agar Dia menguatkan dan memampukan kita untuk dapat hidup dalam kekudusan. Karena jika kita tidak hidup kudus maka kita tidak dapat melihat Tuhan (Ibr. 12:14). Memang dalam hidup ini banyak sekali godaan dan tawaran yang dapat membuat kita tergelincir, dan akhirnya jatuh dalam dosa. Namun, Tuhan sebenarnya telah menyediakan bagi kita senjata untuk melawan godaan tersebut (Ef. 6:10-20).
2.      Ketidakkudusan adalah suatu kebodohan. Mengapa? Sebab, Tuhan adalah kudus adanya, Dia tidak dapat berkumpul dengan dosa. Jadi, kalau kita tidak kudus yang artinya hidup kita berdosa maka kita jauh dari Tuhan. Dan kita tahu kalau hidup kita jauh dari Tuhan maka yang ada hanyalah sebuah kehancuran.
3.      Hanya umat kudus yang dijemput Tuhan (1 Kor. 1:8). Sorga itu hanya diperuntukkan bagi orang-orang kudus.
4.      Agar kita memperoleh berkat-berkat Tuhan yang sudah Tuhan janjikan bagi umat-Nya yang hidup dalam kekudusan.

Dengan keempat poin kebenaran Fiman Tuhan di atas, maka kita sebagai umat pilihan Tuhan untuk selalu hidup kudus. Memang berat untuk dapat hidup selalu dalam kebenaran dan kekudusan itu, namun bila kita ingin hidup kudus maka Tuhan akan memberikan kekuatan bagi kita. Sebagaimana kita tahu bahwa Iblis tidak akan tinggal diam manakala kita semakin berusaha untuk hidup kudus.
Dalam surat Petrus, Yesus Kristus, yang ditujukan pada orang-orang yang dipilih sesuai dengan rencana Allah  Bapa dan yang dikuduskan oleh Roh, antara lain ada himbauan: "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, (I  Petrus 1:14) tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil  kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (I Petrus 1:15-16)
Petrus menganggap perlu sekali menghimbau pada orang-orang seiman dengan dia - yang disebutnya orang-orang yang  dipilih sesuai rencana Allah Bapa- supaya hidup dalam kekudusan; Ia khawatir jika diantara mereka ada yang tidak memahami bahwa sebagai orang-orang percaya dan pengikut Tuhan Yesus tidak boleh lagi turut tata hidup  masyarakat di masa itu. Kehidupan spiritual (rohani) masyarakat saat itu sarat dengan penyembahan dewa-dewi, yang merupakan suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Tuhan Yesus. Dan apa yang diajarkan Tuhan Yesus tentang penyembahan? "....... penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki  penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh. 4:23b-24)
Apalagi kehidupan masyarakat sehari-hari yang bermuatan pemikiran-pemikiran dan perbuatan-perbuatan seperti yang  ditulis Petrus "turuti hawa nafsu yang menguasai"dan yang membawa orang pada percabulan, perseteruan, iri hati,  kedengkian, amarah. Semuanya itu menjauhkan bahkan memisahkan umat Kristus dari Tuhan Yesus. Maka seruan rasul Petrus untuk menjadi kudus dalam seluruh kehidupan ini, yang ditulis dalam suratnya, tidaklah  berlebihan.
Masa kini umat Kristen mungkin tidak lagi menyembah dewa-dewi beserta patung-patungnya. Tetapi, ada banyak ajaran-ajaran diluar Injil Kristus yang mempunyai kuasa dan pengaruh besar sehingga ada orang-orang Kristen terbawa /menyimpang dan keluar dari jalan Kebenaran di dalam Tuhan Yesus. Tidak hanya ajaran-ajaran spiritual saja, melainkan  pengetahuan dan tekhnologi "modern" mempengaruhi kehidupan orang; ini membuat orang berpikir bahwa semesta  alam ini dapat dikendalikannya, dengan demikian ia beranggapan tidak perlu pertolongan Tuhan.  II Timotiu 3 : 2-4" Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombong-kan diri,  mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak  mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri,  garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah."Kiranya tulisan ini boleh mendapatkan dari kita umat Kristiani, agar kita mau taat akan Fiman Tuhan dan mau hidup  dalam kekudusan ,sebab: "...tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14b). Dunia sedang menuju ambang kebinasaan, banyak terjadi kekacauan, peperangan, bencana alam dan lain sebagainya, dan banyak orang mulai mencari jati diri dalam kehidupan ini.
Jati diri kita seharusnyalah sesuai dengan panggilanNya kepada kita agar kira hidup dalam kekudusan karena Ia kudus adanya, seperti yang dikatakan oleh Fiman, “Sebab ada tertulis : Kuduslah kamu , sebab Aku kudus” (1 Petrus 1 : 6). Kita harus hidup dalam terang FimanNya agar kemurahanNya terpancar sebagai impartasi bagi kehidupan orang lain.
Allah tidak terkesan hanya dengan perbuatan baik, Ia tidak dapat disogok hanya dengan perbuatan baik tetapi Ia berkenan pada orang-orang yang hidup dalam kebenaran FimanNya, oleh karena iman percaya padaNya, karena orang benar akan hidup oleh iman, orang benar akan dipimpin oleh iman yaitu percaya dengan segenap hati pada Fiman yang hidup Yesus Kristus, seperti yang tertulis dalam Roma 1 : 17 “Sebab di dalamNya nyata kebenaran Allah, yang tertolak dari iman dan memimpin kepada iman seperti ada tertulis : Orang benar akan hidup oleh iman.”
Kita tidak memiliki apapun juga untuk dibawa ke salib Kristus, Tuhan menginginkan kita sebagai orang percaya agar kita merespon panggilanNya sesuai dengan kehendakNya yaitu kudus dalam namaNya untuk menjadi orang-orang kudus untuk melakukan impartasi kepada orang-orang di sekitar kita agar lebih banyak lagi yang berseru kepada Tuhan kita Yesus Kristus yang hidup  (1 Kor 1 : 2 ).
Sebagai umat pilihan yang terpanggil, kita harus menjaga kebersihan tangan kita yaitu perbuatan-perbuatan kita dan kemurnian hati untuk tidak melakukan dosa yang tidak berkenan kepadaNya agar keadilanNya, kemurahanNya, berkatNya dan keselamatan yang dijanjikanNya menjadi milik kita  ( Mazmur 24 : 4, 5 ).
Doa: Bapa, ajar kami untuk selalu hidup kudus dan mampukan kami untuk dapat berkata tidak terhadap rayuan si jahat. Amin.



BAB VIII
HIDUP DI PENUHI OLEH ROH KUDUS

8.1 BAGAIMANA HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH KUDUS
Tidak ada yang paling membahagiakan didalam hidup ini selain hidup yang berkenan dihatinya Tuhan , karena jika Tuhan berkenan maka pintu surga terbuka bagi kita dan tanda pintu surga terbuka adalah doa - doa kita dijawab oleh Tuhan , mujizat terjadi , suasana rumah tangga penuh dengan kedamaian dan sukacita yang berlimpah - limpah .
Namun bagaimana kita bisa hidup dipimpin oleh Roh Kudus sehingga berkenan dihatiNya ;

1. Penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan
Menyerah kepada Tuhan adalah seperti membuka hati kita untuk menerima pemberianNya , selama kita tetap memegang beberapa batu yang kita dapatkan maka Ia tidak bisa memberikan berlian yang Ia sediakan bagi kita . Untuk itu kita harus membuka tangan kita, membuang segala sesuatu yang kita pegang , kita harus menyerahkan kepercayaan yang berasal dari dunia untuk dapat menerima kepercayaan yang  dari Tuhan saja. Satu-satunya jalan untuk dapat mengalami kebahagiaan sejati didalam hidup ini yaitu ketika kita mau mati bagi diri sendiri setiap hari dan menerima kehidupan yang Yesus tawarkan , itulah yang disebut dengan penyerahan. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; ( Mazmur 37 : 5 )

2. Bergairah kepada Tuhan      
Tuhan sangat merindukan suatu hubungan intim dengan umatNya . Perjalanan hidup baru dalam Kristus dimulai ketika pola hidup lama ditinggalkan itulah penyerahan dan diperlukan gairah untuk meneruskan dan gairah itu adalah api kasih mula - mula kita kepada Tuhan . Itulah sebabnya jangan sampai kasih yang semula kita dengan Tuhan padam , “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat. “ ( Wahyu 2 : 4 - 5 ). Dengan hati yang bergairah kepada Tuhan maka kita akan menjadi orang yang selalu bersedia melakukan perintah Tuhan , karena Yesus berkata : “"Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku “ ( Yohanes 14 : 15 ) dan tanda orang yang mengasihi Tuhan bukan  saja bersedia melakukan yang Tuhan suka tapi bersedia juga untuk menolak sesuatu yang Tuhan tidak suka.

3. Tenggelam di dalam visi dari Tuhan
Tuhan menciptakan manusia , Tuhan membangun gerejaNya dengan tujuan mengalami kehidupan yang supranatural dibumi serta hidup kekal disurga , untuk mencapai tujuan tersebut maka Tuhan berikan visi sebab tanpa visi maka hidup manusia menjadi liar , “Bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum (Amsal 29:18) “Visi Tuhan diberikan kepada kita hanya ketika benar - benar berserah kepada Tuhan , memiliki kegairahan akan Tuhan sehingga keintiman dengan Tuhan juga semakin dalam. Agar kita mengalami penggenapan visi tersebut , maka kita harus tenggelam didalam visi. Seperti halnya kita ditugaskan untuk mengetahui kehidupan didalam hutan , maka kita harus masuk kedalam hutan dengan membawa tenda , lampu senter , peralatan memasak dan lain - lain sehingga kita akan sungguh - sungguh bisa merasakan kehidupan yang berbeda antara didalam hutan dengan diluar hutan. Demikian juga gereja yang dituntun oleh visi dari Tuhan dan tenggelam didalamnya akan mengalami pengalaman - pengalaman hidup yang supranatural karena dipimpin oleh Roh Kudus .

8.2  Cara Hidup  Yang Dipenuhi Roh Kudus
Kisah 2:41-47. Firman ini sangat berguna bagi orang yang sudah dipenuhi oleh Roh Kudus maupun yang belum.

1. Menjaga selalu penuh dalam Firman dan Roh Kudus.
a.      Mereka selalu penuh dengan Firman Tuhan (ayat 42).
Pengajaran rasul-rasul adalah Firman Tuhan. Kalau kita tidak dipenuhi Firman Tuhan, maka:
- Kita tidak bisa hidup dalam tuntunan Firman Tuhan.
- Roh-roh jahat yang sudah diusir keluar akan datang lagi, bahkan mengajak roh-roh yang lebih jahat untuk datang bersama (Matius 12:43-45).
- Kalau kita hanya dipenuhi pengurapan saja dan tidak dipenuhi dengan Firman Tuhan, kita bisa tersesat.
b.      Mereka selalu penuh dengan karya Roh Kudus (ayat 42). Mereka Membangun pergaulan dengan orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus dalam persekutuan.
- Sehingga mereka selalu mendapat impartasi pengurapan.
- 1 Korintus 15:33.
Mereka membangun hubungan yang intim dengan Tuhan dalam doa.
- Pergaulan dengan Tuhan akan mendapat impartasi pengurapan dari Tuhan.
Pengurapan akan makin berkurang kalau tidak selalu diisi, maka kita harus selalu mengisi dalam pergaulan dengan Tuhan dan orang-orang yang penuh dengan Roh Kudus!!!

2. Memakai pengurapan untuk selamatkan jiwa.
a.Mereka memakai pengurapan untuk selamatkan jiwa (ayat 42).
Memecahkan roti disini mempunyai arti juga perjamuan kudus dan perjamuan kudus mengingatkan kita akan pengorbanan Tuhan Yesus yang harus diingat dan diberitakan senantiasa.
b.Karena pengurapan diberikan adalah untuk melayani menjadi saksinya Tuhan yaitu menyelamatkan jiwa (Kisah 1:8; Lukas 4:17-19).
c. Dalam menyelamatkan jiwa, kita harus berani menggunakan otoritas dan kuasa roh kudus (ayat 43).

3. Menjaga kesatuan kita.
a.Mereka senantiasa menjaga kesatuan Visi, kesatuan hati, kesatuan kegerakan (ayat 44; Kisah 4:32).
b.Karena dalam kesatuan pengurapan akan terus mengalir dari atas sampai ke bawah, sehingga semuanya dipenuhi Roh Kudus (Mazmur 133:1-2).
Dalam perpecahan/keretakan tidak bisa menampung minyak pengurapan dan anugerah Tuhan.
Maka marilah kita terus menjaga kesatuan visi dan kesatuan hati.

4. Menjaga kekudusan dan ketulusan.
a.      Tuhan kita adalah kudus maka Tuhan hanya suka diam dan berkarya di tempat atau alat yang kudus (Yosua 3:4; 7:13; 1 Taw 15:12; 2 Taw 29:5).
b.      Marilah kita menguduskan diri sehingga Tuhan senang tinggal dan berkarya dalam kehidupan kita, maka kita akan terus hidup dalam kemenangan dan anugerah Tuhan.

5. Menjaga ketaaatan kita.
a. waktu kita dipenuhi oleh roh kudus; Roh kudus berkarya lebih besar dan menasehati lebih kuat, roh kita juga lebih peka untuk mendengar, tetapi masih tergantung kita mau menaati atau tidak.
 b. Kalau kita mau taat pada pimpinan Roh Kudus maka kita akan ;
1. Akan mengalami kuasa, memijat dan keberhasilan dariTuhan
2. Mendapat buah Roh
3. Roh kudus akan memimpin lebih dalam
Dipenubi oleh Roh Kudus artinya dikuasai Kristus. Roh Kudus datang untuk memuliakan Kristus. Oleh sebab itu, jikalau saya dipenuhi oleh Roh Kudus, saya tinggal di dalam Kristus. Saya berjalan di dalam terang, karena Ia ada di dalam terang,8 dan darah Yesus Kristus akan menyucikan dan tetap menyucikan saya dari segala kejahatan.9 Saya dipenuhi oleh Kristus, karena kata "penuh" berarti dikuasai - tidak seperti Rohot, tetapi seperti seseorang yang dipimpin dan dikuasai oleh Roh Kudus. Dan jikalau saya di-pimpin dan dikuasai oleh Kristus, Ia akan berjalan dengan tubuh saya, hidup dengan kuasa kebangkitanNya di dalam dan melalui saya.
Kenyataan yang mengherankan, bahwa Kristus hidup di dalam kita dan menyatakan kasihNya melalui kita, adalah salah satu kebenaran yang paling penting dari Firman Allah. Menurut Alkitab, standard kehidupan Kristen adalah sangat tinggi dan sangat tidak mungkin untuk dicapai. Hanya ada satu orang saja yang dapat berhasil. Orang itu adalah Yesus Kristus. Sekarang, melalui kehadiranNya di dalam kita, Ia ingin memungkinkan semua orang  yang mau menaruh kepercayaannya kepadaNya agar dapat hidup sama seperti kehidupan Allah sendiri.
Jika kita bersedia memiliki Kristus untuk hidup dengan kehidupan kebangkitanNya di dalam dan melalui kita, kita akan menghasilkan buah-buah Rohani yaltu buah-buah Roh dan jiwa-jiwa yang dimenangkan bagi Kristus seperti pokbk anggur yang subur akan mengeluarkan buah yang lebat. Yesus berkata di dalam Markus 1: 17: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala rnanusia." Adalah kewajiban kita untuk mengikut Kristus - tinggal di dalam Dia. Dan kewajiban Dia adalah menjadikan kita penjala orang. Di dalam Johanes 15:8, Kristus mengatakan: "Dalam hal inilah Bapaku dipermuliakan, yaitu jika-kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu." Seseorang dapat menjadi seorang pendeta yang besar, seorang sarjana Kristen, seorang diakon atau tua-tua, menghadiri pertemuan-pertemuan gereja setiap hari, hidup bersih, bermoral, hafal akan beratus-ratus ayat Kitab Suci, memimpin sebuah koor gereja, dan mengajar Sekolah Minggu, tetapi jika ia tidak menghasilkan buah, yaitu memperkenalkan orang lain kepada Kristus dan hidup suci, maka menurut Firman Allah, ia tidak dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus.

8.3 Ciri-Ciri Orang yang Dipenuhi Roh Kudus
1. Taat pada Roh Kudus
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang taat kepada-Nya dengan sepenuh hati. Roh Kudus bukan "Coca-Cola", yang bila diisi sampai penuh akan meluap. Roh Kudus itu Tuhan, Roh Kudus itu Oknum. Hanya pada saat Oknum Allah menguasai oknum kita, kehendak-Nya menguasai kehendak kita, kebenaran-Nya menguasai pikiran kita, cinta kasih-Nya menguasai emosi kita, maka seluruh keberadaan kita akan dipenuhi oleh-Nya karena kita taat. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus.
Ketika Oknum Allah sudah berada di dalam kita dan menguasai diri kita, pikiran kita tidak dibunuh. Tuhan tidak akan membuat pikiran kita tidak berfungsi, sebaliknya Dia akan memimpin kita, hingga kita menjadi begitu berpengetahuan dan bijaksana, yaitu pengetahuan dan bijaksana yang sesuai dengan firman Tuhan. Lalu, cinta kasih kita bukan lagi mencintai berdasarkan orang yang satu suku dan satu bangsa dengan kita, yang kalau bukan sesuku atau sebangsa, maka kita membencinya. Kita akan dipimpin hingga kita memunyai cinta kasih dan kebencian yang sesuai dengan emosi Tuhan. Kita mencintai yang dicintai Tuhan dan kita membenci yang dibenci-Nya. Kita tidak lagi memedulikan apa suku atau warna kulit orang itu. Kita hanya tahu yang dicintai Tuhan, itulah yang kita cintai, dan yang dibenci Tuhan, itulah yang kita benci. Emosi kita sesuai dengan Tuhan. Kehendak, pilihan, dan kemauan kita sesuai dengan arah pimpinan-Nya. Seluruh keberadaan kita taat pada Roh Kudus yang adalah Tuhan dan Pemimpin kita. Itulah yang disebut dipenuhi Roh Kudus. Jangan mengambil jalan pintas, jangan mengambil fenomena, gejala, atau jalan lain menjadi pengganti yang tidak sesuai dengan prinsip Alkitab.

2. Hidup Kudus
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hidupnya telah diubah oleh pengaruh Roh Kudus dan firman, sehingga dia menjadi orang yang suka akan kekudusan. Karena dipenuhi Roh Kudus, dengan sendirinya orang tersebut tidak menyukai hal yang palsu, yang tidak benar, yang tidak suci, dan yang menyeleweng. Semua hal yang tidak beres akan dia singkirkan. Karena Roh Kudus memenuhi dirinya, maka tidak ada sesuatu yang tidak kudus boleh berada di dalam dirinya. Hidup suci yang dimiliki oleh orang yang dipenuhi Roh Kudus tidak dapat ditiru, diimitasikan, dipalsukan, atau dibuat-buat. Suci adalah suci. "Berbahagialah mereka yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 5:8)
Siapakah di antara kita yang suci? Tidak ada seorang pun yang suci di hadapan Tuhan. Tetapi pada waktu Roh Kudus memenuhi hati kita, paling tidak kita memunyai keinginan untuk menjalani hidup yang suci. Sebelum kita mencapai kualitas kesucian di dalam segala aspek, kita sudah memunyai keinginan yang sempurna. Bila kita mau dibersihkan oleh Tuhan secara total, secara mutlak, dan mau menyerahkan diri kepada-Nya, maka Dia akan memberikan kesucian pada kita, hingga hidup kita memuliakan Dia. Komentar John Calvin mengenai keinginan yang sempurna itu: "Orang suci bukanlah orang yang tanpa dosa, tetapi seseorang yang memunyai kepekaan yang tinggi terhadap dosa sekecil apapun." Sungguh suatu kalimat yang sangat agung!
Pada tubuh kita terdapat bagian-bagian yang sangat kebal, sehingga setelah terkena goresan atau tertusuk selama berapa detik, masih belum terasa sakitnya. Ada bagian yang bila terkena api tidak langsung terasa panas. Namun, ada juga bagian yang bila tersentuh sedikit saja sudah langsung terasa karena saraf pada bagian itu sangat peka. Bila tangan kita terkena pasir, bahkan sampai seluruh tangan kita kotor pun tidak menjadi masalah. Tapi, coba sedikit saja debu pasir masuk ke mata kita, tentu kita akan langsung berteriak. Kita tidak akan tahan karena mata merupakan bagian yang sangat peka. Orang suci adalah orang yang memunyai kepekaan besar terhadap dosa yang sekecil apapun. Seseorang yang dipenuhi Roh Kudus itu sangat peka. Sedikit ketidakberesan, ketidaksucian, atau motivasi yang sedikit kurang benar, akan langsung ditegurnya. Karena kita tidak mau dan hati nurani kita juga tidak menginginkan adanya pemalsuan, kecurangan, penyelewengan, atau ketidakjujuran sedikit pun.
Kesucian yang disertai penyerahan total membuktikan orang itu sudah dipenuhi Roh Kudus. Namun, tidak berarti dia sudah luput dari semua dosa. Jangan percaya pada orang yang mengatakan, "Saya sudah dipenuhi Roh Kudus, sebab itu saya mencapai satu taraf di mana saya tidak mungkin berdosa lagi." Struk datang dari Autralia ke         Nongkojajar, Indonesia, untuk memberikan ajaran bahwa dirinya sudah suci, tidak bisa berdosa lagi. Sampai gurunya datang menegur dia, barulah dia bertobat dan mengaku dirinya salah. Tetapi, orang-orang di Indonesia sudah terlanjur banyak yang dipengaruhi olehnya. Sunsight, di California, berbicara banyak tentang Roh Kudus dan kedatangan Kristus. Ia mengatakan bahwa dia sudah mendapat satu pengertian, di mana wahyu Tuhan berkata kepadanya, "Yesus akan datang sebelum dia mati, sehingga dia tidak perlu mati. Dia akan langsung bertemu dengan-Nya pada waktu Dia datang dan mengangkat dirinya." Nyatanya, tak lama kemudian dia mati. Semua itu menunjukkan pengertian yang berlebihan. Mereka telah tertipu oleh setan, tetapi mungkin mereka tidak sadar. Meski mereka kelihatan rohani sekali, hebat sekali, atau suci sekali, tapi sebenarnya mereka sudah keluar dari kebenaran Alkitab.
Mungkinkah manusia mencabut akar dosa sampai tidak mungkin berdosa lagi selama hidupnya? Tidak! Kita masih mungkin berbuat dosa, masih mungkin kurang suci, tetapi kita memunyai keinginan untuk sepenuhnya dikuasai oleh Tuhan yang suci. Itulah kesempurnaan di dalam motivasi kita. Itulah kesempurnaan kualitas sebelum kita mencapai kesempurnaan kuantitas, dan itulah tanda orang dipenuhi Roh Kudus.

3. Menjunjung Tinggi Firman
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menjunjung tinggi Alkitab dan tidak akan memperdebatkannya. Ketika Alkitab sudah berbicara, dia akan berhenti. Di antara pengertian yang berbeda-beda, di antara ajaran yang simpang siur, dan doktrin yang berbeda-beda tekanannya, mari kita kembali kepada Alkitab. Biarlah Alkitab yang memberikan pengertian yang seimbang dan stabil berdasarkan seluruh firman yang sudah dicetak, yang sudah diberikan kepada kita. Dengan pengertian yang harmonis itulah kita tahu ada jawaban dalam Alkitab. Lalu kita bungkam, berhenti, dan tidak mendebatnya karena Alkitab adalah otoritas tertinggi. Jangan menambahkan isi Alkitab dengan konsili-konsili, atau doktrin-doktrin, atau tradisi-tradisi yang ada di dalam buku manusia. Yesus berkata, "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." Bila pada suatu hari kita menemukan buku teologi apapun, yang mengemukakan doktrin yang memberi peluang untuk memperbaiki Alkitab, kita harus meninggalkan buku tersebut dan kembali kepada Alkitab. Bila suatu saat kita menemukan hal-hal yang belum dikatakan dengan jelas dalam khotbah yang disampaikan, bahkan oleh pengkhotbah yang kita sukai sekalipun, kembalilah kepada Alkitab, bukan kepada khotbah tersebut.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang hatinya dipenuhi dengan firman dan segala hikmat Tuhan yang tersimpan di dalam kekayaan firman-Nya. Jadi, Roh Kudus dan firman tidak bisa dipisahkan karena Roh Kudus adalah Roh kebenaran. Orang yang menyebut diri mengabarkan kebenaran, tapi tidak menitikberatkan Roh Kudus dan pimpinan-Nya, adalah omong kosong belaka. Orang yang mengaku diri dipenuhi Roh Kudus, tetapi berita yang disampaikan tidak sesuai dengan firman, itu pun omong kosong. Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menitikberatkan kehendak dan pimpinan Roh Kudus atas dirinya serta menyampaikan berita yang sesuai dengan Alkitab. Kedua hal ini menjadi satu. Ketika dia memberitakan, Roh mengurapi, karena itu berita yang dia sampaikan menjadi jelas sesuai dengan Alkitab.

4. Memberitakan Injil
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang mementingkan Injil dan pengabarannya. Untuk itulah Roh Kudus diturunkan ke dunia. Roh Kudus diberikan untuk memuliakan Kristus. Bapa mengirim Roh Kudus untuk memuliakan Anak, karena Anak pernah dipermalukan, dihina, diejek, difitnah, diumpat, dijual, dihakimi secara tidak adil, bahkan akhirnya dipaku di kayu salib. Keadaan pernah dipermalukan itu perlu dinormalisasi, dipulihkan kembali, karena semua itu tidak seharusnya diterima oleh Anak. Siapa yang mengerjakan semua itu? Roh Kudus. Roh Kudus akan membawa Anak kembali pada kemuliaan asli yang ada pada-Nya; mengembalikan kemuliaan Kristus. Yesus berkata, "Dengan sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika Aku tidak pergi, maka Penghibur itu tidak akan datang kepadamu. Jika Roh Kudus datang, Dia akan memuliakan Aku" (Yohanes 16:13-14). Jadi, Roh Kuduslah yang akan mempermuliakan Kristus.
Bagaimana kita mengetahui Roh Kudus bekerja dengan hebat di dalam satu kebaktian? Tatkala Yesus ditinggikan, dosa dinyatakan, dan orang mulai ditegur dosanya, lalu bertobat dan kembali kepada Kristus. Saat itulah kita melihat Roh Kudus bekerja. Yang membuat semua kemungkinan ini terjadi adalah bila pengkhotbahnya mengutamakan kematian dan kebangkitan Kristus, meninggikan Kristus, dan memberitakan Injil-Nya. Ketaatan pengkhotbah itulah yang membuat Roh Kudus mengurapi, mendampingi, menyertai, dan memenuhi kebaktian yang dipimpinnya. Itu yang disebut kepenuhan Roh Kudus. Dengan motivasi memuliakan Kristus, menjunjung tinggi Kristus yang pernah dihina, disalib, dan akhirnya dibangkitkan kembali, Roh Kudus pasti mengurapi dan memimpin kebaktian yang dipimpinnya. Kalau seseorang menjunjung tinggi Kristus dalam sepanjang hidupnya, berarti dia terus-menerus menyatakan diri dipenuhi Roh Kudus, dan saat dirinya dipenuhi Roh Kudus, dia kembali meninggikan Kristus.

5. Berani Menjalankan Kehendak Allah
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang berani, yang tidak takut menjalankan kehendak Allah. Sebelum seseorang dipenuhi Roh Kudus, dia merasa terkejut dan takut ketika melihat penganiaya-penganiaya mendekati dirinya. Seperti murid-murid Yesus Kristus yang mengunci semua pintu karena takut. Tetapi setelah mereka dipenuhi Roh Kudus, mereka justru membongkar pintu, membuang kunci, dan pergi ke mana saja, tanpa merisaukan apakah masih dapat pulang atau tidak. Kira-kira 26 tahun yang lalu, saya pernah mendengar kalimat senada dari seseorang, "Saya sering pergi ke Eropa Timur. Pada waktu itu, komunisme di Rusia begitu kejam, KGB menangkap dan menganiaya semua orang yang mengabarkan Injil."
Ketika saya berada di Rusia, seorang pendeta bercerita bahwa mereka yang berada di kota Minsk ini mendapat penganiayaan secara halus. Maksudnya, KGB selalu menyiarkan di TV, bahwa orang Kristen Injili bukanlah orang yang beragama Kristen. Mereka adalah bidat di dalam kekristenan, kadang-kadang mereka membunuh anak-anak kecil. Jadi, penganiayaan tidak dijalankan dengan menangkap, memukul, dan memenjarakan hamba-hamba Tuhan. Penganiayaan dilakukan dengan memberikan topi dan kalimat-kalimat yang membuat rakyat membenci dan meninggalkan orang Kristen. Mereka diisukan sebagai orang yang paling kejam, tidak berperikemanusiaan, bahkan sampai membunuh anak-anak, dan diisukan bukan sebagai orang Kristen yang sejati. Sebab itu, sulit sekali bagi mereka untuk mengabarkan Injil karena orang-orang tidak percaya. Itulah yang dimaksud dengan penganiayaan secara halus.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus memunyai keberanian. Yang tadinya takut mati sekarang tidak, yang tadinya malu sekarang tidak, yang tadinya takut dilawan sekarang tidak, yang tadinya takut kehilangan pangsa pasar sekarang tidak. Dia tahu bahwa dia sedang menjalankan kebenaran. Petrus pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali dengan berkata, "Aku tidak mengenal Dia." Itulah mulut manusia, mulut yang baru saja mengaku, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang Hidup." Mengapa kalimat seperti itu bisa keluar dari Petrus? Bukankah dia pendeta besar, rasul yang paling penting, bahkan kepala rasul, kardinal, dan uskup dari kedua belas rasul? Mengapa Petrus sampai berani mengatakan ia tidak mengenal Kristus? Itulah manusia. Kalau untuk mendapat untung, dia pasti segera mengatakan "ya". Tetapi, kalau rugi, pasti menjawab "tidak". Pada saat keadaan kebebasan beragama dijamin, maka orang akan mengumumkan dirinya sebagai orang Kristen. Tetapi kalau Pancasila sudah tidak berlaku, kalau kekristenan akan dibasmi, kalau musuh orang Kristen datang untuk menangkap semua orang Kristen, mereka segera beralih mengaku diri sebagai orang yang memeluk agama lain, bukan orang Kristen. Itulah manusia, tak peduli apakah dia adalah uskup dunia.
Petrus adalah kepala rasul atau pemimpin agama. Waktu keuntungan datang, semua mengikut Yesus. Waktu kerugian datang, salib dibuang, Alkitab dibuang, berubah menjadi orang yang tidak berani mengaku dirinya sebagai orang yang mengenal Yesus. Yesus tidak menegur Petrus, tetapi memandangnya dengan pandangan yang penuh kemurahan, seolah berkata, "Ingatlah, Aku sudah tahu semua tentang hidupmu, tentang dagingmu yang lemah, karena kau belum dipenuhi Roh Kudus." Setelah dipenuhi Roh Kudus, Petrus berubah. Ketika dia ditangkap dan diancam akan dianiaya, ketika dia disuruh berhenti dan dilarang mengabarkan Injil, dia menjawab, "Silakan kamu putuskan sendiri manakah yang benar di hadapan Allah: taat kepada kamu atau taat kepada Allah? Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar." Keberanian yang sekarang Petrus miliki adalah keberanian demi Injil, dia tidak lagi memperhitungkan untung rugi dan mati hidup dirinya sendiri.
Saya mengenal banyak orang Kristen yang tadinya sangat pemalu dan penakut. Tapi sekarang, tiap-tiap hari mereka membagikan traktat dan mendoakan orang sakit. Saya tahu orang seperti itu telah dipenuhi Roh Kudus. Saya percaya orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang memunyai keberanian, cinta kasih, kesungguhan untuk melayani, dan selalu siap memuliakan Allah.  Meskipun dia begitu sibuk, dia tetap bisa melayani karena telah dipenuhi Roh Kudus. Oleh sebab itu, dia tidak merasa malu. Diejek pun tidak menjadi masalah baginya.
Seorang pernah berkata :Ibu saya menjadi janda pada umur 33 tahun. Saat itu dia berlutut dan berdoa, berjanji seumur hidup tidak akan menikah lagi. Ia bertekad membesarkan kedelapan anak yang telah Tuhan berikan kepadanya. Pada zaman Jepang menjajah Indonesia, sangat tidak gampang mencari makan. Selain menjadi ibu, ia harus merangkap menjadi bapak. Memang berat baginya, tetapi dia masih mempunyai waktu 1 hari dalam seminggu untuk berpuasa. Dan selama berpuluh-puluh tahun, dengan mengenakan baju putih, ia menyisihkan 1 hari dalam seminggu, meninggalkan semua pekerjaan dan keluarganya untuk pergi mengabarkan Injil. "Mengapa setiap Ibu pergi selalu membawa bungkusan?" ”tanya orang itu” .Jawabnya, "Ketika saya membesuk, saya menemukan banyak orang yang lebih miskin dari kita, maka saya memberikan sedikit beras dan gula kepada mereka." Orang yang dipenuhi Roh Kudus dipenuhi oleh keberanian dan cinta kasih terhadap sesama.

6. Menghasilkan Buah Roh
Orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang menghasilkan buah Roh. Menghasilkan buah Roh Kudus adalah bukti atau fakta yang tidak bisa dipalsukan. Alkitab mengatakan, "... dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka" (Matius 7:20). Kalau sebatang pohon disebut pohon ara, tentunya tidak akan membuahkan semak duri, bukan? Bisakah kita menemukan buah ara di semak duri, bisakah kita menemukan buah anggur di atas semak? Tidak mungkin. Semak menghasilkan semak, durian menghasilkan durian, semangka menghasilkan semangka, anggur menghasilkan anggur, tetapi semak duri tidak akan menghasilkan buah mangga. Roh Kudus memenuhi seseorang, maka orang itu akan menyatakan hidup dengan etika yang baru, yaitu etika dari Roh Kudus. Hal ini tidak bisa dipalsukan. Bukan saja demikian, orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang penuh dengan cinta kasih Allah. Dengan cinta kasih yang memenuhi hatinya itulah dia tahu bagaimana membagi-bagikan anugerah surgawi, anugerah untuk hidup di dunia, dan anugerah yang cukup untuk tiap-tiap hari kepada orang lain.
Orang yang dipenuhi Roh Kudus, tidak akan melalui hidupnya dengan hanya memikirkan dirinya sendiri. Roh Kudus akan menolong dia meninggalkan hidup yang berpusat pada diri sendiri dan menerima hidup yang berpusat pada kemuliaan Tuhan. Roh Kudus tidak akan memperbolehkan seseorang hidup bagi dirinya sendiri, karena kasih Kristus akan mendorongnya, sehingga dia mau hidup bagi Dia yang sudah mati dan bangkit baginya. Siapakah yang melakukan hal itu? Roh Kudus. Paulus di dalam Filipi 2:13 berkata, "karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Allah yang bekerja di dalam diri kita adalah Allah Oknum ketiga Tritunggal, Roh Kudus. Dia berada dalam diri seseorang dan membuat cinta kasih yang tadinya tidak mungkin kita miliki, menjadi mungkin. Kasih memenuhi hati kita. Bukan saja demikian, Roma 5:5-6 mengatakan bahwa pada waktu kita berada dalam sengsara dan penderitaan, Roh Kudus mencurahkan sesuatu secara merata dalam hati kita. Apa yang dicurahkan? Cinta kasih Allah. Ketika Roh memenuhi seseorang, maka cinta kasih Allah akan memenuhi hatinya. Tatkala Roh memenuhi seseorang, dia tidak akan digoyahkan oleh penderitaan, siksaan, sengsara, kematian, dan kesulitan duniawi karena cinta kasih Allah dicurahkan merata di dalam hatinya. Dengan cinta kasih itulah dia mengatasi segala penderitaan dan kesulitan. Itulah ciri-ciri orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Alkitab memberikan prinsip-prinsip yang jauh berbeda dari apa yang sering dikumandangkan pada zaman ini. Hendaknya kita lebih waspada dan cermat menguji setiap roh, sehingga kita tidak terjerumus ke dalam ajaran-ajaran yang tidak benar.


BAB IX
MENJADI ORANG KRISTEN YANG TAAT KEPADA ALLAH DAN FIMAN-NYA
9.1  Siapakah Orang Kristen Itu
Apakah hal yang paling penting di dunia bagi setiap orang Kristen? Hal yang paling penting bagim orang Kristen selama berada di dalam dunia ialah bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah adalah pusat dari keselamatan kita dan dari semua pengalaman kerohanian kita yang benar. Kita diciptakan untuk mengenal Allah. Dalam Alkitab, pengenalan akan Allah hampir setara dengan keselamatan itu sendiri. Yesus sendiri berkata bahwa hidup yang kekal atau keselamatan berarti pengenalan akan Allah, "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yoh. 17:3). Menjadi seorang Kristen bukanlah pengalaman yang tanpa otak, tetapi mencakup pula hikmat dan pengertian. Menjadi seorang Kristen berarti sebuah hubungan yang begitu dekat dan intim dengan Allah Pencipta Langit dan Bumi. Yang melatarbelakangi perkataan Yesus di atas ialah janji yang sudah diberikan oleh Allah beberapa abad sebelumnya. Hal ini dapat kita lihat dari Yeremia 24:7 yang berbunyi, "Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN." Dan penggenapan dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh janji itu dapat kita lihat pada bagian selanjutnya dari kitab Yeremia, "Tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudara-saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua besar kecil, akan mengenal Aku" (Yer. 31:34). Nabi Yesaya juga berkata kepada kita bahwa pengenalan akan Allah akan menkitai pemerintahan Sang Penebus yang dijanjikan, Yesus Kristus. "Sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yes. 11:9). Alangkah indahnya! Ini semua meringkaskan apa yang Alkitab mau katakan mengenai maksud kedatangan Yesus: Memungkinkan kita untuk mengenal Allah.

1 Kebenaran  dan perubahan.
Jika ingin menjadi seorang dokter, saudara harus mengikuti kuliah lengkap di fakultas kedokteran. Bila berhasil, maka saudara akan diberi ijazah, setelah mengikuti latihan-praktek. Nah, hanya dengan jalan itu - asal lulus dalam segala ujian yang sukar dan rumit - baru saudara boleh berpraktek sebagai dokter. Jika ingin membuka rekening pada sebuah Bank, saudara perlu memberikan segala keterangan pribadi. Hal itu termasuk, alamat,tanggal lahir,pekerjaan, besar gaji setiap bulan, jumlah anggota keluarga, siapa menjamin watak saudara, dan sebagainya. Meskipun demikian, saudara mungkin juga masih ditolak. Jika ingin membeli sebidang tanah untuk pertanian, saudara harus lebih dahulu menyelidiki apakah tanah itu tersedia. Kemudian saudara perlu mengetahui siapa pemiliknya dan menanyakan apakah ia mau menjual atau menyewakan tanah itu kepada saudara. Haruslah saudara memenuhi segala syarat yang diajukannya, agar dapat mengusahakan tanah itu.
Sebenarnya untuk menjadi pengikut Kristus, saudara tidak memerlukan surat-surat keterangan atau surat-kepercayaan. Tak soal: apakah saudara seorang hakim atau pencuri, jutawan atau pengemis, buta huruf atau professor, apapun warna kulit saudara! Yang penting ialah saudara seorang manusia. Orang Kristen tentu saja merupakan manusia. Tak mungkin bagi hewan, apalagi sebuah gedung menjadi Kristen. Seperangkat tata-cara agama bukanlah orang Kristen. Demikian juga jika saudara ingin menjadi orang Kristen, orang lain tak dapat mewakili. Hal penting selanjutnya ialah Karya Allah; bukan karya saudara.Yang diperbuat Allah umumnya kita sebut sebagai pembenaran. Janganlah saudara bingung. Ini bukan teori yang berbelit-belit, ataupun ajaran agama yang samar-samar.
Istilah pembenaran pada dasarnya mengandung tiga pengertian. Pertama  membebaskan. Kedua, menyatakan bahwa seseorang benar. Ketiga, memperlakukan orang itu  orang benar. Nah, marilah kita lihat pengertian-pengertian ini dari segi praktisnya. Dibenarkan berarti bahwa Allah membebaskan saudara dari kesalahan karena dosa. Namun saudara harus hati-hati. Janganlah dikacaukan antara arti kata "dibenarkan" dengan "tak bersalah"; yang satu berbeda dengan yang lain. Perhatikanlah contoh ini. Misalnya saya mencuri sekarung beras dari sebuah toko. Saya tertangkap dan ditahan. Ketika diadili, hakim bertanya mengapa saya senekad itu. Kepadanya saya jelaskan: ibu saya sakit dan ada lima orang adik yang harus diberi makan. Hanya saya yang dapat mencari nafkah, tetapi saya masih menganggur. Kami sekeluarga tidak makan seharian dan saya tak tahu ke mana harus mencari sesuap nasi. Hakim itu mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia menatap wajah saya, dilihatnya air mata bercucuran. Apakah ini pertama kalinya mencuri? "Ya, bapak hakim", jawab saya. Setelah membenahi lembaran kertas yang terletak di mejanya, ia mengatakan bahwa saya dibebaskan dari hukuman. Saya bebas. Saya keluar dari tahanan dan pulang. Tetapi apakah saya tak bersalah dalam pencurian itu? Tetap bersalah, tetapi karena kasihan, hakim itu membebaskan saya.
Dalam menempuh "Jalan Menuju Hidup Bahagia", telah kita pelajari cara menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi. Haruslah kita ingat hal penting ini: kita bertobat dan diselamatkan, bukan karena karya atau jasa kita. Kesediaan kita untuk menerima karya-Allah itulah yang mengakibatkan perubahan yang menyolok. Pada saat saudara mengakui dosa dan menerima keampunan dari Allah melalui Yesus Kristus, ketika itulah Allah membebaskan saudara dari kesalahan dosa. Perubahan besar terjadi. ltu disebut pembenaran. Apakah perubahan itu?
Pada hakekatnya perubahan timbul dari segi Allah. Menjelang perubahan itu terjadi, Allah memkitang saudara sebagaimana adanya: orang berdosa yang menuju neraka. Namun pada saat dibenarkan, saudara dibebaskan dari segala dosa oleb karena kasih Allah. Ia menyebut saudara sebagai anakNya. Dahulu saudara berjalan ke arah kebinasaan, tetapi kini menuju ke sorga. Waktu perubahan itu sangat singkat, lain halnya kurun-kerja yang panjang serta meletihkan. Yang perlu diperhatikan ialah bagaimana menghapus/menghilangkan dosa. Marilah kita camkan apa yang Allah katakan tentang hal ini. Bukalah Alkitab saudara.
Roma 3:23 (Bacalah dengan nyaring) - "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah". Apa artinya? inilah artinya; dan ingat, isi Fiman Allah: Setiap pria, setiap wanita, setiap anak laki-laki atau perempuan, setiap orang: adalah orang berdosa, tanpa kecuali. Dan, orang semacam itu tak tahan berdiri di hadapan Allah, Penciptanya. Dosanya selalu ketahuan. Selanjutnya Alkitab berkata: (Galatia 3:22) " Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa....." Sudahkah saudara baca dengan nyaring? Kitab Suci ialah Fiman Allah. Fiman Tuhan Allah menyimpulkan "semua", berarti setiap orang, terbelenggu oleh dosa. Ini berarti hahwa setiap orang sudah bersalah. Apabila saudara bersalah dalam sesuatu hal, saudara tak dapat berbuat apa-apa. Orang lain akan berbuat sesuatu terhadap saudara, atau terhadap wakil saudara. Sekitainya dipersalahkan di pengadilan, maka perlu ada seorang pengacara yang membela saudara. Dan vonnis dijatuhkan oleh pengadilan atau hakim.
Dalam hal menjadi orang Kristen, pembela saudara adalah Tuhan Yesus Kristus; yang bertindak sebagai hakim adalah Allah dan persidangannya adalah kasih. Pembenaran berarti bahwa saudara bukan hanya dibebaskan dari dosa, tetapi juga dinyatakan benar. Dengan perkataan lain, Allah membenarkan saudara. Dapatkah saudara mengerti makna itu secara mendalam? Pakailah beberapa menit untuk memikirkannya. Kemudian kita meneruskan membaca Fiman Tuhan. Berhentilah sejenak.
2 Korintus 5:17 "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang". Jika saudara belum membacanya dengan nyaring, ulangilah dengan bersuara. Gagasan yang penting di sini ialah "bersatu dengan Kristus". Bila saudara berada di dalam atau bersatu dengan Kristus, maka saudara menjadi "manusia baru". Tidak soal siapa nama, dari mana asal maupun kesukuan saudara pada waktu saudara "dalam Kristus", Allah memaklumkan bahwa saudara samasekali menjadi manusia baru.
Bukti yang paling jelas mengenai hal ini dapat kita temukan dalam peristiwa menjelang kematian Kristus di kayu salib. (saudara ingat tentang hal ini dalam kursus "Jalan Menuju Hidup Bahagia"). Ada dua penjahat yang disalibkan di kanan dan di kiri Yesus (Lukas 23:39-43). Salah seorang penjahat itu mencemoohkan Yesus. Penjahat lain memarahi kawannya dan ia minta Yesus "mengingat"nya. Kemudian datanglah maklumat Allah: Lukas 23:43 (bacalah dengan nyaring)  "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus". Pokok terpenting di sini ialah "bersama dengan Aku", yaitu "di dalam Kristus". Tiadalah usaha apa pun diperlukan; tiada upacara agama apa pun yang harus dilaksanakan. Penjahat itu sebentar lagi akan mati. Menjawab permintaan itu, Kristus dengan perkataan lain mengatakan: Aku mengampuni dosamu dan Kumaklumkan bahwa kamu telah Kujadikan benar! Bukan kelak dikemudian hari; bukan setelah penjahat itu membukukan perkataan Kristus, tetapi sesungguhnya "hari ini"! ltulah pembenaran!! Memang hukuman-jasmani si penjahat tadi tak berubah, ia harus mati di salib itu. Tetapi, dosanya telah diampuni Allah dan ia mati sebagai orang yang dibenarkan ("bersama-sama dengan Aku di Firdaus"). Bersatu atau di dalam Kristus merupakan dasar bagi pembenaran. Roma 3:24 " Dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." Pembenaran bukanlah hasil usaha saudara. Bukan juga suatu penghargaan atas amal saleh atau sopan santun dan tingkah laku susila yang baik. Perhatikanlah kata "cuma-cuma". Camkan juga kata "rahmat". Rahmat atau anugerah pada hakekatnya adalah tindakan yang didorong oleh belas kasihan dan kasih. ltu tidak bersyarat dan sama sekali gratis dari Tuhan Allah dan oleh Tuhan Allah.
Pembenaran berarti suatu perubahan, bahkan barangkali satu-satunya perubahan. Namun bukan saudara yang berubah dalam sekejap karena telah dibebaskan dari dosa dan dinyatakan benar. Kedudukan saudaralah yang berubah di hadapan Allah. Dahulu saudara orang berdosa, tak berpengharapan, tak tertolong dan sedang menuju kebinasaan. Kemudian Allah mencapai dan menyentuh Skitara. Ia maklumkan Skitara sebagai orang benar: disebut orang suci, disucikan, ditebus, dipulihkan dan diterima lahir kembali. Alangkah hebatnya perubahan ini!
Apakah arti lebih lanjut mengenai perubahan besar atau pembenaran ini? Allah bukan hanya mengumumkan bahwa saudara dibenarkan, tetapi juga: Ia memperlakukan saudara sebagai orang benar! Ada sebuah kisah nyata yang terjadi pada tahun 1961. Melalui kebaktian penginjilan yang saya pimpin di Inchon (Korea), seorang bandit kelas kakap diselamatkan. Pertobatannya murni dan kini ia menjadi hamba Tuhan. Setelah bertobat, ia saya perkenalkan kepada keluarga saya. Mereka merasa was-was. Ia sering datang ke kantor atau ke rumah saya untuk belajar dan berdoa bersama-sama. Komplotannya memecat dia, sehingga ia menjadi penganggur. Saya mencoba mencarikan pekerjaan baginya dengan menghubungi diakon dan penatua gereja yang menjalankan perusahaan. Tetapi dengan sopan mereka menolak; "mungkin ia akan mengacau", atau " kita belum mengenal wataknya dengan terlalu baik." Maksud mereka: dahulu ia bandit dan kami tidak ingin kerjasama dengannya. Jadi, mereka menerima dia sebagai sahabat-seiman, tetapi perlakuan mereka terhadapnya masih sama seperti terhadap penjahat. ltu bukan cara Allah.  Petrus menyangkali Yesus tiga kali. Tetapi Allah bukan saja memaklumkan Petrus sebagai orang yang telah dibenarkan, tetapi Ia juga memperlakukan Petrus sebagai orang benar. Tuhan mempercayakan sidangNya kepada nelayan kasar itu. Bagaimanakah Saul, orang Tarsus itu sampai menjadi rasul? Ia dilimpahi dengan perlakuan Allah yang penuh kasih. Sebenarnya mudah saja bagi Allah untuk memilih orang lain, bukan Paulus. Tetapi Allah tidak berbuat begitu. Ia memilih Paulus menjadi rasul penting untuk para bangsa yang belum mengenalNya. Allah memaklumkan "musuh-gereja" ini menjadi orang benar dan Ia memperlakukannya sebagai orang benar. Inilah pembenaran!
Dengarkanlah Roma 8:1-2 "Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh yang memberi hidup telah  memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut". Efesus 2:19 (bacalah perlahan-lahan) "Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dan orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah". Bagaimana perlakuan Allah terhadap saudara? Sebagai teman sewarga dengan Petrus, Paulus, Yohanes, Mat, Stefanus, Timotius, Markus dan sejumlah besar orang yang kini berada di Sorga bersama Tuhan. saudara menjadi anggota keluarga Allah. Yang dahulu orang-berdosa-celaka, kini menjadi anak dalam "keluarga Allah". Sering orang Kristen lain tak berlaku benar terhadap saudara; kadang-kadang orang beriman tak saudara perlakukan sebagai teman sewarga. Allah tak pernah demikian. PerlakuanNya selalu baik. Itulah yang disebut pembenaran.
Kita akan mengakhiri pelajaran tentang perubahan agung ini. Marilah kita inqat bahwa dalam pembenaran: Efesus 2:8 "Sebab karena kasih karunia kamu diselamalkan oleh iman: itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah". Apakah saudara telah membacanya dengan nyaring? Pembenaran - perubahan - adalah karunia Allah. Nah, ini baru suatu permulaan. Permulaan yang mulia, menggetarkan dan menakjubkan. Kita harus berjalan terus, menuju “Penyucian”.

2. Penyucian dan pertumbuhan.
Kehidupan Orang Percaya tak akan pernah menjadi "barang jadi". Jika saudara pikir bahwa sesudah menerima Kristus sebagai Juruselamat, maka semuanya sudah sempurna, saudara keliru. Seperti bentuk hidup lain, kehidupan Kristen merupakan suatu rangkaian proses.
Dalam rangkaian proses, selalu ada kemajuan dan pertumbuhan. Bahan-bahan apakah yang diperlukan untuk maju dan bertumbuh dalam kehidupan Kristen? ltu ditunjukkan dengan satu istilah: penyucian. Pembenaran lebih cenderung kepada karya Allah, sedangkan penyucian lebih bertitik berat pada cara saudara menanggapi karya itu. Pembenaran merupakan perubahan yang terjadi di dalam hati-sendiri, sedangkan penyucian berhubungan erat dengan persekutuan yang baru saudara alami dengan Allah.
Pembenaran terjadi hanya satu kali, sedangkan penyucian terjadi terus menerus dalam rangkaian proses. Pembenaran itu adalah tanggapan saudara atas karunia Allah: ini hanya sekali terjadi untuk seterusnya. Penyucian termasuk sikap timbal-balik saudara dengan Allah.
Penyucian dapat dimengerti dari tiga pkitangan yang berlainan, namun ketiga-tiganya saling menjalin. Pertama, dikerat atau dipisahkan.  Kedua, dikerat dan dipisahkan untuk apa? Ketiga, peranan Roh Kudus.
Bilamana saudara kedinginan dan ingin berdiang dekat api sambil memanggang daging, pastilah kayu api diperlukan. Kayu itu berasal dari hutan. Ketika diambil dari sana, kayu itu harus dipisahkan dari pohon yang lain. Jika saudara memasang api pada pohon (membakar pohon itu tanpa memotongnya sebagai kayu api), kemungkinan besar hutan kayu itu seluruhnya terbakar. Akibatnya, tak akan ada lagi kayu api untuk dipakai berdiang maupun memasak makanan.
Jika saudara akan mendirikan rumah, tentunya saudara tidak akan menumpuk seluruh bahan bangunan agar menggunung. Pastilah segala batu bata, semen, paku, lempengan besi, kaca, kabel tistrik, kapur, kayu dan sebagainya, tidak akan saudara timbun bertumpang-tindih begitu saja. Untuk membuat jendela, kaca harus dipotong dengan ukuran yang tepat dan dipisahkan dari kawat listrik. Paku tak dicor dalam semen, demikian juga kapur melulu tidak dijadikan fondasi. Saudara tak akan mengatur perabot rumahtangga di dalam "rumah" itu bila tembok, langit-langit dan lantai belum dipasang. Setiap kayu atau balok perlu dipotong sesuai dengan ukuran yang diperlukan untuk menyokong segala bentuk rumah itu. Meskipun segala bahan telah diukur dan dipisahkan sesuai dengan bagian masing-masing, kita belum dapat membangun apa-apa bila tidak ada bahan yang paling penting. Apakah itu? Gambar rencana bangunan! Apakah rencana Allah bagi kita?. Orang yang paling berwenang menjelaskan ini ialah Rasul Paulus. Tiada penafsir Fiman Yesus yang lebih unggul dari pada Rasul itu. Ia jugalah yang termampu mengartikan kehendak Allah bagi setiap orang beriman. Ia berkata:
Roma 1:1 "Dari Paulus", hamba Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah".
lnilah pernyataan Paulus kepada segenap orang Kristen di seluruh dunia, bukan hanya bagi mereka yang berada di Roma saat itu.  I Korintus 1:30 "Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan serta menebus kita". Di sini lagi disebutkan "berada dalam Kristus Yesus" Pertama, dari keadaan apakah kita dipisahkan? Lihatlah Alkitab untuk menjawab pertanyaan ini. 2 Korintus 6:17 "Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, Fiman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu". Kata "mereka" dalam ayat ini berarti cara hidup masyarakat pada umumnya dan beberapa orang percaya di Korintus, yaitu: menyembah berhala, bermabuk-mabuk, tak bersusila, menipu, homoseksual, korupsi. Tuhan berkata bahwa setiap orang percaya harus terpisah dari semua keadaan ini. Dengan kata lain, sebagai orang Kristen saudara harus samasekali terputus dari masa lalu yang penuh dosa. Sebagai orang percaya saudara harus memisahkan diri dari perbuatan, perkataan dan pikiran yang lama pada waktu saudara masih seorang berdosa.
Nah, untuk menjadi terputus atau terpisah dari sesuatu atau seseorang, diperlukan tindakan pasif. Tanpa menjadi orang Kristen, saudara tahu bahwa membunuh orang adalah dosa. Tak usah saudara dibenarkan karena tak berzinah dengan orang lain. Saudara tidak perlu disucikan terlebih dahulu untuk dapat mengerti bahwa dunia ini penuh dosa, jahat, dingin dan penuh dengan ketamakan dan kekerasan.
Haruslah kita pertimbangkan: terpisah untuk perbuatan apa? Apakah tujuan penyucian itu? Jika menjadi militer, saudara tentu terpisah dari keluarga. Namun gambaran untuk penyucian dengan demikian belum jelas. Saudara terpisah dari keluarga untuk melayani dalam bidang ketentaraan guna mempertahankan bangsa dan negara. Hanya dengan cara demikianlah perpisahan dengan keluarga dapat bermakna.
Bila memisahkan diri dari kebiasaan bermabuk-mabukan, menipu atau apa saja yang memperbudak saudara dahulu, kemudian memakai seluruh waktu saudara untuk menjauhi kebiasaan-kehiasaan yang buruk itu, itu bukanlah pemisahan yang benar. Jika demikian, saudara hanya melarikan diri dari padanya; kemudian sekali waktu akan jatuh ke dalam kebiasaan lama lagi. Ini bukan penyucian
Marilah kita lihat apa yang dikalakan Allah. (Bacalah ayat-ayat ini dengan nyaring). Efesus 4:13 "Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang henar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus".
Filipi 4:8 "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Bacalah kata demi kata berulang kali).
Galatia 2:19-20 "Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleb iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diriNya untuk aku".
Roma 6:6 "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa".
I Tesalonika 5:23 "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita".
Ada dua rangkaian proses penyucian pertama: berpikir; kedua: bertindak. Ketika lahir-kembali, memang terjadi; perubahan; tetapi tak berarti segala sesuatunya dimurnikan dengan secepat kilat. Ingatlah bahwa dalam kursus "Menuju Hidup Bahagia", kita pelajari bahwa sifat duniawi selalu muncul bilamana ada kesempatan. Setiap hari dalam hidup kita, selalu ada hal-hal, kata-kata peristiwa maupun orang yang menodai pikiran kita. Dengan sekejap mata saudara dapat bercerita bohong (berlawanan dengan "semua yang benar") , Mata dan telinga kita dengan mudah menimbulkan pikiran yang jijik (berlawanan dengan "yang murni"). Dengan sangat mudah perasaan kita yang tak terkuasai dapat mencerca dan kasak kusuk memburuk-nurukkan orang lain. Ini berlawanan dengan yang patut dipuji". Saudara harus memelihara dan memperkembangkan pikiran lebih dahulu ("mengisi pikiran dengan hal-hal yang bernilai"), sebelum buah-buah penyucian dihasilkan;
Tujuan penyucian ialah agar kita terpisah dari "hal-hal yang tidak murni" demi pelayanan kepada Allah. Saudara disucikan bukan hanya untuk terpisah sehingga dapat berkata "saya lebih baik dari kamu" ataupun "sejak kita berpisah saya sudah jauh lebih rohani". Meskipun saudara disucikan masih juga bercacat. Saudara disucikan bukan untuk pamer atau menonjolkan diri sebagai orang yang lebih baik dari pada orang lain, apalagi lebih " rohani". Saudara disucikan untuk melayani Allah. Pelayanan kepada Allah bermula dari pengenalan terhadapNya. Untuk mengenalNya, kita mempelajari FimanNya. Manakah yang lebih penting, mempelajari FimanNya atau pergi menjadi utusan injil untuk melayani orang diperkampungan miskin? Kepentingannya sama! Banyak orang beriman enggan belajar Fiman Allah (yakni Alkitab), sesudah mereka mengalami kelahiran baru. Ini keliru. Itulah sebabnya pengertian mereka tentang Fiman Tuhan sepanjang hidupnya hanya setingkat dengan pengetahuan anak Sekolah Minggu. Ini sangat menyedihkan. Pelayanan kepada Allah yang paling istimewa ialah menjadi seperti Yesus; "makin bertambah sempurna seperti Kristus". kata Paulus.
Ada juga segi usaha manusia dalam pelayanan kepada Allah. Memberi uang untuk membangun rumah sakit dan panti asuhan; meninggalkan tempat sendiri untuk pergi ke tempat lain menyebarkan Injil, seorang dokter meninggalkan penghasilan tinggi untuk bekerja dan mengobati orang sakit dan miskin di tempat lain: ini sekedar beberapa contoh.
Penyucian adalah karya Roh Kudus. (lngatlah kembali pelajaran tentang Roh Kudus dalam "Jalan Menuju Hidup Bahagia"). Roh itulah yang menggugah kesadaran saudara. Ia memurnikan dan menguatkan. Bahkan Roh itulah yang meyakinkan saudara untuk mengalahkan dan mengatasi sifat duniawi. Tanggapan saudara terhadap peyakinan Roh Kudus menyebabkan saudara menyatakan kasih, bukannya kebencian; pengharapan sebagai ganti ketakutan; damai sejahtera bukannya kebingungan. Saudara menyatakan kepercayaan bukannya kecurigaan, dan saudara dapat unggul melawan dosa.
Sebelum dapat pergi ke ujung bumi melayani Allah, haruslah saudara lebih dahulu dipenuhi oleh Roh Kudus. Tepat sebelum Yesus kembali ke Sorga, Ia berkata kepada muridNya: Kisah Para Rasul 1:8 "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi".
Kita disucikan bukan karena adanya keinginan untuk menjadi suci. Roh Kudus itu sendirilah secara bebas dan penuh rahmat menguduskan. Penyucian itu terjadi bukan karena kehendak seseorang untuk memperbaiki diri. Hanya Roh Suci yang berprakarsa untuk memperbaharui dan menguatkan orang beriman setiap hari, dengan cara yang lemah lembut dan mantap. Roh Tuhan sendirilah yang memampukan saudara untuk mewujudkan pikiran yang murni dan benar, menjadi amal yang penuh kasih dan terpuji. Roh itu memberi pertumbuhan menuju kedewasaan dalam kehidupan kekristenan.
Bagian saudara dalam proses penyucian adalah memikirkan, merenungkan dan menanggapi kuasa Allah yang maha hadir dan penuh kasih. Kemudian saudara perlu menghayatinya untuk melayani Allah.
Namun penyucian dalam hidup Kristen bukanlah suatu akhir. Itu merupakan sarana menuju tujuan akhir kehidupan Kristen, yakni mempermuliakan Allah. Kita akan membahasnya dalam pasal berikut.

Kemuliaan dan tujuan.
Ada suatu ungkapan terkenal, namun menyesatkan: pada saat saudara menjadi orang Kristen maka segala beban dan kekuatiran pasti lenyap. Tidaklah Aikitabiah jika orang berkata bahwa bila saudara menerima Yesus menjadi Juruselamat pribadi, maka segala kesulitan keuangan menjadi beres.
Sangatlah bertentangan dengan pengajaran Yesus bila ada gagasan yang mungkin ditekankan oleh pengkhothah, penginjil ataupun pengarang) bahwa keuangan saudara menjadi aman jika saudara menjadi orang percaya.
Jangan kita meremehkan rahmat Allah dengan berpikir demikian: "pokoknya saya percaya kepada Allah dan saya melakukan apa saja yang saya sukai; bukankah Allah itu kasih?"
Masa kini merupakan zaman serba-cepat. Ada pembuatan kopi secara cepat, telekomunikasi secepat-kilat dan ada orang berkata bahwa Injil juga pemecah-segala-soal maha-cepat di jagat raya ini. Pastilah ini keliru.
Kita telah melihat manusia berjalan di bulan dan mengitari angkasa luar. Loncatan teknologi ini memberi keberhasilan. Bila kita menjadi orang Kristen tidak berarti sukses dalam segala sesuatu. Jika mendengar bahwa setelah menjadi orang Kristen, saudara dengan otomatis akan sukses dalam segala usaha, sekolah, pernikahan atau dalam upaya lain, haruslah saudara berhati-hati. Orang yang berkata demikian biasanva lebih cenderung mempunyai dorongan hati yang salah. Hampir selalu mementingkan diri sendiri.
Ketika bersama merenungkan tentang pembenaran. Kita melihat apa yang Allah perbuat. Pada saat belajar mengenai penyucian, kita menyelidiki bagaimana cara bertumbuh. Nah, dalam pasal yang sedang dibahas ini, kita akan memusatkan perhatian dan pikiran pada tujuan-akhir setiap orang Kristen.
Istilah "pemuliaan" tidak terdapat dalam Alkitab. Barangkali ini istilah saya sendiri dan berbeda dari pengertian atau ungkapan doktrin lain. Permuliaan berarti hal memuliakan Allah; dan memuliakan Allah merupakan tujuan akhir dalam hidup setiap orang beriman.
Marilah kita baca lebih dahulu beberapa ayat Alkitab yang memuat kata kemuliaan. Lukas 2:13-14, 20, 32 "Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat ltu sejumlah besar bala tentara Sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah dl tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya… Maka kembalilah gembala-gembala ltu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesual dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka… yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu".
Semua catatan tersebut di atas berhubungan dengan kelahiran Yesus. Siapakah yang memuliakan Allah? "Sejumlah besar bala tentara sorga", "para gembala" dan seorang bernama Simeon di Bait Allah di Yerusalem. "Sejumlah bala tentara sorga" berarti para orang-suci dan malaikat yang kini bersama-sama dengan Allah. Kita akan menjumpai mereka pada saat dunia ini berakhir. Mereka mengerti mengapa Allah mengutus Anak-Nya ke dunia ini dan mereka memuliakan Dia. "Para gembala" adalah penjaga ternak di ladang, yang kepada merekalah malaikat-malaikat telah menyampaikan tujuan kedatangan Yesus, dan setelah mereka mendengar bahwa Yesus telah lahir, mereka memuliakan Allah.
Orang yang bernama Simeon ini adalah orang yang taat, benar dan suci, serta menanti kedatangan Juruselamat dengan penuh pengharapan. Ketika kepadanya diberitakan bahwa Penyelamat itu lahir, Ia berkata: "Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu" (Lukas 2:30). Mereka semuanya memuliakan Allah.
Apakah sebabnya? Karena Allah menjanjikan kekayaan? Bukan. Sebab Allah mengirim militer untuk membela Israel? Tidak. Tuhan menjanjikan pengurangan kemiskinan dan wabah? Jadi, mengapa? Karena Yesus datang. Mengapa Ia datang?
Mat 1:21, 23 (bacalah dengan nyaring) - "Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dia lah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka…anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel yang berarti Allah menyertai kita"
Karya istimewa Allah ketika mengutus Yesus ke dalam dunia ada rangkap dua. Pertama, menyelamatkan saudara dan saya dari segala dosa kita dan kedua, untuk bersama-sama dengan kita. Janganlah kita menambah maupun mengurangi kebenaran yang agung ini. Jadi, menjadi orang Kristen berarti: pertama dan utama, menghayati hidup rohani dan bukannya mengalami perubahan jasmani maupun perolehan bendawi.
Pemuliaan, yang menjadi tujuan akhir setiap orang Kristen mengandung tiga sikap hidup yang mendasar. Pertama, mempermuliakan Nama Allah. Kedua, memuji dan membesarkan Allah karena memang keberadaanNya demikian. Dan yang ketiga ialah menghayati kehidupan yang penuh syukur.
Kita tak pernah berjumpa. Namun jika saudara mengenal saya, atau kenal sediklt, bagaimana caranya? Yang paling umum adalah ada orang menceriterakan tentang saya kepada saudara. Atau karena saudara membaca tulisan, karangan atau buku saya. Barangkali juga saudara melihat foto saya. Telah bertemukah saudara dengan Idi Amin? Hampir pasti belum. Namun, mengapa saudara pikir ia jahat atau sinting?
Saudara suka jeruk manis, bukan? Tak soal betapa pintar orang menjelaskan alangkah enaknya buah itu, saudara tak dapat merasakannya, jika saudara sendiri tidak mencoba mencicipi sebuah. Pernahkah saudara bersua dengan Mahatma Gandhi, tokoh India itu? Pasti belum, kecuali saudara berumur 80 tahun lebih dan tinggal di India. Kebanyakan orang di dunia tidak pernah berjumpa dengannya. Namun mengapakah berjuta-juta orang di dunia, termasuk saya, menghormati dan menghargainya?
Bagaimana mungkin orang-orang di dunia yang tak mengenal Allah dapat mengenal Dia? Alkitab berkata bahwa tak seorang pun pernah melihat Allah itu. Nah, bagaimana mereka mengenalNya? Kuncinya adalah saudara. Saudaralah saluran yang dapat memperkenalkan Allah kepada dunia. Saudara "mewakili" Allah dalam dunia saudara. Rasul Paulus, yang paling banyak mewakili Allah di dunia ini pernah memaklumkan: 2 Korintus 5:20 "jadi, kami ini adalah utusan-utusan Kristus…". Suadara adalah seorang utusan Kristus, mewakiliNya di dunia ini.
Salah satu kewajiban seorang duta atau utusan ialah menjunjung tinggi martabat bangsa dan negara yang diwakilinya. Orang Kristen juga harus menjunjung tinggi Nama Allah. Bagaimana cara kita menjunjung tinggi dan mempermuliakan Nama Allah? Dengan dua macam tindakan: melalui kata-kata dan amal perbuatan. Setiap berbicara, apakah saudara telah memilih kata-kata yang cocok sebagai wakil Allah? Apakah lawan-bicara saudara terhibur dan memperoleh dorongan mendengar kata-kata itu? Apakah perkataan saudara menjadi sumber inspirasi, ilham dan pengharapan bagi orang lain? Adakah kata-kata saudara menyebalkan dan berbohong? Kata-kata saudara menyindir dan menyakiti orang lain? Apakah kebanyakan bahasa dan kata yang saudara ucapkan hanya kasak-kusuk, fitnah, kabar angin, untuk menjatuhkan serta mencemoohkan orang lain? Apakah kata-kata saudara keluar dari mulut dengan lidah bercabang dan bagaikan panah berbisa? Apakah orang lain berusaha menghindar supaya jangan berbicara dengan saudara? Lukas 4:22 "Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkanNya..."
Yohanes 6:63 (Sabda Yesus) "....Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup". Yohanes 17:8 (Di sini Yesus memberi laporan akhir kepada Bapa mengenai tugas-Nya di dunia) "Sebab segala Fiman (kata-kata) yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya..."
Selanjutnya, Allah kita permuliakan melalui amal-perbuatan kita. Jika kita mengaku orang Kristen tetapi perbuatan kita tidak cocok dengan iman Kristen, maka kita pembohong. Apakah perbuatan kita sesuai dengan iman Kristen? Apakah orang lain dapat melihat "gambar Allah" di dalam atau melalui kehidupan kita? "jika kita mengatakan Saya ingin mempercayai Allah yang dipercayainya", apakah orang lain berkata demikian setelah melihat perbuatan kita? Apakah perbuatan kita mewakili Allah yang kita wakili? Atau berlawanankah perbuatan dengan perkataan kita? Hanya sebagai cermin yang pecah-buyarkah amal saleh kita? Apakah orang lain akan melihat Allah atau iblis melalui perbuatan kita? Apakah perbuatan kita hanyalah suatu kepalsuan belaka?. Matius 7:16 "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.  Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?"
Akhirnya kita mempermuliakan Allah dengan mengucap syukur, yaitu pujian, ucapan terima kasih dengan penuh sukacita dan pengharapan. Bukanlah maksud saya ucapan terima kasih-bersyarat, jika gaji saudara dinaikkan. Bukan juga kegirangan yang saudara rasakan ketika menerima hadiah. Sikap berterimakasih yang orang Kristen harus tunjukkan, harus lebih mendasar dan harus lebih tetap daripada sekedar ungkapan terima kasih yang bersifat basa-basi dan hampa. Janganlah meniru orang dunia ini. Sebenarnya, pengucapan syukur merupakan dasar kehidupan Kristen, pancaran bahagia dan sumber kekuatan. Ketika menggambarkan kebenaran itu, pernah Rasul Paulus mengatakan demikian: Efesus 5:20 "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita". Filipi 4:6 "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur".
Kata-kata yang dihubungkan dengan pengucapan terimakasih di sini ialah: "dalam segala sesuatu"; "selalu"; "mengenal apapun"; dan "dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus".
Pengucapan syukur bukanlah sesuatu yang sering saudara perbuat bila saudara berpikir ada alasan untuk bersyukur. Sebaliknya, itu harus selalu dilakukan. Hal pengucapan syukur tidak hanya diadakan bila segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginan saudara, tetapi haruslah itu dilaksanakan dalam keadaan apapun juga. Pengucapan terimakasih tak hanya diperbuat sesudah Allah mendengar dan mengabulkan permintaan saudara. Namun malahan pada saat permintaan itu disampaikan kepada Allah, ucapan syukur itu harus disampaikan. Pengucapan syukur kita tidak didasarkan pada perasaan atau usaha, melainkan harus "di dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus".
Dalam buku terakhir dari Alkitab, Tuhan menggambarkan bagaimana seharusnya sikap hidup kita(Wahyu 7:12) "Sambil berkat"Amin! puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!"Mewujudkan hal-hal in dalam hidup sehari-hari adalah tujuan kita yang paling tinggi sebagai orang Kristen: yakni pemuliaan Allah. Apakah kita orang Kristen? Masalah kedagingan adalah salah satu hal yang masih sangat sulit ditanggulangi oleh banyak orang percaya, bahkan sampai pada hari ini. Tapi hari ini saya deklarasikan, “Seluruh kuasa kedagingan telah dipatahkan dari hidup orang-orang percaya! Penjara kedagingan telah terbuka, dan setiap orang percaya bisa keluar dan hidup dalam kebebasan untuk berjalan dalam kebenaran dan menyukakan hati Tuhan!”
Ketika kedagingan telah dikalahkan, akan jauh lebih mudah bagi orang-orang percaya untuk dapat mulai berjalan dan hidup dalam ketaatan. Dan ketika kita terus hidup dalam ketaatan, kita pasti akan alami otoritas pemerintahan surga sungguh-sungguh termanifestasi secara nyata dalam hidup kita. Pada waktu ketaatan kita telah menjadi sempurna, itulah saatnya kita siap untuk menghukum segala kedurhakaan.
Apakah yang menjadi tolok ukur ketaatan kita, sehingga kita dapat mengetahui sampai sejauh mana kita sudah berjalan dalam ketaatan mutlak?

1. Hidup dalam ketaatan mutlak, artinya kita sedang terus menghidupi apapun yang pernahTuhan sampaikan secara pribadi kepada kita.
Dimensi ketaatan yang harus kita tunjukkan di hadapan Tuhan memang berbeda antara satu orang percaya dengan orang percaya lainnya, karena ketaatan selalu bersifat pribadi. Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah: Dari sekian banyak perintah yang secara pribadi Tuhan sampaikan kepada kita, apakah sampai hari ini kita masih terus menghidupinya?
Satu hal yang harus kita pahami adalah: sekali Tuhan memberi perintah kepada kita, perintah itu berlaku untuk sepanjang hidup kita. Jika Tuhan pernah memerintahkan kita untuk mengendalikan lidah kita dalam hal bergosip, itu berarti mulai saat itu dan sampai seterusnya Tuhan menghendaki kita tetap berjalan dalam ketaatan.
Semakin kita berjalan dalam ketaatan, semakin kita bisa merasakan kesadaran akan hadirat Tuhan meliputi kita, dan kesadaran akan kelemahan dan kemanusiawian kita akan semakin tersingkir. Di sisi lain, ketaatan juga akan membuat ketertarikan kita kepada apa yang selama ini ditawarkan oleh dunia juga akan mulai semakin memudar.
Alasan mengapa banyak orang percaya masih terus memilih untuk hidup di dalam dosa adalah karena di dalam dosa ada kenikmatan. Demikian pula alasan mengapa ada orang-orang yang rela mengorbankan apapun juga untuk dapat hidup dalam kekudusan adalah karena di dalam kekudusan juga ada kenikmatan. Alkitab berkata, “Penderitaan jaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sudah sediakan bagi kita”, dan itu berarti kita harus memiliki kemampuan untuk mulai membandingkan.
Selama kita hanya mendengar khotbah tentang penyangkalan diri, kematian daging dan memikul salib, tanpa kita sungguh-sungguh bisa melihat kemuliaan yang tersedia di baliknya, kita tidak akan bisa membandingkannya dengan apa yang disediakan oleh dunia. Sebagai akibatnya, kita akan lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam dosa yang sudah kita cicipi dan rasakan kenikmatannya.
Ketika kita terus melangkah dalam ketaatan dan dengan tekun membenahi setiap area hidup kita yang masih belum selaras dengan Fiman-Nya, kesadaran akan hadirat Tuhanpun akan mulai semakin kuat mencengkeram hidup kita. Dan ketika itulah kita akan dapat sungguh-sungguh menyadari bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang tersedia bagi kita.

2.Hidup dalam ketaatan mutlak, artinya kita memiliki kerelaan untuk mengorbankan apapun yang kita ingini/sayangi, demi dapat tetap taat kepada Dia.
Jika Tuhan memerintahkan kita untuk mengorbankan sesuatu yang selama ini kita ingini/sayangi agar kita bisa terus melangkah dengan Dia, namun kita merasa keberatan dengan apa yang Dia minta tersebut, itu berarti sesuatu itu telah menjadi faktor yang membuat kita tidak taat. Mengapa Abraham dikatakan sebagai orang yang selalu taat? Karena bahkan ketika Tuhan meminta Ishak, Abraham rela menyerahkan Ishak.
Pertanyaannya saat ini: Adakah sesuatu dalam hidupmu yang pernah Tuhan minta, namun belum engkau serahkan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sampai sejauh ini membuat engkau sering melanggar apa yang Tuhan perintahkan? Yakobus 4:4-5 berkata, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”. Jika kita masih menyimpan sesuatu atau seseorang yang selama ini justru membuat kita tidak taat, artinya kita sedang menjadi musuh Tuhan.
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Ia menaruh Roh Kudus-Nya dalam hidup kita. Itu sebabnya ayat 5 berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!"”. Maksudnya adalah, Tuhan menghendaki agar kita memperlakukan Roh Kudus yang Ia taruh dalam hidup kita, dengan cara yang sama seperti Ia sendiri memperlakukan Roh Kudus. Kita tidak akan pernah mendapat konflik batin dalam diri Tuhan; apa yang Bapa ingin lakukan, Roh-Nya selalu bekerja sesuai dengan kehendak Bapa tersebut – selalu ada keselarasan dalam ketritunggalan Tuhan. Karena itu, ketika Ia memberikan Roh kepada kita, Ia juga menghendaki agar apapun yang Roh-Nya lakukan, kita dapat meresponinya dengan benar; itulah yang disebut sebagai sahabat Allah.

3.Hidup dalam ketaatan mutlak, artinya kita melakukan semua yang Tuhan perintahkan secara akurat.
Keakuratan dalam melakukan perintah Tuhan akan menjagai kita dari berbagai masalah dan kejaTuhan yang mungkin dialami oleh orang-orang lain. Sadarilah hal ini, semakin Tuhan membawa kita naik memasuki level dan otoritas rohani yang baru, semakin Tuhan menuntut keakuratan dari ketaatan kita dalam melakukan perintah-Nya. Ketika kita masih “di bawah”, kesalahan yang kita buat mungkin tidak akan menghasilkan dampak yang terlalu besar, tetapi di level yang baru, satu kesalahan yang sama seperti yang pernah kita buat akan memiliki efek yang jauh berbeda. Karena itu, ini waktunya kita terus melatih keakuratan dari pendengaran rohani dan ketaatan kita, karena pada waktu kita memutuskan untuk taat, Tuhan menghendaki ketaatan tersebut 100% akurat.

4.Hidup dalam ketaatan mutlak, artinya kita tetap mengambil keputusan berdasarkan ketaatan terhadap Fiman, meskipun sedang ada di tengah tekanan atau masalah yang berat. Tuhan menghendaki agar bahkan di tengah tekanan, kita dapat terus berjalan dalam ketaatan. Jangan ijinkan tekanan apapun membuat hatimu berubah.

9.2 Iman Yang Bertumbuh Dan Ketaatan Kepada Kristus Yesus 
Prestasi seorang Kristen tidak dilihat dari beberapa hebatnya pelayanan/ jabatan / posisinya, tetapi dilihat dari sebenarnya seberapa jauhnya dia taat kepada Fiman Tuhan. Pertumbuhan rohani kita dapat digambarkan sebagai sebuah roda yang berputar. Supaya dapat terus berputar, roda tersebut harus memiliki bagian yang lengkap:
Yesus Kristus merupakan pusat kehidupan kita digambarkan sebagai poros pada roda kendaraan.
Doa, Fiman Tuhan, kesaksian dan persekutuan dengan orang percaya digambarkan sebagai jari jari ketaatan dapat digambarkan sebagai lingkaran roda di bagian luar.












                                    Dapat dilihat pada ilustrasi roda di atas.
1. Bertumbuh Dalam Pengenalan akan Allah
Apakah hal yang paling penting di dunia bagi setiap orang Kristen? Hal yang paling penting bagim orang Kristen selama berada di dalam dunia ialah bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan akan Allah adalah pusat dari keselamatan kita dan dari semua pengalaman kerohanian kita yang benar. Kita diciptakan untuk mengenal Allah. Dalam Alkitab, pengenalan akan Allah hampir setara dengan keselamatan itu sendiri. Yesus sendiri berkata bahwa hidup yang kekal atau keselamatan berarti pengenalan akan Allah, "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus" (Yoh. 17:3). Menjadi seorang Kristen bukanlah pengalaman yang tanpa otak, tetapi mencakup pula hikmat dan pengertian. Menjadi seorang Kristen berarti sebuah hubungan yang begitu dekat dan intim dengan Allah Pencipta Langit dan Bumi. Yang melatarbelakangi perkataan Yesus di atas ialah janji yang sudah diberikan oleh Allah beberapa abad sebelumnya.
Hal ini dapat kita lihat dari Yeremia 24:7 yang berbunyi, "Aku akan memberi mereka suatu hati untuk mengenal Aku, yaitu bahwa Akulah TUHAN." Dan penggenapan dari apa yang sebenarnya dimaksudkan oleh janji itu dapat kita lihat pada bagian selanjutnya dari kitab Yeremia, "Tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudara-saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua besar kecil, akan mengenal Aku" (Yer. 31:34). Nabi Yesaya juga berkata kepada kita bahwa pengenalan akan Allah akan menkitai pemerintahan Sang Penebus yang dijanjikan, Yesus Kristus. "Sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya" (Yes. 11:9). Alangkah indahnya! Ini semua meringkaskan apa yang Alkitab mau katakan mengenai maksud kedatangan Yesus: Memungkinkan kita untuk mengenal Allah.
Pengenalan akan Allah merupakan pusat bagi semua pengertian yang benar dalam hidup Kekristenan kita. Seseorang mungkin dapat menjadi Kristen dan tetap tidak mengerti akan banyak hal di dunia ini. Tetapi adalah mustahil bagi seseorang untuk menjadi Kristen tanpa mengetahui apa-apa tentang Allah. Pada puncaknya, Amsal 9:10 mengatakan, "Mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." Meski hari ini kita telah berhasil membuat terobosan ilmu pengetahuan, akan tetapi pengalaman kita akan Allah mungkin begitu sedikit hari ini. Itulah sebabnya masa kita ini begitu diwarnai oleh kelangkaan pengertian, apresiasi, dan pengertian yang sangat sempit akan waktu. Alkitab berulang kali mengajarkan bahwa pengenalan akan Allah merupakan pencegahan yang ampuh terhadap dosa. Yesaya membagikan hal ini ketika ia meratapi bangsa Israel dan pemberontakannya. Ia mengatakan, "Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya" (Yes. 1:3). Akar penyebab dari kemerosotan rohaniah mereka ialah kurangnya pengenalan akan Allah. Ketika seseorang mengenal Allah dan bertumbuh dalam hubungan yang akrab dengan-Nya, maka hidupnya akan ditkitai dengan integritas dan ia akan dapat dipercaya. Apa yang ada di bibirnya akan sama dengan apa yang ada di hatinya. Singkatnya, hidupnya akan kudus. Tetapi zaman ini terlalu takut terhadap kekudusan. Bahkan gereja pun mulai takut terhadap kekudusan. Dan hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita. Mengapa? Karena "kadar" pengenalan kita akan-Nya begitu kurang dari yang semestinya. Bila kita sungguh mengenal Dia, maka itu akan secara otomatis tercermin dalam kehidupan kita. Pengenalan akan Allah penting pula bagi pertumbuhan kita. Di bagian pembukaan suratnya yang kedua, Rasul Petrus membicarakan hal yang sangat menentukan ini. Dia mendesak rekan-rekannya supaya bertumbuh secara rohani dan berharap agar mereka dilimpahi kasih karunia dan damai sejahtera "melalui pengenalan akan Allah." Dia berkata kepada mereka bahwa kuasa Allah telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang kita perlukan untuk menjalani hidup ini sebagai orang Kristen, yaitu melalui pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib (2Ptr. 1:2-3). Rasul Paulus juga mengemukakan hal yang sama ketika ia menulis surat kepada jemaat Kolose. Bertumbuh, mempunyai kaitan khusus dengan "bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah" (Kol. 1:10). Kesalahan kita ialah kita sering menetapkan aturan main sendiri tentang bagaimana seharusnya kehidupan Kristen itu. Betapa beraninya kita! Padahal Allah sudah berkata bahwa jika kita mau bertumbuh sebagai orang Kristen, maka pertama-tama kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah.
Pengenalan akan Allah merupakan hak istimewa kita yang terbesar. Coba dengarkan lagi apa yang Yeremia katakan, "Beginilah Fiman TUHAN: 'Janganlah orang bijaksana bermegah karena kebijaksanaannya, janganlah orang kuat bermegah karena kekuatannya, janganlah orang kaya bermegah karena kekayaannya, tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah Fiman TUHAN'" (Yer. 9:23-24). Pernyataan ini keluar dari orang yang sama yang sebelumnya berkata, "Sekiranya kepalaku penuh air, dan mataku jadi pancuran air mata ..." (Yer. 9:1). Yeremia bukanlah teolog atau penulis menara gading! Di sini kita melihat seorang yang begitu berduka oleh karena pemberontakan bangsanya, yang melihat segala sesuatu melalui mata seorang yang terasing dari segala macam pergaulan, kecuali dalam pergaulan dengan Allah. Ia tidak berhenti di permukaan, tetapi terus menuju pada pokok permasalahannya. Tak ada gunanya kita memiliki segala bijaksana dunia, atau keperkasaan seorang pria, Hati Yang Dipersembahkan Kepada Allah - Sinclair B. Ferguson atau kekayaan, atau ketenaran atau apa pun juga, jika semua itu tidak disertai dengan pengenalan akan Allah. Dengan tegas Yeremia menurunkan segala hal yang oleh kebanyakan kita "diimpikan siangmalam" itu, pada posisi yang seharusnya (pada tempat yang benar-benar bawah). Hidup hanya benar - benar layak untuk dibanggakan jika pusatnya adalah pengenalan akan Allah, yang mengontrol segenap aspirasi kita. Inilah hal yang layak untuk dimegahkan. Apakah yang Kita dan saya bangga-banggakan?
Apakah yang selalu menjadi topik pembicaraan kita dan yang memenuhi hati dan pikiran. Pernahkah kita sadar bahwa pengenalan akan Allah merupakan harta terpendam yang paling berharga dan merupakan hak istimewa terbesar yang bisa kita  miliki? Jika belum, maka kita begitu picik dalam hal rohani. Kita telah menjual hak asasi kita sebagai orang Kristen demi "semangkuk sup kacang merah," dan pengalaman sejati yang seharusnya kita nikmati sebagai orang Kristen akan menjadi begitu dangkal, "aneh-aneh" dan keluar dari "rel" yang telah ditetapkan bagi kita. Malangnya, banyak aspek dari kehidupan Kristen kita benar-benar sudah terjangkit "rabun" rohani yang kronis. Hal ini tempak jelas dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam hubungan kita dengan sesama, dalam begitu minimnya dampak yang dapat kita berikan pada dunia, dan mungkin yang paling nyata; dalam penyembahan kita. Inilah yang Yeremia lihat pada masa itu! Tidak heran ia begitu deras mencucurkan air mata, tidak heran ia harus bertarung melawan depresi, karena ia begitu terbeban dengan bangsanya. Ia tidak pernah mampu mengecam mereka tanpa ia sendiri menjadi begitu "hancur hati." Seberapa sensitifnya Kita terhadap hal ini? Mengenal Allah adalah satu-satunya hak istimewa Kita sebagai orang Kristen dan yang akan menuntun Kita ke hal-hal penting lainnya. Akan tetapi, apakah hal pengenalan akan Allah sudah mengambil tempat utama di dalam hati dan pikiran  Kita? Di saat kita melihat kembali apa yang tertulis oleh Yeremia, maka kita sulit memungkiri bahwa kita   sudah menjadi korban dari kelicikan zaman di mana kita hidup sekarang ini. Selama beberapa tahun Gereja sudah dipenuhi dengan berbagai "topik hangat" dan terlibat di dalam kebuTuhan-kebuTuhan mendesak lain yang seharusnya tidak boleh ditempatkan sebagai prioritas utama. Berbagai konferensi dan seminar yang diadakan serta buku-buku yang ditulis berkenaan dengan "kebuTuhan vital" itu, telah mengambil tempat utama dan mengatur agenda gereja dan orang Kristen. Dan yang dilalaikan justru ialah perhatian terhadap Allah sendiri. Dan di saat-saat langka bilamana kelalaian itu tidak terjadi, kita menyikapinya seolah-olah sesuatu yang tidak pada tempatnya sedang terjadi. Akibatnya, kita mendefinisikan ulang arti kehidupan Kristen dan hidup yang kekal seturut dengan "isu-isu yang ada." Kita tidak lagi mendengar seruan Tuhan Yesus ketika Ia berkata bahwa kehidupan Kristen dan hidup yang kekal berarti pengenalan akan Allah. Apakah yang terkandung di dalam "Pengenalan akan Allah"? Ungkapan ini muncul di dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat Kolose. Isi dari doa Paulus ini memberikan kepada kita dasar tentang bagaimana bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti -henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Kolose 1:9-11 Page 3 of 7 Hati Yang Dipersembahkan Kepada Allah - Sinclair B. Ferguson Dalam bagian ini Paulus memberikan "Empat Hukum Fundamental" yang membuat kita bertumbuh dalam pengenalan akan Allah.
Hukum pertama Hanya Allah yang merupakan penulis dari pengenalan kita akan diri -Nya. Salah seorang penulis besar di awal Kekristenan yang bernama Hilary of Poitiers (315-368 M) menggemakan kebenaran ini, "Satu-satunya saksi yang sah untuk menyatakan siapakah Allah itu sebenarnya ialah Allah sendiri." Hanya Allah yang dapat memberikan kepada kita pengenalan akan Allah yang benar dan dapat dipercaya. Allah harus mengenalkan diri-Nya sendiri. Inilah alasannya mengapa Paulus tidak memberikan kiat-kiat praktis kepada jemaat Kolose agar mereka beroleh pengenalan yang benar akan Allah.
Yang dilakukan Paulus ialah berdoa bagi mereka dan meminta Allah sendiri untuk mengajar mereka. Inilah kebenaran yang membuat kita merendahkan diri. Inilah saya, dengan semua pengetahuan dan pendidikan yang saya miliki, saya mengetahui begitu banyak hal! Tetapi, di hadapan Allah saya hanyalah seorang pemula yang bergantung penuh pada ajaran dan tuntunan Roh Kudus. Di tempat lain Paulus mengatakan bahwa hanya Roh Kuduslah yang menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1Kor. 2:10-11). Hal yang mengagumkan dari kesaksian dan pelayanan- Nya di dalam kita ialah menyingkapkan hati Bapa kepada kita. "Kita tidak menerima roh dunia  yang tidak memiliki kemungkinan untuk mengenal dan mengasihi Allah]," tulis Paulus, "tetapi Roh yang berasal dari Allah, supaya kita tahu, apa yang dikaruniakan Allah kepada kita" (1Kor. 2:12). Pekerjaan.
Roh Kudus juga dikonfirmasikan dalam permohonan Paulus yang lain. Dia berdoa untuk jemaat Efesus (dan karena surat Efesus merupakan surat edaran, maka sah jika kita mengasumsikan bahwa di dalamnya Paulus juga berdoa bagi semua anak Allah), "[Aku] meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar" (Ef. 1:17). Pengenalan yang benar akan Allah tidak didapat dari buku (walaupun itu mungkin membantu kita) dan bukanlah dipelajari dari bangku seminari (walaupun seminari dapat mendorong kita). Pengenalan akan Allah juga bukan sekadar menambah informasi akan Allah (walaupun itu mungkin dapat mestimulasi kita). Inti sebenarnya bukan itu! Pengenalan akan Allah adalah pengenalan secara pribadi, karena yang akan kita kenal ialah Allah yang berpribadi. Hal ini hanya bisa ditemukan oleh mereka yang memiliki kerinduan untuk mengenal Allah dengan bergantung sepenuhnya kepada-Nya, dan yang memohon agar Roh Kudus memimpin pada kebenaran yang sejati. Dalam Yeremia 29:13 Allah berjanji, "Apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati." Jika kita meminta, kita akan menerima; jika kita mencari, kita akan mendapati; jika kita mengetuk, pintu pengenalan akan Allah akan dibukakan bagi kita. page 4 of 7 Hati Yang Dipersembahkan Kepada Allah - Sinclair B. Ferguson. hukum kedua Pengenalan akan Allah mencakup hikmat dan pengertian rohani. Kebenaran kedua ini tampak pada doa Paulus bagi jemaat Kolose. Paulus menyatakan bahwa hikmat dan pengertian merupakan karakter dari Mesias (Yes. 11:2), yaitu sebagai Pribadi yang dipenuhi oleh Roh Allah. Sebenarnya, dalam tingkat yang lebih rendah, kualitas ini merupakan tkita bagi setiap orang yang "diurapi oleh Roh Kudus" (yang sebenarnya merupakan padanan kata dari mesias). Contohnya Daniel, yang seluruh hidupnya mencerminkan pengenalan akan Allah, digambarkan sebagai seorang yang penuh dengan hikmat dan pengertian (Bacalah Dan. 2:14-30 dan 5:12). Akan tetapi, bagaimana kita bisa memiliki hikmat dan kebijaksanaan seperti itu? Dengan sarana apa (kalau ada) Roh Kudus menghasilkannya? Jawabannya begitu sederhana: Ia memakai Fiman Allah, yang juga adalah Fiman-Nya yang hidup! Ilustrasi dalam kitab Yesaya begitu indah tetapi begitu sering terlewatkan. Ilustrasi ini menggambarkan dengan jelas hidup, penderitaan, dan kesaksian Hamba Allah. Apakah yang menjadi rahasia kehidupan-Nya? Inilah kesaksiannya: Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.
Yesaya (50:4-5) Sungguh-sungguh mendengarkan suara Allah akan menghasilkan pengenalan akan Allah dan memperlengkapi kita untuk mengajar orang lain dan memberi mereka makanan rohani. Lalu, di manakah kita dapat mendengar suara itu? Suara itu dapat kita dengar di dalam Alkitab, dan melalui ketekunan kita menyelidiki isi pikiran Allah yang dinyatakan di dalamnya. Di dalam Alkitablah kita mengerti apa yang Allah mau katakan tentang diri-Nya sendiri, tentang kita, tentang alam semesta ini, dan apa yang Allah ingin kita ketahui untuk melayani Dia. Alkitab dapat diumpamakan sebagai museum dengan Roh Kudus sebagai Kepala Museum yang membawa kita berkeliling untuk melihat hikmat yang luar biasa dari Sang Pencipta langit dan bumi. Untuk dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, tidak ada bahan pengganti bagi disiplin pribadi kita di dalam menyelidiki, membaca, dan merenungkan Alkitab. Kita tidak mungkin mengabaikan Buku Pegangan yang Allah sudah berikan bagi kita dan kemudian berharap bahwa kita dapat mengenal-Nya melalui cara kita sendiri. Satu-satunya allah yang dapat kita kenal dengan jalan kita sendiri ialah allah hasil imajinasi kita sendiri. Fakta bahwa kita  memelihara Fiman Allah dan tinggal di dalamnya (Yoh 15:7), menggarisbawahi pentingnya hukum ketiga yang kita temukan dalam surat Paulus kepada jemaat Kolose. Page 5 of 7 Hati Yang Dipersembahkan Kepada Allah - Sinclair B. Ferguson Hukum ketiga Pengenalan akan Allah menuntut kesabaran dan ketekunan, mengakui bahwa barangsiapa yang ingin bertumbuh di dalam pengenalan akan Allah, mereka butuh "dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya" sehingga mereka dimungkinkan untuk "menanggung segala sesuatu dengan tekan dan sabar" (Kol. 1:11). Mengapa kualitas ini begitu penting? Karena Allah adalah Allah yang hidup dan berpribadi. Ia berjanji untuk mentransformasikan kehidupan kita agar kita dapat beroleh persekutuan dengan Dia, di mana di dalamnya tercakup pengenalan akan Dia. Dari sudut tentang Paulus, pengenalan berarti hubungan yang bersifat pribadi dengan-Nya dan dengan jalan-Nya. Di dalam pengembaraan kita, kita terkadang tidak mengetahui atau mengerti apa yang sedang Allah kerjakan di saat Ia memimpin kita untuk lebih mengenal-Nya. Pada saat itulah kita perlu mempercayai-Nya sekalipun kita tidak bisa memahami-Nya. Yakobus mencoba menerangkan kepada kita tentang apa yang dimaksud dengan percaya (Baca Yak. 5:10-11). Ia mengingatkan kita akan kesabaran, atau mungkin lebih tepat ketekunan Ayub (Karena sesekali Ayub kurang sabar). Mengapa Ayub perlu bertekun? Jawaban Yakobus adalah meski kita yang sudah membaca pasal terakhir kitab Ayub tahu apa yang pada akhirnya disediakan Allah baginya, tetapi Ayub tidak mengetahuinya. Ia harus belajar untuk menunggu kesudahannya, sebelum ia pada akhirnya dapat mengerti maksud dan tujuan Tuhan. Apa yang Allah kerjakan dalam kehidupan Ayub? Banyak hal! Akan tetapi, Ia terutama telah membawa Ayub untuk semakin mengenal-Nya, sehingga Ayub berkata: Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memkitang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku dudul dalam debu dan abu.
Ayub 42:5-6 Pada mulanya Ayub menyangka bahwa ia sudah cukup mengenal Allah, tetapi sekarang ia sadar bahwa ia telah diberi suatu pengenalan akan Allah dalam suatu dimensi yang benar-benar baru. Pelajaran penting apa yang seharusnya kita petik dari kisah Ayub di atas? Apa yang telah ditulis dalam hidup Ayub mengandung prinsip-prinsip yang masih berlaku bagi kita hingga saat ini. Siapa yang rindu untuk mengenal Tuhannya akan berjalan baik dalam terang maupun dalam gelap. Ada bukit yang harus didaki dan lembah yang harus dituruni! Maksud Allah tidak selalu dapat langsung dimengerti. Untuk belajar mengenal-Nya kita harus belajar untuk menunggu-Nya (Lihat Hab. 2:3). Dan untuk itu dibutuhkan kesabaran dan ketekunan! Hati Yang Dipersembahkan Kepada Allah - Sinclair B. Ferguson Hukum keempat Pengenalan akan Allah tidak akan pernah dapat dipisahkan dari hidup yang penuh kekudusan. Maksud Paulus berdoa supaya jemaat Kolose bertumbuh dalam pengenalan mereka akan Allah ialah supaya hidup mereka layak dihadapan Allah. Apakah yang menkitai suatu hidup yang layak di hadapan Allah? Agar kita dapat dikatakan senilai dengan "sesuatu" berarti harus ada kesesuaian antara kita dengan "sesuatu" itu. Oleh karena itu, Paulus berdoa agar hidup kita berpadanan dengan sifat-sifat Allah. Praktisnya, kesesuaian itu berarti bahwa semua yang telah kita ketahui tentang Allah, yaitu yang kita terima dari Fiman-Nya dan yang telah kita coba terapkan dalam perjalanan hidup kita, haruslah terpancar dalam kesetiaan kita pada Allah dan dalam integritas hidup kita. Kita harus "dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita" (Tit. 2:10). Takkan ada pengenalan yang benar akan Allah, yang tidak memanifestasikan dirinya dalam bentuk kepaTuhan kepada Fiman dan kehendak Allah. Seorang yang ingin mengenal Allah akan tetapi merasa keberatan apabila harus tunduk kepada-Nya, takkan pernah memasuki "Ruang Mahakudus" di mana Allah berkenan menyatakan diri-Nya kepada orang yang tidak berhasrat untuk memuliakan diri-Nya.

2.  Kehidupan Doa yang Berkembang
Sebagian besar orang kristen setuju bahwa doa sangat penting, tetapi untuk kebanyakan orang, hal tersebut  hanya sejauh itu. Namun, Roh Kudus sedang mendesak orang-orang percaya untuk berlutut seperti belum pernah terjadi sebelumnya dan mereka belajar untuk berdoa dalam suatu cara yang tadinya sulit, atau bahkan mustahil.
Doa orang benar berkuasa dan efektif, dikatakan di dalam Yak.5:16. Dalam versi Amplified Bible itu berbunyi: “Doa yang penuh kesungguhan (sepenuh hati, terus menerus) dari seorang yang benar membuat kuasa yang luar biasa tersedia (dinamis dalam pekerjaannya).”
Pengajaran iman dan kebenaran yang diurapi telah dilepaskan dengan penuh kuasa oleh Roh dalam tahun-tahun terakhir ini, di seluruh dunia. Sebagai orang percaya, kita telah dibangun dalam kebenaran kita di dalam Kristus, sehingga perasaan tertuduh yang ada sebelumnya telah kehilangan tempat berpijaknya di dalam kehidupan kita.
Melalui darah yang Yesus tumpahkan di Kalvari, kita telah memasuki jalan yang baru dan hidup kepada Bapa kita di surga. Kita telah menyadari bahwa Dia tidak melawan kita, tetapi ada untuk kita. Roh Kudus telah menunjukkan kepada kita di dalam Fiman, apa yang Tuhan telah tempatkan dalam perbendaharaan kita—harta warisan kita yang benar dan hak istimewa yang ada dalam Perjanjian Baru. Kita telah melihat bahwa iman menyenangkan Allah dan bahwa orang benar akan hidup oleh iman-memindahkan gunung dan melihat kuasa Allah dilepaskan dalam situasi yang mustahil.
Semua hal ini telah memberikan kita suatu hubungan yang segar dan baru dengan Bapa kita supaya saat kita datang kepadaNya, itu dilakukan dengan suatu pengharapan bahwa Dia akan mendengar dan menjawab kita. Dan Dia melakukannya. Ibr.11:6 mengatakan, Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.  Allah sendiri menjanjikan kepada kita bahwa Dia akan mengupahi kita saat kita mencari Dia—dan Dia mengharapkan kita untuk percaya bahwa Dia akan benar-benar melakukannya. Pikirkanlah sejenak berapa banyak doa yang tidak berkenan yang telah didoakan kepada Allah. Pikirkanlah sejumlah besar orang yang telah mengucapkan jutaan doa-doa agamawi yang ditiru tanpa adanya keyakinan setitikpun atau penantian akan suatu jawaban.
Allah telah menugaskan pengajaran iman untuk mengakhiri semua ini. Saat orang-orang mulai menemukan identitas mereka yang sebenarnya di dalam Kristus, seperti yang dinyatakan di dalam Fiman, dan apa yang mereka telah dan dapat wujudkan di dalam Dia, pengharapan mereka di dalam Tuhan mulai meningkat tajam. Mereka tidak lagi pergi berkeliling di bawah awan rasa tertuduh atau suatu perasaan umum bahwa Allah tidak pernah bersama mereka. Tidak, mereka dibangun dalam kebenaran, melangkah maju di dalam iman dan yakin sepenuhnya bahwa Allah akan selalu bersama mereka, sama seperti yang dikatakanNya.

a. Jaminan Akan Sebuah Jawaban Memotivasi Doa
Kita dibenarkan atau dijadikan benar oleh Yesus Kristus. Karena itu, Yak.5:16 mengatakan tentang Anda, doa orang benar sangat berkuasa dan efektif. Penemuan kembali kebenaran ini dan penantian akan hasil dan kepercayaan bahwa doa-doa kita benar-benar menghasilkan banyak, sedang menyapu seluruh tubuh Kristus di seluruh dunia hari ini. Saat Roh Kudus memberi kesan kepada roh kita, sehingga kita mulai percaya bahwa Allah dapat melakukan perubahan radikal atas situasi melalui doa-doa kita, itulah waktunya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh.
Seperti disebutkan sebelumnya, sebuah terjemahan berbunyi,”Doa orang benar membuat kuasa yang luar biasa tersedia.” Saat kita melihat kuasa Allah bekerja menjawab doa-doa kita, kita akan termotivasi lagi untuk berdoa. Namun, banyak orang percaya menemukan bahwa sulit untuk berdoa. Mengapa? Karena mereka telah begitu tidak yakin akan menerima jawaban. Bahkan pernah dianggap saleh untuk tidak menerima jawaban dan bahkan membanggakan untuk tidak meminta apapun kepada Allah sama sekali. Tapi, puji Tuhan, hari-hari seperti itu telah berakhir! Kita telah mulai melihat dengan jelas di dalam Fiman bahwa Allah ingin menjawab doa-doa kita. Yesus berkata dalam Yoh.15:7, Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FimanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Lebih lanjut dikatakan dalam Yoh.16:24, Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam namaKu. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
            Kita telah melihat bahwa sesungguhnya itu merupakan pikiran Bapa untuk menjawab semua doa kita. Saat Roh Kudus mengoreksi sikap kita yang salah melalui Fiman, suatu keinginan dan kerinduan yang baru untuk berdoa mulai bertumbuh di dalam kita dan kita memberikan diri kita sendiri untuk berdoa dalam cara yang benar-benar baru. Doa memanggil kehendak Allah di bumi ini, itu membawa hal-hal yang telah ada di surga turun ke bumi. Itu adalah mendoakan, seperti yang Mat.6:10 katakan, Jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga. Jika kita tidak tahu apa kehendak Allah itu, bagaimana kita dapat mendoakannya? Kehendak Allah adalah FimanNya. Hanya pada saat kita mengetahui apa yang dijanjikan FimanNya, kita dapat termotivasi untuk mendoakan hal itu turun ke bumi, sehingga itu menjadi bukti di tengah-tengah kita.
Saat motivasi untuk berdoa dan pengharapan akan jawaban tertanam di dalam roh kita, Roh Kudus datang untuk menolong kita dalam doa kita. Seperti yang telah dikutip sebelumnya, Yak.5:16 mengatakan,Doa orang benar sangat berkuasa dan efektif. Apa itu kuasa? Itu bukanlah bunyi halilintar, kalimat-kalimat yang saleh atau ungkapan kegembiraan yang luar biasa. Itu adalah pekerjaan Roh Kudus di dalam hati Anda, menolong Anda untuk mendoakan apa yang Allah inginkan untuk Anda doakan.

b. Doa yang Dipimpin Roh Menghasilkan Jawaban
Kita dapat memperhatikan  di dalam kehidupan doa pribadi kita atau di dalam kelompok doa kita bagaimana beberapa doa sungguh-sungguh sempurna dan benar, namun dibelakangnya tidak ada persetujuan dari Roh Kudus. Pada waktu yang lain, persetujuan Allah, otoritas dan penguatanNya, dengan sederhana mengatakan,”Inilah yang akan engkau doakan sekarang!” Sesudah doa yang seperti itu, suatu damai dan kepuasan yang dalam meneguhkan bahwa,”inilah yang Roh ingin kita doakan.” Rm.8:26 mengatakan, Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Roh Kudus dalam kita tahu apa yang perlu didoakan, sehingga saat kita membiarkan Dia memimpin kita, Dia akan menunjukkan kepada kita apa yang akan didoakan dan juga menguatkan kita saat kita berdoa. Lalu Dia akan bertindak sehubungan dengan apa yang telah kita doakan dan menjamin kita akan jawaban. Kita seharusnya selalu berdoa dalam kekuatan ini. Doa-doa yang dipimpin dan diinspirasi Roh yang seperti ini “berkuasa dan efektif”. Doa-doa ini tidak berasal dari kepala kita. Doa-doa ini tidak menetas di pikiran kita, tetapi permohonan itu lahir di dalam hati kita. Itu datang dari roh kita yang bersekutu dengan Allah. Itu dikandung di dalam manusia rohani kita dan didoakan keluar dalam perkataan mulut kita.
Dalam Yoh.4:23 Yesus mengatakan,Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Bapa telah lama merindukan penyembah-penyembah yang benar. Dia rindu akan orang-orang yang tidak hanya mengucapkan kata-kata yang hampa (Mat.6:5-7) atau yang doa-doanya bukan sekedar ungkapan-ungkapan agamawi yang penuh dengan ketidakpercayaan sehingga Dia tidak dapat menjawab mereka (Yak.1:6-8). Dia menantikan orang-orang yang akan berdoa menurut kehendakNya, yang akan berdoa dari hati mereka, dan dalam roh mereka, dipimpin oleh Roh Kudus. Orang-orang seperti inilah penyembah yang akan mendatangkan kuasa surga turun ke bumi di seluruh dunia.
Di seluruh dunia, Allah sedang mempersiapkan dan melatih penyembah-penyembah yang demikian. Itulah sebabnya Roh Kudus membawa orang-orang percaya ke ruang doa mereka. Saat kita telah belajar untuk berdoa sendiri, Allah akan mengijinkan kita untuk berdoa bersama yang lain. Saat kita telah belajar untuk berdoa bersama yang lain di dalam kelompook doa kita, Dia akan mengajar kita untuk berdoa di dalam gereja. Saat gereja lokal telah belajar untuk berkumpul dan berdoa dan mencari Allah, kuasa kegelapan yang telah membelenggu daerah di sekeliling mereka akan kehilangan pegangannya. Lalu kuasa Allah yang bebas akan tersedia bagi manusia dalam tingkat yang belum pernah kita saksikan dan revival akan terjadi.

c. Doa yang Memenangkan Bangsa
Bagaimana dengan kita sebagai umat pilahan dan  anak-anak Allah apakah kita sudah memenangkan negeri kita ini? Dan Apakah kita sudah melaksanakan amanat Agung kristus tentang jadikanlah bangsa jadi murid-Ku dan…..(Mat 28:19-20)  dan apakah kita sudah menyerahkan bangsa kita kepada Kristus. Itu adalah suatu tantangan yang luar biasa bagi kita untuk mengambil alih negara kita—tetapi Allah telah mengatakan bahwa Indonesia akan diselamatkan. Dia telah menjanjikan kepada kita bahwa kita dapat mengambil negeri ini dan kita akan melakukannya. Pertama sekali dan yang terpenting, itu dilakukan melalui doa. Saat kita percaya bahwa Allah telah mengatakannya dan memberikan diri kita kepada-Nya dalam doa yang kuat, kuasa-Nya akan tersedia, tanda-tanda dan keajaiban akan terjadi dan pria dan wanita akan diselamatkan. Di Indonesia akan diguncangkan oleh kuasa Allah.
2 Tw.16:9 mengatakan Karena mata Tuhan menjelajah ke seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada  mereka yang bersungguh hati terhadap Dia.
            Jika kita mengkomitmenkan diri kita kepada Allah, mempercayai apa yang telah dikatakanNya dan mendoakannya, Dia akan menolong dan menguatkan kita dengan kuasa-Nya yang akan dilepaskan di negeri seperti belum pernah terjadi sebelumnya. Kegelapan akan dipaksa untuk mundur di setiap kota di mana gereja telah belajar untuk mencari Allah, dipimpin oleh Roh dalam doa yang kuat dan mengikat kuasa kejahatan di sana. Kita juga dapat memenangkan bangsa ini dari profesi kita, kita menunjukkan kepribadian Kristus yang ada dalam diri kita yang penuh kasih dan rendah hati
Allah sedang membangkitkan pendoa-pendoa syafaat dan gereja-gereja yang bertumbuh dengan kuat dalam doa di seluruh negeri. Tidak ada revival yang dapat membuat suatu terobosan yang sedemikan meyakinkan. Orang-orang di mana-mana memberikan diri mereka kepada Allah dalam doa yang berani dan menaklukkan agar kuasa Allah mengguncangkan benteng-benteng iblis dan membebaskan yang terikat.
            Dalam 2 Tw.7:14 dikatakan, Jika umatKu, yang disebut dengan namaKu, akan merendahkan diri dan berdoa dan mencari wajahKu dan berbalik dari jalan-jalan mereka yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan akan mengampuni dosa mereka dan akan menyembuhkan negeri mereka (terj. Inggris).
            Dengarkanlah apa yang Roh Allah katakan dan mulailah menetapkan waktu dengan lebih teratur. Maka Anda akan menjadi bagian yang vital dalam jaringan orang-orang yang berdedikasi bagi kesembuhan negeri dan pemulihan hal-hal yang telah patah dan keselamatan yang terhilang.
            Jangan biarkan iblis memimpin kita untuk percaya bahwa kita tidak dapat berdoa, kita Anda tidak memiliki waktu untuk berdoa, atau bahwa Anda tidak akan mendapat jawaban jika Anda berdoa. Ini adalah kebohongannya untuk menghindarkan Anda dari memakai senjata yang paling berkuasa yang Anda miliki—Nama Yesus. Anda adalah orang percaya. Anda memiliki Nama Yesus. Anda dapat berdoa. Allah mendengarkan doa-doamu dan akan menjawabmu “jauh melebihi apa yang dapat anda minta atau bayangkan” (Ef.3:20). Jangan biarkan iblis menipu Anda,membuat Anda berpikir bahwa Anda tidak mempunyai waktu untuk berdoa. Kebenarannya adalah bahwa Anda tidak dapat menghasilkan waktu yang harus Anda sediakan, jika Anda mengabaikan waktu untuk berdoa. Allah akan memberikan kompensasi yang melimpah kepada Anda untuk waktu yang Anda berikan kepadaNya dalam doa pribadi. Bukan hanya itu, Dia juga akan membuat Anda menjadi lebih kuat dari sebelumnya di dalam Tuhan. Ini waktunya kita berdoa. Masuklah ke dalam kamar Anda, berdoalah seperti belum pernah sebelumnya, dan Anda akan melihat tanda-tanda dan keajaiban di dalam jawaban terhadap doa-doa Anda.

3. Tolok ukur Ketaatan
Masalah kedagingan adalah salah satu hal yang masih sangat sulit ditanggulangi oleh banyak orang percaya, bahkan sampai pada hari ini. Tapi hari ini saya deklarasikan, “Seluruh kuasa kedagingan telah dipatahkan dari hidup orang-orang percaya! Penjara kedagingan telah terbuka, dan setiap orang percaya bisa keluar dan hidup dalam kebebasan untuk berjalan dalam kebenaran dan menyukakan hati Tuhan!”
Ketika kedagingan telah dikalahkan, akan jauh lebih mudah bagi orang-orang percaya untuk dapat mulai berjalan dan hidup dalam ketaatan. Dan ketika kita terus hidup dalam ketaatan, kita pasti akan alami otoritas pemerintahan surga sungguh-sungguh termanifestasi secara nyata dalam hidup kita. Pada waktu ketaatan kita telah menjadi sempurna, itulah saatnya kita siap untuk menghukum segala kedurhakaan.
Apakah yang menjadi tolok ukur ketaatan kita, sehingga kita dapat mengetahui sampai sejauh mana kita sudah berjalan dalam ketaatan mutlak?

1. Hidup dalam ketaatan mutlak artinya kita sedang terus menghidupi apapun yang pernah Tuhan sampaikan secara pribadi kepada kita.
Dimensi ketaatan yang harus kita tunjukkan di hadapan Tuhan memang berbeda antara satu orang percaya dengan orang percaya lainnya, karena ketaatan selalu bersifat pribadi. Pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri adalah: Dari sekian banyak perintah yang secara pribadi Tuhan sampaikan kepada kita, apakah sampai hari ini kita masih terus menghidupinya?
Satu hal yang harus kita pahami adalah: sekali Tuhan memberi perintah kepada kita, perintah itu berlaku untuk sepanjang hidup kita. Jika Tuhan pernah memerintahkan kita untuk mengendalikan lidah kita dalam hal bergosip, itu berarti mulai saat itu dan sampai seterusnya Tuhan menghendaki kita tetap berjalan dalam ketaatan.
Semakin kita berjalan dalam ketaatan, semakin kita bisa merasakan kesadaran akan hadirat Tuhan meliputi kita, dan kesadaran akan kelemahan dan kemanusiawian kita akan semakin tersingkir. Di sisi lain, ketaatan juga akan membuat ketertarikan kita kepada apa yang selama ini ditawarkan oleh dunia juga akan mulai semakin memudar.
Alasan mengapa banyak orang percaya masih terus memilih untuk hidup di dalam dosa adalah karena di dalam dosa ada kenikmatan. Demikian pula alasan mengapa ada orang-orang yang rela mengorbankan apapun juga untuk dapat hidup dalam kekudusan adalah karena di dalam kekudusan juga ada kenikmatan. Alkitab berkata, “Penderitaan jaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang Tuhan sudah sediakan bagi kita”, dan itu berarti kita harus memiliki kemampuan untuk mulai membandingkan.
Selama kita hanya mendengar khotbah tentang penyangkalan diri, kematian daging dan memikul salib, tanpa kita sungguh-sungguh bisa melihat kemuliaan yang tersedia di baliknya, kita tidak akan bisa membandingkannya dengan apa yang disediakan oleh dunia. Sebagai akibatnya, kita akan lebih memilih untuk tetap tinggal di dalam dosa yang sudah kita cicipi dan rasakan kenikmatannya.
Ketika kita terus melangkah dalam ketaatan dan dengan tekun membenahi setiap area hidup kita yang masih belum selaras dengan Fiman-Nya, kesadaran akan hadirat Tuhanpun akan mulai semakin kuat mencengkeram hidup kita. Dan ketika itulah kita akan dapat sungguh-sungguh menyadari bahwa penderitaan jaman sekarang ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang tersedia bagi kita.

2.Hidup dalam ketaatan mutlak artinya kita memiliki kerelaan untuk mengorbankan apapun yang kita ingini/sayangi, demi dapat tetap taat kepada Dia. Jika Tuhan memerintahkan kita untuk mengorbankan sesuatu yang selama ini kita ingini/sayangi agar kita bisa terus melangkah dengan Dia, namun kita merasa keberatan dengan apa yang Dia minta tersebut, itu berarti sesuatu itu telah menjadi faktor yang membuat kita tidak taat. Mengapa Abraham dikatakan sebagai orang yang selalu taat? Karena bahkan ketika Tuhan meminta Ishak, Abraham rela menyerahkan Ishak.
Pertanyaannya saat ini: Adakah sesuatu dalam hidupmu yang pernah Tuhan minta, namun belum engkau serahkan? Adakah sesuatu atau seseorang yang sampai sejauh ini membuat engkau sering melanggar apa yang Tuhan perintahkan? Yakobus 4:4-5 berkata, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah”. Jika kita masih menyimpan sesuatu atau seseorang yang selama ini justru membuat kita tidak taat, artinya kita sedang menjadi musuh Tuhan.
Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, Ia menaruh Roh Kudus-Nya dalam hidup kita. Itu sebabnya ayat 5 berkata, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: "Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!"”. Maksudnya adalah, Tuhan menghendaki agar kita memperlakukan Roh Kudus yang Ia taruh dalam hidup kita, dengan cara yang sama seperti Ia sendiri memperlakukan Roh Kudus-Nya. Kita tidak akan pernah mendapati adanya konflik batin dalam diri Tuhan; apa yang Bapa ingin lakukan, Roh-Nya selalu bekerja sesuai dengan kehendak Bapa tersebut – selalu ada keselarasan dalam ketritunggalan Tuhan.
Karena itu, ketika Ia memberikan Roh-Nya kepada kita, Ia juga menghendaki agar apapun yang Roh-Nya lakukan, kita dapat meresponinya dengan benar; itulah yang akan membuat kita disebut sebagai sahabat Allah.
3. Hidup dalam ketaatan mutlak artinya kita melakukan semua yang Tuhan perintahkan secara akurat. Keakuratan dalam melakukan perintah Tuhan akan menjagai kita dari berbagai masalah dan kejaTuhan yang mungkin dialami oleh orang-orang lain. Sadarilah hal ini, semakin Tuhan membawa kita naik memasuki level dan otoritas rohani yang baru, semakin Tuhan menuntut keakuratan dari ketaatan kita dalam melakukan perintah-Nya. Ketika kita masih “di bawah”, kesalahan yang kita buat mungkin tidak akan menghasilkan dampak yang terlalu besar, tetapi di level yang baru, satu kesalahan yang sama seperti yang pernah kita buat akan memiliki efek yang jauh berbeda. Karena itu, ini waktunya kita terus melatih keakuratan dari pendengaran rohani dan ketaatan kita, karena pada waktu kita memutuskan untuk taat, Tuhan menghendaki ketaatan tersebut 100% akurat.
4. Hidup dalam ketaatan mutlak artinya kita tetap mengambil keputusan berdasarkan ketaatan terhadap Fiman, meskipun sedang ada di tengah tekanan atau masalah yang berat.Tuhan menghendaki agar bahkan di tengah tekanan, kita dapat terus berjalan dalam ketaatan. Jangan ijinkan tekanan apapun membuat hatimu berubah.

4  Ketaatan Sejati
Kata “Taat” hanya terdiri dari 4 huruf, tapi aplikasinya tidak sesingkat tulisannya. Dibutuhkan proses yang panjang. Untuk taat dengan orang tua kita yang kasat mata aja susah, apalagi taat dengan Tuhan yang secara fisik tidak bisa kita lihat walaupun kehadiranNya nyata.
Seringkali setelah dewasa kita baru menyadari bahwa nasehat yang pernah diberikan orang tua saat kita masih kecil tenyata bermanfaat bagi kehidupan kita sekarang. Padahal dulu mesti pakai acara perang mulut dan diancam2 segala baru nurut. Kenapa bisa begitu?
Konsep berpikir kita waktu itu focus di 'masa kini' sedangkan orang tua begitu konsen untuk 'masa depan' kita. Perbedaan focus inilah yang sering menimbulkan riak-riak dalam kehidupan orang tua - anak.
Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita sebagai onak Tuhan. Sebagai Bapa yang baik, Dia telah menuliskan dalam FirmanNya, semua nasehat yang pasti bermanfaat bagi kita di masa kini maupun di masa yang akan datang, tapi seringkali kita tidak taat melakukannya. Kita lebih taat pada apa kata peramal, paranormal dsbnya. Yoh 15:9-11 membicarakan 3 topik yang berkaitan antara satu dengan yang lain:




ü  Kasih,
Yaitu membicarakan bagaimana kasih Allah turun pada Kristus, kasih Kristus turun pada umat, umat kepada Kristus dan kasih Kristus pada Bapa. Kasih yang terikat ini menjadi dasar untuk membentuk ketaatan.

ü  Ketaatan
            To keep the commandments, memegang dan melakukan perintah Tuhan. Barangsiapa menuruti perintahKu, Dia akan tinggal dalam kasihKu sama seperti Kristus taat pada Bapa dan hidup dalam kasih Bapa. Ketaatan menuruti perintah dikaitkan dengan cinta kasih menghasilkan
ü  Sukacita
Kalau sudah ada kasih dalam diri kita dan ketaatan membentuk kita kemudian menjadi satu di dalamnya maka akan keluar hasil, yaitu sukacita penuh dari Kristus.
Di dunia, tiga bagian ini, secara tema, arti dari kata-kata tersebut dimengerti dengan jelas. Tetapi yang dunia pikir tahu, ternyata mereka tidak tahu. Kenapa? Karena dunia belum menyentuh esensi dari kata tersebut. Mereka memakai kata kasih, mempraktekkan kasih tapi yang dipraktekkan bukan kasih, cuma manipulasi istilah kasih. Begitu juga dengan arti kata taat dan sukacita. Mereka menjalankan tiga unsur ini tapi tidak berhubungan antara satu dengan yang lain. Mereka pikir sedang bersukacita, itu bukan sukacita sejati tetapi hanya rasa sukacita.
Dunia menggunakan terminology sama, tapi mempunyai content yang berbeda. Dunia postmodern suka bermain-main dengan bahasa, language game, mereka tidak tahu esensi dari arti dan istilah bahasa tersebut. Latarbelakang munculnya gerakan ini karena ketidakpuasan terhadap keadaan yang hopeless. Beberapa waktu lalu telah dibahas mengenai kasih yang sejati. Alangkah indahnya jika dunia mengerti arti kasih sejati tapi sayang, dunia tidak mengerti. Jadi ketika ada orang berkata,”I love you”. Maka jadi pertanyaan besar buat kita, What’s that? What do you mean  by love?  Apa artinya cinta? Dunia mengerti, Iove sama dengan  like, cinta sama dengan suka. Padahal, cinta bukan suka dan suka bukan cinta, kalau keduanya digandeng maka akan terjadi kesalahan besar. Karena cinta akan jadi manipulatif, saya mencintai bukan karena saya mencintai tetapi karena  ingin  memakai,  memanipulasi,  mendapatkan  seseorang  maka digunakan istilah I love you. Cinta sejati bukan berorientasi pada keinginan diri, nafsu diri, ekspresi, emosi diri, semua yang dari diri, dan dilampiaskan pada orang lain. Orang lain menjadi obyek manipulasi dari orang yang mengatakan I love you. Kasih yang sejati seharusnya muncul dari sumber kasih, yaitu Tuhan Allah dan kasih sejati bukan sekedar bernuansa emosi, tetapi suatu person, pribadi maka di dalam iman kristen tidak pernah dikatakan Allah bersifat kasih tetapi dikatakan Allah adalah Kasih. Kasih bukan sekedar sifat atau emosi tertentu dari Allah, tetapi justru kasih itu adalah eksistensi diri Allah yang dinyatakan secara totalitas dan itu dinyatakan dengan pengorbanan Kristus di atas kayu salib, mati untuk kita.
Dunia di abad 21 memasuki kondisi yang sangat menakutkan, dunia semakin modern semakin canggih tapi orang yang semakin canggih justru semakin jahat. Sehingga ketika orang berupaya untuk ‘memakan’ sesamanya, digunakan teknik-teknik yang sangat canggih untuk menghancurkan orang lain maka di jaman sekarang ini terlalu banyak istilah yang bagus, yang indah namun dipakai untuk menghancurkan orang lain. Ketika anda mempercayakan diri pada obyek iman yang salah, maka bersiaplah engkau akan dihancurkan oleh dunia! Jangan menangis! Jangan kecewa! Salah satu aspek adalah karena kesalahan kita sendiri karena tidak bisa memilah kepada siapa kita mau mempercayakan diri!
Cinta kasih sejati, true love, hanya ada pada Yesus Kristus. Hanya kepada Dia kita berhak memberikan cinta kita. Hal ini sudah dibahas dan dapat dilihat pada Love, Obey & Joy (1) (ring. Khotbah 17 November 2002). Bagaimana supaya kita dapat hidup dalam kasih sekaligus taat pada Bapa?

1. Menuruti perintah Bapa.
Kasih harus dikaitkan dengan ketaatan. Hal ini sangat penting tapi sangat sulit dimengerti dan dijalankan oleh dunia. Dalam setiap aspek hidup kita, kita banyak dididik, dilatih dan ditekankan dengan istilah ketaatan, misal: di sekolah, di rumah, di kantor, dan sebagainya. Tapi ketaatan yang dunia mengerti dan yang Alkitab ajarkan sangat jauh berbeda.
Dunia mengerti ketaatan, tapi ketaatan yang dunia mengerti bukan ketaatan yang sesungguhnya tapi  ‘keterpaksaan’. Hal ini disebabkan karena:

1.      Ketaatan muncul karena adanya penguasaan, ketakutan.
Kalau tidak taat, maka akan dihukum, dibunuh, ditangkap, dipenjarakan, mengalami kesusahan dsb. Apakah itu taat yang sesungguhnya? Itu bukan ketaatan, kita taat karena terpaksa, itu penindasan. Dalam mendidik anak, jangan memakai cara seperti itu, anak diajar taat pada orang tua karena ada hukuman yang menanti jika mereka tidak taat. Anak akan menumpuk kebencian pada orang tua. Maka tidaklah heran, ada kasus anak yang membunuh orang tua kandung akibat kebencian yang telah dipendam begitu lama. Akhirnya, ketaatan sinonim dengan kejahatan, hukuman, penindasan, kebencian dan pemberontakan. Satu hal yang dunia tidak tahu, yaitu ketaatan dihubungkan dengan cinta kasih.

2.      Ketaatan muncul karena sudah dibeli.
Kenapa saya taat? Karena sudah dibayar, karena sudah mendapat  upah yang diinginkan, karena sudah dibeli oleh penguasa yang menuntut ketaatan. Lalu itukah yang dinamakan taat? Bukan! Jualan! Saya sedang jual ketaatan untuk dapat sesuatu yang saya perlu, yaitu upah, imbalan. Ketaatan seperti ini adalah ketaatan yang sangat kondisional, terbatas, ketaatan humanis, materialis karena ada iming-iming. Kita sedang jual diri kita untuk jadi budak orang yang membeli kita, tidak beda dengan seorang pelacur yang menjual dirinya untuk sesuatu yang orang lain suka. Ini bukan ketaatan tapi suatu bisnis, tawar menawar.
Manusia ketika mengalami tekanan, mereka menggunakan istilah taat. Ketaatan yang diajarkan dunia, suatu saat akan hilang, sirna, dan bersifat kondisional. Sejarah membuktikan, ketaatan akibat tekanan akan meledak menjadi perlawanan yang luar biasa! Michael Foucault, ‘orang gila’, homoseksual, tapi jadi dekan psikologi dan menjadi pimpinan tertinggi di universitas, Amerika. Dia ke Amerika bukan karena ada tawaran rektor tapi karena di Amerika ada perkumpulan gay paling besar di dunia. Akhirnya dia mati mengenaskan,  AIDS. Buku-buku karangannya diterjemahkan ke berbagai bahasa dan banyak diminati oleh orang-orang dunia. Ironis, orang yang gila menulis buku tapi banyak orang mengagumi dan membeli bukunya. Apa yang terjadi? Pasti ada kesamaan antara penulis dengan pembaca. Michael Foucault mengajarkan, dunia penuh dengan kekuasaan dan semua kekuasaan adalah kejahatan, jadi mari kita lawan semua kekuasaan, mari kita menjadi orang yang anti otoritas karena semua otoritas adalah kejahatan! All power, all authority is evil. Semua orang setuju dengan pernyataan tersebut. Dengan kata lain, dia mau berkata,”Mari kita jadi penguasa.” Orang yang anti kekuasaan, tapi dia mau jadi penguasa dan tidak mau dikuasai. Dia tidak sadar, waktu teriak anti kekuasaan, dia sedang berkuasa dan waktu sedang berkuasa, dia jahat tetapi dia selalu menuduh orang lain yang berkuasa itu jahat. Dia tidak pernah melihat diri sendiri dimana kalau dia berkuasa, dia juga jahat.
Ketaatan selalu dikaitkan dengan kekuasaan, kebencian, pemberontakan. Hal itu sudah melekat di kepala kita, maka ketika mendengar kata taat, langsung dihubungkan dengan penguasa, dan melihat penguasa, langsung dihubungkan dengan kejahatan, ketidakpuasan, pemberontakan.
Orang yang taat karena dibeli, dibayar, maka suatu saat jika ada orang yang membayar lebih mahal maka dia akan pindah pada orang lain. Apa bedanya dengan dunia bisnis? Harga diri manusia menjadi rendah karena bukannya menjalankan ketaatan yang sejati tetapi menjadi jual beli diri. Moral, nilai hidup, harkat diri manusia turun sampai ke titik yang terendah, tidak beda dengan binatang. DI dunia yang semakin modern, manusia semakin kehilangan dirinya, kehilangan dignity-nya. Kenapa? Karena sudah terbiasa jual beli diri.
Sekarang banyak gereja yang rusak, tidak bisa menjalankan visi karena hamba Tuhannya sudah dibeli. Pada prinsipnya, jemaat tidak ikut membayar gaji hamba Tuhan, jemaat hanya bertanggung jawab memberikan persembahan sesuai dengan apa yang Tuhan sudah berikan dan jemaat harus memberikan persembahan buat Tuhan. Jemaat bertanggung jawab pada Tuhan bukan pada hamba Tuhan. Kemudian gereja mempunyai suatu tim dimana tim ini berpikir bagaimana menghargai seorang hamba Tuhan, hamba Tuhan dihargai bukan dari pribadinya. Orang yang diberi berkat besar maka dia pantas memberi banyak, berlebih. Orang yang diberi berkat sedikit maka dia pantas memberi kecil. Orang miskin yang memasukkan uang 2 peser  ke dalam kotak, secara persentasi dia memberi lebih besar dibanding dengan orang kaya yang memasukkan 10% dari penghasilannya karena 2 peser yang masuk sama dengan 100%, sedangkan orang kaya memberi dalam jumlah besar tapi cuma 10% dari seluruh penghasilannya. Jadi, mana dan siapa yang memberi lebih banyak? Tentu, yang memberi 100% dari seluruh penghasilannya, yaitu si orang miskin. Komitmen anda di hadapan Tuhanlah yang dinilai. Tapi dunia tidak mau mengerti arti ketaatan sejati dan celakanya istilah ketaatan yang dimengerti oleh dunia, diimport, dimasukkan ke dalam gereja. Akibatnya, gereja tidak bisa lagi menyatakan ketaatan yang sesungguhnya. Biarlah saat kita boleh mengerti tentang arti dan makna ketaatan yang sejati, hal itu boleh membawa kita masuk ke dalam hubungan yang paling konsisten dan akan menghasilkan suatu sukacita besar, yang tidak bisa didapatkan oleh orang lain. Alkitab mengatakan, ”Kamu mau mendapatkan kasih? Jawabnya cuma satu, yaitu turuti perintahKu.”

2. Ketaatan membuat kita hidup dan tinggal dalam kasihNya.
Bahasa asli memegang, keep my commandments, yaitu memegang bukan cuma sekedar memegang tapi memegang erat dan ditaruh dalam hati dan itu menjadi bagian hidup kita. Jadi perintah Tuhan bukan hanya sekedar teori, yang kita mengerti, hafal, seperti ahli taurat, orang Parisi. LAI menerjemahkan dengan lebih implikatif, yaitu memakai istilah menuruti  perintahKu. Menuruti perintah Tuhan sebagai suatu sikap, memegang erat lalu menjalankannya. Disinilah unsur ketaatan muncul. Bagaimana dengan ketaatan sejati? Tuhan menggambarkan ketaatan sejati :

a.      dimulai dengan cinta Allah pada dunia ini, cinta Kristus terhadap kita yang membuat kita mempunyai unsur ketaatan.
Tuhan tidak menuntut kita taat dahulu, bahkan Kristus mencintai kita, mati untuk kita ketika kita masih berdosa (Rom 5:8). Dunia kebalikannya, menuntut kita taat terlebih dulu baru kemudian ada imbalan. Serahkanlah dirimu, taat kepada Dia yang telah mencintaimu, yang telah berkorban begitu besar dengan mati untuk kita! Dia tidak akan mencelakakan kita! Kalau toh memang Dia mau mencelakakan kita, dibiarkan diam saja kita pasti akan mati sendiri. Relasi yang sangat wajar, kalau ada seseorang yang mencintai kita,   dia menasihati kita demi untuk kebaikan kita lalu kita menurutinya. Bagaimana kalau ada orang  yang licik, yang ingin menghancurkan kita, lalu memberi nasihat pada kita? Kira-kira kita mau menurut atau tidak? Anehnya, kita mau mengikuti, taat pada segala sesuatu yang mau menghancurkan kita, kepada dia kita mau taat. Tapi justru kepada orang yang mencintai kita, mengasihi kita yaitu Tuhan yang telah menyayangi kita, kita tidak mau taat. Aneh, kan? tapi nyata! Ketaatan sejati harus muncul dari cinta yang sejati, yaitu cinta Tuhan pada kita. Dia mencintai kita maka Dia berhak memberikan perintah pada kita.
b.      Dengan cintaNya yang begitu besar, membuat kita mendapat jaminan, kepastian, bahwa Dia akan turut serta pada apa yang dikatakanNya.
Ini sangat penting dalam hidup kita. Kalau Dia sudah rela mati untuk kita, maka kalau Dia berkata,”Jalan! Aku akan beserta kamu!” Maka Dia pasti akan beserta dan kalau saya menjalankan perintah Tuhan maka Tuhan akan turut serta di dalamnya. Jikalau kita tidak pernah jalan, taat akan perintah Tuhan maka jangan salahkan Tuhan kalau anda hancur! Waktu kita taat maka engkau ada di dalam kasihKu. Kepada siapa kita mau taat? Dunia menawarkan hal yang menakutkan, salah satunya filsafat utilitarianisme, dicetuskan oleh John Stuart Mill. Salah satu tesisnya berisi :
·         hidup di dunia cuma ada 2 pilihan, yaitu pleasure or pain, gain or lost, senang atau menderita,     mendapat atau hilang. Tidak ada pilihan lain. Maka kalau begitu, kita harus ambil untung, hidup harus senang, tidak boleh rugi, tidak boleh susah atau kehilangan, maka:
·         Etika harus sejajar dengan pleasure dan untuk itu kita harus gain. Maka kita harus kejar pleasure, kalau gagal, maka:
·         Penderitaan, kerugian atau kehilangan, jangan salahkan siapa-siapa, itu resikomu!.
Contoh: MLM (Multi Level Marketing), Alkitab mengkritik itu adalah prinsip dasar humanis, materialis, yang akan menghancurkan semua aspek hidup kita. Hari ini banyak orang mempermainkan perintah Tuhan, bukan kembali kepada Firman Tuhan tapi justru masuk dalam subjective interpretation terhadap perintah Tuhan. Bertobatlah! Jangan pernah percaya, jangan pernah berharap kepada dia yang tidak sungguh-sungguh mencintai, tidak pernah berkorban untuk kita. Bahkan, jangan mudah percaya dengan orang kristen sekalipun. Maaf, karena jaman sekarang, istilah kristen banyak dimanipulasi. Oleh karena itu orang Kristen harus membuktikan diri, yaitu dengan hidup dipenuhi oleh kasih sejati dimana kasih sejati itu membuat kita taat dan ketaatan yang sejati membuat kita beroleh sukacita yang sejati, yang berbeda dengan yang dunia tawarkan. Itulah kehidupan kristen yang  indah. Amin.

3. Ketaatan Sempurna : Yesus
Akhirnya marilah kita lihat kehidupan Yesus. Tentu saja Yesus itu sempurna adanya, Allah dalam rupa manusia. Namun ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari lewat hidupnya. Walapun kita tidak mungkin sempurna dan tanpa cacat seperti Yesus, Roh Kudus akan membantu kita untuk mentaati Allah setiap saat. Apapun yang Ia ingin kita lakukan entah menyakitkan atau menyenangkan, menguntungkan atau merugikan , Bapa Surgawi pasti berusaha membantu kita agar dapat mentaatiNya
Tuhan yang kita layani adalah Tuhan yang penuh kasih, baik, ajaib , tak terlukiskan dan luar biasa. Lewat pengalaman, saya sudah membuktikan bahwa ketaatan harus menjadi yang utama dalam hidup setiap orang percaya. Ketaatan adalah satu2nya jalan bagi anda untuk menjadi yang diinginkan Tuhan, juga untuk mendapatkan segala sesuaru dalam hidup yang telah Ia sediakan bagi anda
Doa dan permohonan saya kepada Allah untuk diri anda adalah agar anda dapat mentaatiNya, agar anda menjadi orang yang sesuai dengan kehendakNya, melakukan karya yang Ia inginkan . meskipun menghasilkan buah yang menyakitkan atau menyenangkan , menguntungkan atau merugikan, Bapa Surgawi pasti membantu kita agar dapat mentaatiNya


4. Ketaatan penuh
Saat kita membaca kisah hidup Nuh di kejadian 6-9, kita melihat suatu gambaran ketaatan penuh. Allah meminta pria ini untuk melakukan sesuatu yang luar biasa sesuatu yang kelihatannya mustahil dan tidak masuk akal. Hebatnya Nuh melakukan tanpa banyak tanya, Nuh taat pada TUhan tanpa memperdulikan apa kata orang lain tentang dirinya. Bila kita memilih untuk taat kepada Allah, kita pun harus siap2 mendapatkan tanggapan negarif dari sekeliling kita. Mentaati Allah bukanlah hal yang populer di dunia ini. Banyak orang akan mengecam dan mentertawakan anda. Namun coba anda pikirkan tentang Nuh, pria ini memutuskan untuk tetap berjalan dengan Allah di tengah dunia yang telah rusah itu; sehingga Allah hendak memusnahkan semua umat manusia kecuali satu keluarga. Kita hanya bisa membayangkan saja apa yang dikatakan oleh orang2 bebal itu kepada Nuh, Kita bisa membuat suatu kesimpulan atas hidup Nuh : bila Tuhan meminta kita melakukan sesuatu, kita harus berkonsentrasi penih untuk melakukannya atau orang lain akan berusaha mengalihkan perhatian kita. Orang-orang ini mencoba membuat Nuh berpaling dari kehendak Tuhan. Jika Nuh mulai memikirkan apa kata orang lain, sudah pasti bahtera itu tidak akan pernah selesai, dan akhirnya iapun ikut tenggelam oleh air bah bersama yang lainnya. Nuh memilih untuk mentaati Tuhan dengan teguh. Inilah yang disebut ketaatan penuh.

9.3  Menjalin Persekutuan Dengan Tuhan
Banyak orang tidak begitu mengerti arti persekutuan. Persekutuan berarti persatuan atau ikatan.Saya ambil perumpamaan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Semua klub sepakbola diseluruh Indonesia bergabung menjadi satu, dan bila PSSI mengeluarkan suatu pernyataan maka pernyataan itu menjadi jauh lebih kuat dari pada pernyataan yang dikeluarkan oleh klub sepakbola kota Jakarta, PERSIJA. Jika kita, sebagai anggota pengurus PSSI, diberi otoritas untuk memberikan sebuah pernyataan, maka kita berbicara atas nama semua anggota PSSI dan karena itu akan mendapat dukungan dari semua anggota PSSI jika ada konsekuensi yang tidak enak dari pernyataan tersebut.Itu adalah arti yang sesungguhnya dari sebuah persekutuan. Akan tetapi kenyataan yang ada didunia sudah banyak yang diserongkan. Seringkali kita mendengar banyaknya bentrokan yang terjadi di dalam sebuah persatuan sehingga suara yang keluar dari persatuan itupun menjadi tidak seragam. Yah, itulah dunia...tidak punya integritas karena ilah yang memerintahnya, yaitu iblis, tidak memiliki integritas. Akan tetapi persekutuan yang saya maksud adalah persekutuan atau persatuan atau ikatan dalam arti yang sesungguhnya. Sebuah persekutuan yang penuh dengan integritas dan salah satu pihak, yaitu Tuhan, telah menyelesaikan bagianNya, sehingga Dia sedang menantikan kita untuk melakukan bagian kita.Di dalam persekutuan dengan Tuhan, jika kita mengeluarkan pernyataan dan melakukan tindakan lain yang sesuai dengan FimanNya, maka Allah Bapa, Tuhan Yesus, dan Roh Kudus mendukung pernyataan kita dan para malaikat Tuhan bekerja untuk mewujudkan FimanNya yang kita perkatakan. Kita mungkin berpikir, “Bukankah dengan kelahiran baru saya telah menjadi satu dengan Tuhan? Kalau saya lahir dari RohNya, bukankah berarti saya sudah menjadi satu roh dengan Tuhan?” Benar, kelahiran baru berarti kita telah lahir dari RohNya. Akan tetapi jika kita lahir dari RohNya, tidak berarti kita otomatis bersekutu denganNya. Kita lahir dari ayah dan ibu kita. Apakah kita otomatis memiliki persekutuan dengan orangtua kita? Tentu saja tidak. Ada usaha yang harus kita lakukan untuk bisa bersekutu dengan orang tua,  supaya kita mendapatkan dukungan sepenuhnya dari mereka. Meskipun kita tinggal satu rumah dengan orang tua, meskipun kita setiap hari bertemu muka dengan mereka, meskipun menyapa dan berbicara dengan mereka, menurut kita, seberapa dekat hubungan kita dengan mereka?
Jika kita bisa dengan yakin menjawab pertanyaan itu, berarti yang akan saya ulas berikut ini tidak asing lagi bagi kita. “Bergaul Dengan Tuhan”. Ada empat hal yang perlu kita kerjakan untuk menjalin persekutuan kita dengan Tuhan tetap segar, yaitu:
·         bergaul dengan Tuhan melalui FimanNya yang tertulis,
·         bergaul dengan Tuhan dalam doa,
·         hidup dalam kasih, dan
·         menaati Fiman Tuhan yang kita baca atau dengar serta menaati suara hati (roh) kita.

Di dalam kehidupan sehari-hari, agar kita dapat menjadi dekat dengan seseorang maka kita perlu meluangkan waktu untuk bergaul dengan dia.  Pada mulanya adalah Fiman; Fiman itu bersama-sama dengan Allah dan Fiman itu adalah Allah (Yohanes 1:1). Kita tidak akan pernah mengenal Tuhan tanpa mengenal FimanNya, karena Ia adalah Fiman dan Fiman adalah Dia. Bergaul dengan Tuhan berarti menghabiskan banyak waktu untuk membaca FimanNya, mendengar FimanNya, serta merenungkan FimanNya sama seperti yang dikatakan oleh Yosua (Yos. 1:8). Jika kita mau saja menghabiskan waktu untuk bergaul dengan Tuhan sebanyak yang kita habiskan nonton televisi, kita pasti akan mengenal Tuhan sebaik kita mengenal pemain bola kesayangan kita. Ingatkah kita ketika jam tayang pertandingan Bola kesukaan kita mulai, maka kita berhenti melakukan kegiatan lainnya supaya bisa konsentrasi menonton bola tersebut. Malahan kita sampai membahas hasil pertandingan tersebut dengan teman-teman keesokan harinya. Sekitainya hal yang sama kita terapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, pasti kita sudah mahir dalam Fiman Tuhan. Kalau saja kita mau menghabiskan uang untuk membeli buku rohani atau kaset khotbah sebanyak yang kita rela habiskan untuk membeli handphone model baru, saya jamin ketika kita membaca buku atau mendengar kaset itu maka hati kita akan dipenuhi dengan pengertian akan FimanNya.     Mencicil handphone model baru, misalkan, sebanyak Rp. 200.000 per bulan bukanlah hal yang memberatkan bagi banyak orang Kristen. Akan tetapi mengeluarkan uang dalam jumlah yang sama untuk membelikaset khotbah/buku rohani masih merupakan kejadian langka. Kitaikan kita mendahulukan kaset khotbah/buku rohani untuk memperbaharui pikiran (Rom. 12:2) dari pada memperbaharui handphone kita yang lama, kita pasti tidak mudah terombang-ambing oleh situasi dan kondisi. Sekitainya keinginan kita untuk memiliki persekutuan dengan Tuhan sebesar keinginan kita untuk mendapatkan promosi di kantor, kita pasti rela untuk “lembur” membaca/mendengarkan Fiman setelah pulang kantor. Seperti kita yang sedang mengejar jabatan sehingga tidak keberatan untuk bekerja pada hari libur, kita yang sedang mengejar persekutuan dengan Tuhan seharusnya juga tidak keberatan untuk membaca/mendengarkan Fiman pada hari kerja. Dan tahukah kita bahwa susah payah tidak akan membuat kita kaya, melainkan berkat Tuhan (Ams. 10:22)? Dan promosi itu berasal dari Tuhan, bukan karena kita kerja lembur (Mzm. 75:6). Kitaikan kita mau hubungan kita dengan Tuhan sedekat hubunganmu dengan kekasihmu, maka kita pasti rela mengorbankan beberapa kegiatan yang mengganggu waktu bergaulmu dengan Tuhan. Bahkan ada yang berani menghentikan pergaulannya dengan beberapa teman dekat karena tahu mereka tidak begitu suka dengan kekasihnya. Cara berpakaian sekalipun rela kita ubah untuk menyenangkan hati si dia. Ah, kalau saja kita serela itu dalam mengubah cara hidupmu sesuai dengan kehendak Tuhan, pasti keinginan hatimu akan diwujudkan-Nya (Mzm. 37:4-5).
Kedekatan terjadi karena kedua belah pihak mengambil komitmen untuk saling mendekat. Dalam hubungan kita dengan Tuhan, kedekatan hanya dapat terjadi jika kita, umat Tuhan, mengambil keputusan untuk mendekat kepadaNya (Yak. 4:8). Darah Yesus yang tercurah di kayu salib telah menghapuskan perseteruan dan memperdamaikan kita dengan Allah Bapa (baca Efesus 2:11-18). BagianNya telah selesai dikerjakan oleh Yesus.Sekarang tinggal bagian umatNya. Keselamatan tersedia bagi siapapun. Siapa saja yang mau tinggal percaya dalam hati dan mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, maka keselamatan menjadi miliknya. Roh Kudus sedang bekerja menginsyafkan orang-orang berdosa agar bertobat. Roh Kudus juga sedang giat menyingkapkan misteri dan rahasia Fiman Tuhan bagi yang mau tahu dan mencariNya (Ul. 4:29;Yer. 29:12-14).

1  Menjadi Satu Roh Dengan Tuhan.
Fiman Tuhan di 1 Korintus 6:17 mengatakan, Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia. Benar, kita lahir dari Roh Allah. Benar, kita memiliki Roh Allah berdiam di dalam hati kita. Akan tetapi kita baru menjadi satu roh dengan Dia ketika kita berlaku sesuai dengan FimanNya.Tuhan Yesus katakan bahwa FimanNya adalah roh dan hidup (Yoh. 6:63).
Jika kita percaya pada FimanNya dan hidup sesuai dengan FimanNya, maka kita menjadi satu roh denganNya. Jika kita tidak percaya pada FimanNya dan tidak hidup sesuai dengan FimanNya, meskipun kita sudah lahir baru dan lahir dari RohNya, maka kita tidak menjadi satu roh denganNya tetapi menjadi satu dengan keinginan daging kita yang dikuasai oleh iblis. Kata “menjadi” mengandung usaha keras dan suatu masa. Agar seseorang “menjadi” dewasa, dibutuhkan sebuah proses serangkaian pengambilan keputusan yang harus dilakukannya secara konsisten di dalam suatu periode waktu. Agar sepasang manusia “menjadi” satu sebagai suami istri, mereka berdua harus bertekad untuk tetap berada di dalam hubungan itu dan bekerja keras untuk tidak membiarkan perbedaan di antara mereka memisahkan mereka, bukan sekedar karena ada anak, akan tetapi supaya mereka bisa “menjadi” satu. Lagipula perceraian terjadi karena ketegaran hati mereka yang terlibat (Mat.19:8), bukan karena kehendak Tuhan.
Ketekadan kita untuk menjadi satu roh dengan Tuhan haruslah seperti sebuah benih yang ditanam di dalam tanah. Pernahkah kita melihat sebuah benih yang kita tanam berjalan kesana kemari keesokan harinya? Tentu tidak. Kita akan melihat benih yang kita tanam di suatu tempat pasti akan bertumbuh di tempat yang sama. Benih itu akan tetap tinggal di dalam tanah itu, tanpa peduli apapun kondisi yang dialaminya. “Tetapi benih kan tidak bisa memilih tempat dimana ia mau ditanam? Tetapi manusia kan bisa memilih.” Tidak salah. Kita bisa memilih untuk tidak taat kepada Fiman Tuhan, kita bisa memilih neraka, kita bisa memilih kematian, kita bisa memilih kemiskinan, kita bisa memilih untuk bercerai, kita bisa memilih kehidupan seks di luar nikah. Tetapi kita juga bisa memilih untuk taat kepada Fiman Tuhan, kita bisa memilih surga, kita bisa memilih kehidupan, kita bisa memilih ke-makmuran, kita bisa memilih untuk tidak bercerai tetapi rekonsiliasi, kita bisa memilih hanya berhubungan seks setelah menikah. Mengapa tidak memilih yang ini? Kita dan saya diberikan kehendak bebas, jadi gunakanlah dengan bijaksana. Tuhan Yesus menggambarkan kita sebagai ranting yang menempel di pokok anggur: Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.
Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FimanKu tinggaldi dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah BapaKu dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridKu. (Yoh. 15:1-8) Sebagai ranting, kita tidak perlu bekerja keras untuk menghasilkan apa-apa.
Akan tetapi supaya bisa hidup dan menghasilkan, kita sebaiknya menyerap segala sesuatu yang dikeluarkan oleh pokok anggur itu. Dengan menyerap segala Fiman yang keluar dari Yesus dan bertindak sesuai dengan Fiman, maka kita dijamin akan berhasil di dalam hidup (baca Yos. 1:8, Ul. 28:1,9,13). Dan dengan begitu Allah Bapa dipermuliakan dan seluruh dunia tahu bahwa kita adalah murid-murid Yesus, bukan cuma sekedar pemegang surat baptis atau sidi. Banyak orang yang mau pkitai berbahasa Inggris mengikuti kursus bahasa Inggris. Di sekolah bahasa itu, ia pasti mau mengikuti apa kata gurunya supaya ia dapat mahir ber-bahasa Inggris. Dengan kata lain, ia menyerap semua ajaran gurunya dan kemudian ia terapkan pengajaran itu sesering mungkin dalam kegiatan sehari-harinya. Misalnya, ia akan mulai mencoba menonton film bahasa Inggris tanpa membaca teks terjemahan. Kita pasti akan menganggap aneh, jika orang itu berharap gurunya yang akan menjawab soal ujian bahasa Inggris di sekolahnya. Tetapi ternyata hal ini tidak terlalu aneh bagi banyak orang Kristen, yang mengaku pengikut dan murid Yesus. Banyak orang bergabung menjadi orang Kristen lahir baru dan kemudian mengikuti kebaktian atau kelas Alkitab dimana Fiman diajarkan. Akan tetapi begitu ujian iman datang, banyak yang berdoa supaya Tuhan yang mengerjakan bagian yang seharusnya mereka kerjakan. Mereka akan meminta Tuhan melepaskan mereka dari kuasa kegelapan, padahal itu sudah dikerjakanNya (Kol. 1:13; Kol.2:20). Mereka memohon jika Tuhan mau mereka disembuhkan, padahal kesembuhan sudah tersedia (1 Ptr. 2:24).
Mereka merengek agar Tuhan mengangkat mereka dari kemiskinan dan memberi kekayaan, padahal Tuhan sudah mengurapi mereka untuk memperoleh kekayaan (Ul. 8:18; 2 Kor. 8:9).Saya ajak saudara untuk tidak menjadi orang Kristen yang aneh.
Kalau kita sudah mendengar Fiman Tuhan diajarkan, sebaiknya kita melatih untuk berlaku (termasuk berkata-kata) sesuai Fiman yang diajarkan supaya kita cepat fasih dalam bahasa imanmu yang baru. Jadi ketika “bertemu muka” dengan iblis yang bertopeng pencobaan, maka kita tahu persis apa yang harus dikatakan untuk mengalahkannya. Kalau berha-dapan dengan pencobaan baru buka Alkitab atau telepon pendeta, itu namanya terlambat. Sama saja dengan ketika diajak berbicara oleh orang asing, kita baru buka buku catatan pelajaran atau bertanya kepada guru bahasa nggrismu. Untuk menjadi satu dengan Tuhan memerlukan proses pembaharuan pikiran yang harus dengan rajin kita kerjakan, tanpa mengenal lelah. Meskipun situasi dan kondisi yang kita hadapi bertentangan dengan Fiman yang diajarkan, sebaiknya kita memilih untuk memegang teguh Fiman Tuhan. Mengapa? Karena injil, atau Fiman Tuhan, yang diajarkan adalah kekuat-an Tuhan (Rom. 1:17). Dan iman kita, yang timbul dari mendengar, dan mendengar Fiman mengalahkan dunia (Rom. 10:17; 1 Yoh. 5:4-5).
Fiman Tuhan tidak pernah gagal melakukan tugas yang diberikan (Yes. 55:11). Orang yang mengikatkan dirinya kepada Tuhan, yaitu percaya dan berlaku sesuai dengan FimanNya, menjadi satu roh dengan Dia. Tuhan tidak pernah gagal. Jika kita meng-ikatkan diri kepadaNya, kita tidak akan pernah gagal. Kalau kita menyibukkan diri untuk percaya dan berlaku sesuai dengan Fiman Tuhan, maka kita tidak akan punya waktu untuk percaya dan berlaku seperti yang dunia kerjakan (Rom. 12:2). Artinya, kalau dunia sibuk untuk menjadi miskin dan gagal, kita sibuk untuk menjadi kaya dan berhasil. Ketika dunia sibuk dengan wabah sakit menular, kita sibuk dengan kesembuhan dan kesehatan ilahi.
            Beberapa tahun yang lalu saya memutuskan untuk mengikatkan diri pada Tuhan dengan menyibukkan diri dengan hal-hal yang baik dan sempurna yang telah diberikan oleh Bapa kita (Yak. 1:17), dari pada sibuk mengejar hal-hal yang dicari mereka yang tidak mengenal Allah Bapa (Mat. 6:32). Terus terang, ada saat-saat dimana di depan saya terbuka banyak kesempatan untuk menjadi mundur dari iman saya dan kembali ke jalan yang ditawarkan dunia. Akan tetapi saya tidak mengambil kesempatan itu. Saya tidak rela untuk percaya bahwa kuasa roh yang ada di dunia lebih dahsyat dari pada kuasa Roh Tuhan yang ada di dalamku (1 Yoh. 4:4). Saya mengajak kita untuk mengeraskan hati terhadap ajakan iblis untuk menyerah kepada situasi dan kondisi. Saya anjurkan kita untuk menjadi bebal terhadap perkataan yang penuh ketidakpercayaan yang diajarkan melalui televisi, radio, majalah, email, SMS, bahkan dari mimbar gereja sekalipun.Kalau kita mau menjadi satu roh dengan Tuhan, kita perlu menawan semua pikiran yang menentangakan Fiman Tuhan dan menaklukkannya kepada pikiran Kristus (2 Kor. 10:3-5; 1 Kor. 2:16).


 1. Memikirkan pikirannya.
Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, dimana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi (Kol. 3:1-2). Kolose 3:1-2 di Alkitab New Living Translation mengatakan demikian, “Karena kamu telah dibangkitkan kepada kehidupan baru dengan Kristus, pkitanglah yang ada di sorga, dimana Kristus duduk di sebelah kanan Tuhan di tempat kemuliaan dan kuasa. Biarkan sorga memenuhi pikiranmu. Jangan hanya memikirkan hal-hal yang ada di bumi.” Apa yang ada di sorga? Yesus berdoa, ...jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga (Mat. 6:10). Semua yang baik dan sempurna datang dari Allah Bapa (Yak. 1:17), jadi berarti di sorga hanya ada yang baik dan sempurna. Kalau kita diajarkan untuk memkitang dan memikirkan perkara-perkara yang ada di atas—di sorga, dimana hanya ada yang baik dan sempurna—artinya kita memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji... (Filipi 4:8). Tuhan Yesus memperingati kita bahwa di dunia ini kita akan mengalami banyak penganiayaan, akan tetapi kita harus menguatkan hati sebab Dia sudah mengalahkan dunia (Yoh. 16:33). Bahkan Yakobus mengatakan, Saudara-saudara, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan (Yak. 1:2). Mengapa kita musti menganggap pencobaan sebagai suatu sukacita? Karena kita tahu bahwa ujian terhadap iman itu menghasilkan ketekunan yang akan membuat kita sempurna dan utuh dan tidak kekurangan suatu apapun (Yak. 1:3-4). Kalau kita mengalami pencobaan atau ujian terhadap imanmu, padahal kita telah memperbaharui pikiran senantiasa dan bertindak sesuai dengan Fiman Tuhan, sebaiknya kita meminta hikmat kepada Tuhan dalam iman (Yak. 1:5-7) agar kita dapat mengalami kemenangan atas pencobaan itu.
Sadarkah kita bahwa Alkitab diadakan dan Roh Kudus diberikan kepada kita agar supaya Tuhan dapat lebih mudah mengungkapkan isi hatiNya kepada kita? Alkitab tidak diadakan supaya kita menjadi bingung dan tidak pernah mengerti kehendak Tuhan. Tuhan tidak mengatakan kepada orang Kristen demikian: “Rasain kamu sekarang bingung membaca kitabKu. Silahkan baca sampai tua dan kamu tidak akan bisa mengerti apa mauKu.” Menggelikan bukan, pemikiran seperti itu. Dulu, sebelum saya lahir baru, saya memang berpendapat bahwa Alkitab memang bahasanya aneh dan tidak dimengerti. Semakin dibaca, semakin membingungkan.
Sementara Roma 10:17 bilang, Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Fiman Kristus. Iman, atau kepercayaan alias keyakinan, timbul karena mendengar Fiman diberitakan. Kita tidak bisa mempercayai sesuatu kalau kita bingung, bukan? Berarti sewaktu Fiman diberitakan dan menimbulkan iman, Roh Kudus bekerja di hati umatNya dengan memberikan kepastian dan keyakinan sehingga kita tidak bingung dan takut dan akibatnya iman bisa timbul. Manifestasi kuasa Roh akan bekerja sepenuhnya melalui kelima jawatan. Itu berarti pewahyuan mengenai kuasa Tuhan juga sedang dicurahkan secara besar-besaran oleh Roh Kudus kepada siapapun yang percaya dan mau menerima. Renungkan nubuatan itu dan minta Roh Kudus untuk menyingkapkan kepada kita secara pribadi arti dari nubuatan itu. Kemudian bawakan nubuatan itu di dalam doa kita kepada Tuhan dalam ucapan syukur: Bapa, dalam nama Yesus, aku mengucap syukur karena aku telah menerima tuntunanMu pada hari ini sehingga aku dapat menikmati kepenuhan manifestasi kuasaMu dalam roh, jiwa, dan tubuh.

2.Mengapa Harus Saling Mengasihi.
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi. (Yohanes 13:34)
Mungkin kita semua sudah sangat sering mendengar kotbah atau petuah bahwa orang Kristen wajib saling mengasihi (walaupun dalam prakteknya tidak sedikit orang yang gagal mengasihi). Bahkan kasih atau mengasihi-dikasihi telah dianggap semboyan khas, filosofi hidup atau hukum utama kekristenan (setidak-tidaknya dalam teori). Namun kita jujur, percakapan tentang kasih seringkali lebih menyangkut “apa yang seharusnya ada” (das sollen) dan bukan apa yang kenyataan memang ada (das sein). Kasih seringkali lebih merupakan cita-cita atau ide luhur yang ada dalam hati namun enggan diwujudkan dalam sikap dan perilaku.
Sebab itu mungkin ada baiknya kita bertanya: mengapa Yesus meminta kita murid-muridNya saling mengasihi? Apakah ada alasan yang cukup kuat sehingga kita kita memang harus saling mengasihi dalam hidup ini di dunia yang justru penuh dengan persaingan, tipu-daya, kekerasan dan kebencian ini?

Pertama: kasih membuat hidup kita penuh sukacita. (Yoh 14:11). Orang yang menemukan dan mengalami dirinya dikasihi tentu sangat bersukacita. Namun orang yang berhasil mengasihi akan lebih besar lagi sukacita dan kebahagiaannya. Di sini kita disadarkan bahwa sukacita sejati tidak pernah terletak dalam diri kita sendiri namun justru dalam relasi kita dengan orang lain. Orang-orang yang sangat egoistis, kikir dan serakah tidak pernah bisa bersukacita, namun selalu penuh dengan kemurungan dan kekecewaan. Sebaliknya orang-orang yang selalu perduli kepada sesamanya justru hidup bahagia.

Kedua: kasih mendorong kita mengenal dan memahami orang lain dengan mendalam (Filipi 1:9). Bila kita mengasihi seseorang maka mata, telinga dan hati kita terbuka untuk mengenalnya dengan baik sekali. Sebaliknya ketika kita tidak perduli atau malah membenci seseorang maka hati kita juga tertutup untuk mengenalnya. Paling-paling kita hanya dapat melihat keburukannya saja. Mengapa seorang ibu sangat mengenal dan tahu keberadaan anak-anaknya? Jawabnya: karena dia sangat mengasihinya.

Ketiga: kasih merupakan enerji yang sangat besar dan kuat untuk hidup. Selama masih ada orang yang mengasihi-dikasihi kita maka selalu ada alasan untuk bertahan dan meneruskan kehidupan. Sebaliknya bila tak ada lagi orang yang mengasihi atau kita kasihi maka itu berakhir juga alasan meneruskan kehidupan ini. Itulah sebabnya tidak ada orang yang memiliki kekasih yang mau bunuh diri. Di tengah kenyataan hidup yang penuh dengan masalah dan tantangan, kasih memberikan kita kekuatan untuk bertahan dan keluar dari berbagai krisis.

Keempat: kasih merupakan tanda bahwa kita anak-anak Allah. Bapa kita adalah kasih. Yesus mengasihi sampai kesudahan kasih (Yoh 13:1). Kasih merupakan tanda bahwa kita sudah lahir baru (1 Yoh 4:7). Orang yang tidak mengasihi tidak bisa mengatakan bahwa dia beriman kepada Allah. Mengapa? Sebab Allah mengasihi. Mereka yang beriman dan dekat kepadaNya juga pasti akan melakukan hal yang sama.
Doa:
Ya Yesus, ajarlah kami saling mengasihi. Penuhilah hati kami dengan kasihMu agar kami hidup penuh sukacita dan bahagia. Mampukanlah kami mencontoh Engkau dalam hidup kami. Biarlah nama Allah dipermuliakan melalui seluruh perkataan, perbuatan dan sikap hidup serta karya kami. Dalam namaMu. AMIN.


BAB IX
PENUTUP
10.1  Kesimpulan
Sebagai anak-anak Allah kita  harus mampu mencerminkan citra Allah dalam kehidupan masa kini, kita harus sungguh-sungguh memberikan teladan bagi orang-orang yang kurang/belum mengenal siapa itu mengenal Kristus. Sebagai ahli waris dari Kerajan Allah kita harus patuh dan taat terhadap ajarannya, untuk memberikan kesaksian pada dunia ini bahwa kita adalah anak-anak-Nya.
Dari penyusunan Karya Imiah ini dapat disimpulkan bahwa menjadi Orang Kristen Yang Taat Kepada Allah dan Firman Nya adalah sebagai berikut:
1.      Menjadi Orang Kristen yang benar-benar taat Kepada Allah Dan Firmannya merupakan suatu Proses yang  harus dilalui oleh setiap umat manusia untuk memperoleh kehidupan Kekal yang berasal dari Allah, yaitu yang meliputi, pengenalan akan Allah, memiliki Iman yang teguh dan tangguh, mengakui bahwa Yesus merupakan Juruslamat kita, hidup dalam bimbingan Roh Kudus dan selalu menjaga kekudusan itu agar kita layak memperoleh kehidupan kekal melalui putra tunggalnya, yaitu Yesus Kristus yang rela mati diatas Kayu Salib demi menebus umat manusia dari belenggu dosa dan maut.
2.      Keselamatan, Jalan Kebenaran, Sumber Air Hidup, hanya ada Dalam Kristus Yesus. 
3.      Ketaatan kepada Allah merupakan hal yang paling mendasar, dalam menjalin hubungan yang akrab dengan Allah, masalah yang kita temukan dalam kehidupan sehari-sehari kita dianjurkan sekali untuk “Saat teduh”. Karena ketaatan membawa kita ke tingkat yang lebih tinggi tentang pengenalan akan Allah.
4.      Orang Kristen yang mencerminkan citra Allah dengan sesungguhnya, seperti Yesus Kritus yang penuh, Kasih, Taat dan Rendah Hati demi menyelamatkan umatnya untuk memperoleh hidup yang kekal.
5.      Roh Kudus merupakan sumber Hikmat, penghibur, pemberi Kuasa, dan pemeterai kita dihadapan Allah yang merupakan tanda bukti bahwa kita adalah Anak Allah yang ditebus oleh “Kristus
10.2  Saran
Penulis sangat berterima kasih kepada Tuhan Allah semesta Alam Yang telah memberikan kesempatan kepada kita hidup yang kekal itu, oleh karena itu penulis sangat berharap kepada semua pembaca yang terkasih dalam Nama Tuhan Yesus Kristus untuk: 
1.      Setelah  membaca Karya Ilmiah Ini, saudara dapat menjadi orang yang taat, setia, takut dan dengan sepenuhnya memberikan hidup Anda kepada Kritus, agar Saudara mengetahui apa itu kebenaran yang sejati, bukan untuk menjadi seorang KTP (Kristen Tanpa Pertobatan) saja, melainkan Menjadi Kriten yang benar-benar sejati. Saudara tidak perlu lagi kuatir akan hidup saudara, karna kita selalu mengandalkan Tuhan didalam segala hal (action).
2.      Sebagai anak-anak Allah yang sejati, kita harus menjadi Terang dan Garam Dunia. Sebagai kristen yang sejati, kita harus bersikap seperti Kristus yang datang Untuk melayani bukan untuk dilayani. Kita harus melayani orang-orang yang belum mengenal penyelamat sejati, yaitu, Kristus. Saudara dan saya harus menjadi teladan dalam kehidupan dan melakanakanya dengan penuh kasih.



Terimakasih, semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua “IMANUEL”


DAFTAR PUSTAKA


Herijanto, Yohanes,(2001), Menjadi Pemenang, Yokyakarta: PBMR ANDI (Anggota IKAPI
Mason. M, Dorothe, (1998), Demikianlah Firman Tuhan,  Jakarta :Yayasan Pekabaran Injil “IMMANUEL.

Sinaga, Julfrinson, (2005),  Pertumbuhan Rohani yang Berkembang, Bandung.
http://www.reenbo.org/EHC/ehcfrse2.html
http://www.air hidup.com


Tidak ada komentar: